
Pagi ini, mentari menanoakkan senyumnya dengan begitu lebar. Alea nampak begitu anggun dengan gaun putih berukuran longgar agar tak memperlihatkan bahwa perutnya sudah membuncit karena hamil.
Ia duduk tepat di samping Rian. Pria itu nampak gagah dan tampan dengan menggunakan pakaian rapi beserta jas hitam. Ada peci dengan warna senada yang menempel di puncak kepalanya.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya bapak penghulu pada beberapa orang yang menjadi saksi dalam akad nikah Rian dan Alea.
Pernikahan itu hanya diselenggarakan di kantor urusan agama dengan menghadirkan beberapa orang terdekat sebagai saksi, termasuk Rafi dan Raisa. Namun, kedua orang tua Rian tidak bisa datang karena terkendala urusan visa. Sedangkan orang tua Alea, sudah pasti tidak akan datang.
"Sah!!!" ucap para saksi secara bersamaan.
Rian lantas menatap tajam kedua mata Alea. Pun wanita itu seolah menautkan kedua bola matanya pada mata Rian. Mereka saling bertatap-tatapan. Setelahnya, ada bacaan doa yang kemudian mereka mengangkat tangan mereka.
Setelah Rian dan Alea sudah sah menjadi sepasang suami istri, Rian pun menitikkan air mata. Akhirnya, perjuangan yang ia lakukan selama ini membuahkan hasil. Memang, segala sesuatu tidak ada yang sia-sia.
"I love you, My husband," bisik Alea tepat di telinga sang suami.
"Love you too, My Wife," balas Rian dengan pelan, tepat di dekat telinga wanita itu.
***
Hari ini adalah hari ketiga setelah Alea dan Rian sah menjadi suami istri. Dan pada hari inilah, ia berpindah menuju rumah baru mereka. Sebelumnya, mereka tinggal di rumah orang tua Rian di mana Rian biasanya tinggal.
Sejak kemarin, Rian dan Alea sudah membawa barang-barang untuk keperluan di rumah barunya. Sekarang, mereka tinggal membawa baju-baju mereka, lalu nanti malam bisa mulai bermalam di rumah barunya.
"Huhhh, capek banget," ucap Alea yang langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk. Wanita itu kini menjadi mudah lelah karena usia kandungannya semakin bertambah.
Sementara itu, Rian masih sibuk meletakkan baju-baju dirinya dan sang istri ke dalam lemari.
"My Dearest, Mami udah punya tempat untuk bersandar sekarang. Mami sudah bahagia. Dan setelah kamu lahir nanti, kebahagiaan Mami akan semakin bertambah." Alea mengajak sang buah hati dalam perutnya berbicara.
"Semoga rejeki kita selalu dilancarkan ya, Sayang. Biar aku selalu bisa membuat kamu dan anak kita nanti bahagia terus," ucap Rian seraya mengarahkan pandangannya pada wajah Alea.
Meskipun Rian adalah anak dari orang kaya raya, tapi ia tidak pernah sedikit pun mengandalkan harta dari kedua orang tuanya.
Orang tua Rian selalu memberikan uang perbulan untuk dirinya, namun Rian memilih menolak karena ingin berusaha sendiri. Namun, setelah ia pikir-pikir lagi, sepertinya ia akan butuh modal dari orang tuanya.
Rian ingin mencoba menjalankan bisnis orang tuanya yang baru. Ia merasa, gaji dari kantor tempat ia bekerja tidaklah cukup jika untuk menghidupi anak dan istrinya nanti. Uang tabungannya juga sudah terkuras untuk membeli rumah baru.
"Hepefully, Ayang. Aku bakal doakan kamu terus," ucap Alea. Sekarang wajahnya tidak lagi mendung. Ia sudah memiliki suami sah.
"Mungkin inilah, kebahagiaan ku dimulai," lirih Alea dalam batin.
Kemarin, saat Rian meminta orang tuanya untuk datang menghadiri acara akad nikahnya dengan Alea, orang tuanya mengatakan bahwa mereka sama-sama berhalangan hadir.
Namun, orang tuanya akan memberikan ganjaran yaitu modal usaha dan bisnis barunya yang baru berjalan beberapa bulan. Dengan cepat, Rian mengiayakan. Sekarang, Rian tidak mau menolak apapun lagi karena itu demi kebaikan sang istri dan sang buah hati nanti.
"Yakin, Sayang. Makanya kamu doakan aku terus, ya," sahut Rian seraya terus memindahkan baju-baju Alea dari dalam koper menuju ke dalam lemari.
"Pasti, Ayang."
***
Saat ini, sudah tepat satu minggu sejak Alea dan Rian menikah. Alea kini tengah asyik membaca buku parenting di ruang tamu. Wanita itu mengenakan baju cukup ketat sehingga perutnya pun terlihat buncit.
Sementara itu, Rian sedang sibuk di ruang kerjanya untuk mengurus bisnis barunya yang diberi oleh sang papa.
Saat Alea tengah fokus membaca buku soal parenting, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Namun, karena Alea terlalu fokus, maka wanita itu tidak mendengar suara ketukan pintu dari tamu yang bertandang ke rumahnya itu.
Tamu itu pun lekas masuk ke dalam rumah Alea yang tidak terkunci. Tamu itu adalah Raisa dan Rafi. Mereka tidak membawa sang buah hati, bayi Rara diasuh oleh Bi Eni, pembantu andalannya.
Saat melihat Alea, mata Raisa langsung tertuju pada perut buncit wanita itu. Raisa pun membelalakkan mata. Alea baru saja menikah satu minggu yang lalu, tapi kenapa perutnya sudah sebuncit ini?
Dan buncit perutnya bukanlah terlihat buncit karena gendut. Melainkan memang gendut karena hamil.
"Alea?" panggil Raisa seraya menutup kedua mulutnya karena masih terlalu kaget.
Alea yang sedari tadi fokus membaca buku, kini mengarahkan pandangannya pada Raisa. Wanita itu benar-benar panik bukan main. "Ra-raisa? Kamu ke sini?" tanya Alea berbasa-basi berniat ingin membuka obrolan agar Raisa tidak terpaku pada perutnya.
"Alea, kamu hamil? Berapa bulan?" tanya Raisa masih dengan mulut yang melongo. Tangannya sejenak mengusap perut buncit Alea.
Alea menelan salivanya. Ia tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Sementara itu, Rafi hanya bisa menunduk. Ia sama sekali tidak berani berkata apa-apa. Pun bersikap apa-apa.
Sesuai dengan perintah Rian, tugas pria itu adalah membahagiakan Raisa. Ia sama sekali tidka boleh membuat adik Rian itu kecewa lagi dengan dirinya.
"Emm... ini... Emm." Alea kebingungan, ia tidak bisa menjelaskan. Mulutnya seolah terkunci rapat-rapat.
"Bang Rian udah menghamili kamu duluan, Alea? Aku gak nyangka sama Bang Rian ternyata begitu," tanya Raisa dengan masih tak henti terheran-heran.
Karena yang ia tahu, sang kakak bukanlah tipe orang yang seperti itu. Saat menyukai seorang wanita, Rian akan menjaga wanita itu seperti menjaga permata.
Tapi, ternyata sang kakak bisa berbuat seperti ini juga. Ia beranggapan bahwa Rian lah yang menghamili Alea. Padahal kalau ia tahu yang menghamili Alea adalah Rafi, sudah pasti wanita itu pingsan di tempat.
Alea tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Berapa bulan, Alea?" tanya Raisa dengan penuh penasaran. "Kenapa kamu gak cerita selama ini? Kenapa?"
"Gak apa-apa, Sa. Aku gak apa-apa kok. Jangan marahin Abangmu. Dia baik banget sama aku. Kamu jangan marahin dia, ya," pesan Alea pada Raisa. Karena Rian memang tidak bersalah sama sekali. Yang salah adalah Rafi.