
"Iya deh iya. Pedas tapi dikit banget, okei?" bujuk Rian pada wanita pujaannya itu. Meskipun nantinya, ia akan memesan bakso tidak pedas untuk Alea.
"Okay deh, sip," sahut Alea dengan nada tak bersemangat.
Sembari menunggu Rian datang membawa bakso pesanannya, Alea menghabiskan waktu dengan merebahkan diri di atas sofa yang ada di dalam ruangannya.
Selain itu, ia juga memilih untuk membuka sosial media untuk sekedar menghibur diri dari penatnya dunia kerja.
Saat ia tengah asyik berselancar di sosial media, tiba-tiba ada nomor tak dikenal menelepon dirinya. Hanya saja, jika dilihat dari foto profilnya, orang itu nampak tidak asing bagi Alea.
Ia pun mengubah posisinya dari telentang menjadi duduk. "Rafi?" ucapnya penuh antusias saat melihat foto profil dari nomor itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rafi.
Dengan segera, Alea pun lekas mengangkat telepon dari pria yang masih sangat disayanginya itu. "Honey? How are you, Honey?" sapa Alea dengan nada yang begitu bersemangat. Sangat berbanding terbalik dengan saat ia berbicara pada Rian.
"Alea?" sahut Rafi dengan lirih. Suaranya nampak ragu-ragu. "Aku baik, kamu gimana?" Rafi berbalik tanya.
"I am not okay, Honey. Plis datang padaku sekarang. Aku mau kamu, hanya kamu, Honey," pinta Alea dengan nada cenderung memohon.
Wanita itu tidak membendung rasa rindunya pada Rafi. "Jangan diblokir lagi ya, nomorku. Aku sayang kamu, aku butuh kamu, Honey." Tak terasa, air mata Alea mulai menitik melewati pipi.
Namun, bukan menanggapi ucapan Alea, Rafi justru ingin membahas hal lain. "Alea, kamu hamil?" tanya Rafi dengan volume suara yang begitu pelan, pun dengan nada yang hati-hati. Takut ada orang di sekitarnya yang mendengar.
Alea menundukkan kepala sejenak, seolah kembali teringat dengan masalah yang harus dihadapinya sekarang. "Iya, it's okay, Honey. Tapi aku mau kamu balik sama aku." Alea terus meminta dan memohon pada Rafi agar mau kembali.
"Alea, sorry, aku gak bisa. Tapi, aku bakal tanggung jawab secara financial," tutur Rafi. Pria itu juga merasa bersalah atas semua kekhilafannya.
"Honey, plis. Jadikan aku yang kedua juga gak apa-apa. Asal aku bisa sama-sama kamu terus." Alea terus memohon. Perkataan Alea itu kemudian didengar oleh Rian yang sudah datang dengan membawa satu bungkus bakso.
Rian berhenti sejenak, ia ingin mendengar obrolan Alea bersama Rafi. Sudah jelas Rian tahu bahwa Alea sedang berbicara dengan sang sahabat itu. Dapat terdengar dari nama panggilan yang disematkan Alea pada orang di seberang telepon.
"Alea, itu namanya kamu menyiksa diri dan batin kamu. Kan ada Rian yang bisa jaga kamu sekarang. Dia sayang banget sama kamu," ungkap Rafi. Pria itu sangat berharap agar Alea bisa melupakan dirinya dan bisa membuka hati untuk Rian yang sudah mencintai Alea sejak bertahun-tahun lamanya.
"Honey," lirih Alea. Air matanya mengalir semakin deras. "Aku gak bisa ngelewatin semua ini kalau bukan sama kamu." Wanita itu meremas jari-jemarinya.
"Bisa, pasti bisa. Semangat ya, Alea. Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi begini," ucap Rafi dengan penuh penyesalan. Pria itu benar-benar menyesal karena telah berbuat sejauh itu dengan Alea. Terlebih, saat itu Rafi memberikan harapan-harapan yang ternyata tidak dapat ia realisasikan.
"Aku tutup dulu ya, Alea. Bye." Rafi pun memutus sambungan telepon itu meski Alea belum mengatakan iya.
Tangis Alea semakin pecah saat Rafi menutup telepon. Tangannya yang sudah mengepal, memukul-mukul lututnya.
"Alea, are you okay?" Rian datang setelah mengetahui obrolan antara Alea dan Rafi sudah terhenti. Ia berpura-pura tidak mendengar apapun yang dikatakan Alea kepada Rafi, meskipun sebenarnya ia mendengar semuanya.
Tidak mengaminkan permintaan Alea, Rian justru mendekap erat tubuh wanita itu. Lama sekali Rian mendekap Alea hingga wanita itu benar-benar merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu tuh gak sendiri. Jangan pernah merasa sendiri. Jangan mengemis-ngemis sama orang yang bahkan udah buang kamu. Kamu itu mahal. Jangan buat dirimu yang mahal ini diinjak-injak orang lain, ya." Rian menjelaskan panjang lebar.
Pria itu sungguh tidak tega melihat wanita yang teramat ia sayangi, terus-menerus mengemjs-ngemis pada laki-laki yang telah meninggalkan dirinya.
"Ta-tapi, Rian. Aku sa-sayang banget sama Rafi," ucap Alea lagi dan lagi dengan sesegukan. Tangisnya tak kunjung berhenti.
Rian masih tak henti memberi dekapan pada tubuh Alea. Sesekali ia mengelus-elus puncak kepala wanita itu.
Dalam lubuk hati Rian yang paling dalam, amarah pria itu mulai membara karena mengetahui Rafi kembali menghubungi Alea. Entah apa tujuan Rafi sebenarnya.
Padahal, dari jauh-jauh hari, Rian sudah mengatakan pada Rafi. Pria itu mengatakan bahwa jangan sampai Rafi menghubungi Alea lagi. Selain agar Raisa tidak cemburu, tetapi juga itu akan membuat Alea kembali berharap pada Rafi.
Rafi sudah mengiyakan saran dan nasehat dari Rian kala itu. Hanya saja, entah kenapa hari ini ia menghubungi Alea secara tiba-tiba.
"Dia bilang apa tadi, hm?" tanya Rian penasaran karena obrolan Rafi tadi tidak berhasil ia dengar. Rian hanya bisa mendengar ucapan Alea yang terus-menerus merengek, meminta, dan memohon agar Rafi kembali pada dirinya. Hingga akhirnya kemudian wanita itu pun menangis.
"Sa-sakit banget, Rian. Rafi ja-jahat banget," lirih Alea begitu pelan, masih dengan sesegukan. Wanita itu berusaha mengatur napas agar emosinya menjadi lebih baik.
Rian sudah melepas dekapannya. Tapi, ia terus menggenggam kedua tangan Alea. Ia menyenderkan kepala Alea tepat di pundaknya. Pria itu tak henti menenangkan Alea.
***
Sore harinya, Rian sudah selesai menggeluti pekerjaannya hari ini. Ia meregangkan otot-otot sejenak sebelum kemudian menghampiri Alea untuk mengantar wanita itu pulang.
Kali ini, Alea tidak menolak ajakan Rian untuk mengantarkan dirinya pulang. Wanita itu masih nampak mendung wajahnya. Rian berusaha memaklumi itu.
Saat mobil Rian sudah berhenti di depan kosan Alea, wanita itu tidak lupa mengucapkan terima kasih.
"Rian, makasih ya," ucap Alea seraya keluar dari dalam mobil.
"Sama-sama, Sayang. Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku, ya." Selalu seperti itu. Saat Rian hendak memisahkan diri dengan Alea, ia tidak lupa mewanti-wanti Alea agar segera menghubungi Rian jika terjadi apa-apa.
Setelah Alea mengiyakan dan hilang dari pandangan, Rian baru kembali menjalankan mobilnya. Sore ini, ia akan menghampiri Rafi untuk memberi peringatan.
"Bro, kita ketemu di kafe biasa sekarang," ajak Rian pada Rafi. Ia tahu bahwa pria itu masih dalam perjalanan pulang dari kerja.