
Hari telah berganti. Mentari pagi mulai menampakkan wajahnya dari ufuk timur. Bayi Rara masih pulas dalam tidurnya. Bayi kecil itu memang baru tidur pukul tiga dini hari tadi.
Sementara itu, Raisa sudah terbangun pukul setengah enam. Semalam, ia tidur lima menit setelah bayi Rara tertidur pulas.
Sekarang, Raisa tengah menyiapkan bekal untuk sang suami tercinta. Bersama pembantu satu-satunya, ia bekerja sama. Hari ini, ia membuat bekal nasi dengan sayur capcai yang dicampur bakso. Selain itu, lauknya, ia membuat ayam goreng.
Setelah semua siap, ia beranjak menuju ke dalak kamar. Sang suami belum bangun tidur saat jam sudah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh.
"Sayang, bangun. Udah setengah tujuh ini," ujar Raisa saat masuk ke dalam kamar.
Ia menyiapkan baju untuk Rafi, seraya terus membangunkan sang suami itu. "Sayang, bangun dong," ucap Raisa seraya meraih satu setel celana dan hem berwarna mocca.
Kemudian, wanita itu baru mendekat pada sang suami. Sesekali ia melirik sang buah hati yang tertidur pulas di box bayi yang ada di kamar itu.
"Sayang?" panggil Raisa lagi dan lagi. Ia menepuk-nepuk pelan pundak sang suami tercinta. "Bangun, Sayang. Udah jam segini, loh. Nanti telat kamu."
Raisa masih terus mencoba membangunkan laki-laki yang paling ia sayangi itu. Setidaknya pukul tujuh kurang seperempat nanti, ia sudah harus berangkat menuju kantor barunya.
Jarak antara rumahnya dengan kantor baru terbilang cukup jauh, memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Tapi, itu tidak menjadi masalah untuknya, jika itu adalah satu-satunya cara agar dirinya tidak lagi bertemu Alea.
Rafi nampak menggeliat setelah berkali-kali dibangunkan oleh sang istri tersayang. Kedua matanya mulai ia buka.
"Udah jam berapa?" tanya Rafi dengan suara yang masih serak. Suara khas orang baru bangun tidur. Wajahnya pun masih berwajah bantal.
"Jam setengah tujuh, Sayang. Bangun dulu, ya. Duduk dulu aja lima menit. Baru habis itu mandi," ujar Raisa dengan penuh tenang dan telaten.
Wanita pilihan Rafi itu memang sudah sangat keibuan. Pembawaannya selalu tenang dan penuh wibawa sebagai seorang wanita.
"Iya, Sayang. Makasih, ya." Rafi pun menuruti nasehat dari sang istri.
Selama lima menit, pria itu menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang untuk sekedar kembali mengumpulkan nyawa dan tenaga. Sementara itu, Raisa nampao sedang memperhatikan bayi Rara.
Wanita itu mendekat pada box bayi yang tak jauh dari ranjang Rafi dan Raisa. "Utututu Sayangku belum bangun, ya?" Raisa seolah sedang mengajak bayi Rara untuk berbicara, meskipun bayi kecil itu masih memejamkan kedua mata.
"Udah bangun," sahut Rafi dengan kondisi yang masih setengah sadar dari tidur.
"Maksud aku sayang yang ini, dedek Rara, bukan sayang kamu," ucap Raisa seraya terkekeh. Wanita itu terlihat begitu bahagia dan berbunga-bunga hatinya semenjak melahirkan.
Rafi pun ikut terkekeh. Setelah itu, ia lantas meraih handuk untuk kemudian pergi mandi ke kamar mandi.
Sementara itu, di tempat lain, di kosan Alea. Wanita itu nampak terkapar lemas seorang diri di dalam kamarnya.
Badannya benar-benar lemas, ia tidak bisa bangkit sama sekali. Kepalanya pusing dan berat. Bahkan, untuk sekedar memeriksa jam saja wanita itu rasanya tidak sanggup.
Samar-samar, ia melihat jam dinding yang menggantung di tembok. Jam itu menunjukkan pukul 08.15. Seharusnya, pada jam segini, ia sudah berada di kantor untuk bekerja.
Tapi, kali ini tidak bisa. Ia benar-benar tidak sanggup untuk bekerja. Jangankan bekerja, untuk mengangkat kepalanya saja terasa begitu berat.
Dengan kepala yang teramat sakit, ia membuka ponsel untuk menghubungi atasan di kantor. Ia harus izin bahwa untuk hari ini tidak bisa berangkat karena sakit.
Setelah izin absen bekerja untuk hari ini, ia kembali merebahkan tubuhnya pada kasur yang empuk. Pandangannya berkunang-kunang karena sakit kepala.
Pada pagi buta tadi, ia sudah memuntahkan seluruh makanan dalam perut. Wanita itu muntah banyak sekali hingga terkapar lemas seperti ini.
Dan sekarang, saat wanita itu baru saja merebahkan diri, tiba-tiba perutnya kembali mual. Lagi-lagi, ia ingin muntah. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Alea. Ia juga tidak mengerti.
"Aku kenapa sih, Tuhan?" keluh Alea pada diri sendiri. Tidak ada siapa-siapa yang mampu mendengar keluhannya itu.
Pada saat-saat seperti ini, ia seolah membutuhkan sosok yang benar-benar ada dan tulus untuknya. Terlebih, akhir-akhir ini, ia sedang sangat merindukan sosok Rafi. Tapi, di sisi lain, wanita itu merasa dikhianati karena Rafi tiba-tiba menghilang.
"Hoekkk." Alea muntah banyak sekali. Kali ini, ia tidak lagi memuntahkan makanan, melainkan hanya cairan karena dalam perutnya, makanannya sudah habis dimuntahkan sebelumnya.
"Tuhan, aku kenapa, Tuhan?" Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya sendiri. "Apa ini hukuman buat aku karena sudah merebut Rafi dari Raisa?"
Wanita itu terus menebak-nebak. Tak terasa, air matanya sudah menetes mengalir pada pipi.
Alea berkumur-kumur setelah memuntahkan semuanya di wastafel. Sesekali, ia membasuh muka, berharap rasa lemas dan sakit kepalanya dapat sirna seketika.
Wanita itu memandang wajahnya sendiri melalui pantulan cermin yang ada di atas wastafel. "Rafi, kamu ke mana? Aku kangen banget sama kamu, Honey," lirihnya pada diri sendiri.
Ia sangat membutuhkan sosok orang yang disayang sekarang. Ia ingin dimanjakan, ingin diperhatikan, ingin dipedulikan. Alea jadi ingat saat-saat dirinya dan Rafi masih bersama, terlebih saat di puncak.
Saat itu, kakinya terluka karena jatuh tergelincir di kebun teh. Rafi dengan sigap dan telaten merawat Alea dengan sepenuh hati. Tidak ada yang lebih indah daripada waktu itu.
Alea mengukir senyum saat mengingat semua momen yang membahagiakan bersama Rafi. Tapi, kemudian senyumnya menjadu getir saat menyadari bahwa Rafi sudah tidak peduli dengannya lagi.
Wanita itu membasuh wajahnya satu kali lagi, sebelum kemudian berusaha kembali menuju ranjang. Ia berpegangan pada dinding-dinding agar tidak terjatuh.
***
Saat raja siang sudah hadir membakar apa-apa yang ada di bawahnya, Rian nampak begitu cemas karena berlebihan memikirkan sesuatu.
Waktu istirahat sudah tiba sejak sepuluh menit yang lalu, tapi ia tidak mendapati batang hidung Alea sejak saat itu.
"Lihat Alea gak?" Pria itu mencoba bertanya pada teman yang satu ruangan dengan Alea.
"Oh, dia gak berangkat hari ini. Lagi sakit," ungkap seorang teman Alea, membuat kecemasan Rian semakin memuncak.
"Ya udah makasih ya," ucap Rian dengan penuh kegetiran.
Rian pun beranjak kembali ke dalam ruangannya. Ia tidak sempat makan, bahkan pria itu tidak memikirkan untuk makan siang. Ia ingin memastikan keadaan Alea terlebih dahulu.
"Alea, ayo dong angkat," gerutunya pada diri sendiri.
Sudah tiga kali ia berusaha menghubungi Alea, namun tak diangkat sama sekali. Rian menjadi curiga, Alea mungkin sakit karena terlalu patah hati ditinggalkan Rafi.