Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 16


"Tapi, Rian." Alea mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk menangapi ungkapan sahabat laki-lakinya itu. "Tidak semudah itu," lirih Alea. 


"Memang tidak ada yang mudah Alea. Sama seperti kalau kamu meninggalkan Rafi. Memang tidak mudah, tapi itu yang terbaik buat kamu, Rafi, Raisa, dan kita semua." Rian mulai berbicara dengan nada yang meninggi. Emosinya tidak dapat dibendung lagi. 


"Astaga, Rian." Alea seolah kaget karena tidak pernah mendengar Rian berbicara sekeras itu sebelumnya. "It's okay. Aku tahu aku salah. Tapi, aku juga gak tahu, Rian. Aku juga sebenarnya gak mau kaya gini," tegas Alea dengan nada yang tak kalah tinggi. 


Air mata wanita itu mulai menitik, turun melewati pipi. "Aku emang gak pantas jadi cewek. Kamu boleh bilang aku cewek gak benar, pelakor, atau apapun. Tapi, kalai kamu nyuruh aku pergi dari Rafi, itu gak bisa, Rian. Benar-benar aku gak bisa."


Sekarang air mata Alea sudah tumpah ke mana-mana. Ia tidak bisa membendung rasa bersalahnya yang begitu besar pada Raisa. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak bisa membendung rasa cintanya pada Rafi. 


Rian terdiam, seolah tidak tega mendengar Alea yang seperti ini. Wanita itu sekarang sudha menangis sejadi-jadinya hingga sesegukan. 


"Maaf, Alea. Aku cuma mau yang terbaik buat kamu," lirih Rian pada akhirnya. Ia tidak bisa berbicara dengan nada yang lebih tinggi lagi. Ia tidak sanggup melakukan itu pada satu-satunya wanita yang ia cintai selama lima tahun terakhir ini. 


"Maaf juga telah merebut Rafi dari adikmu," ucap Alea dengan masih sesenggukan. "Aku benar-benar gak tahu, Rian."


"Aku juga minta maaf karena gak bisa membalas perasaanmu sama aku. Andai kamu mengungkapkan semua ini lima tahun lalu, pasti aku akan menerima kamu. Saat itu, satu tahun sebelum aku menyukai Rafi." Alea terus memaparkan dengan panjang lebar, walau dengan sedikit terbata-bata dan sesenggukan. 


Rian nampak sedang mengepalkan tangan kanannya. Dalam hatinya dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam karena terlalu lama memendam perasaannya pada Alea. 


Selama ini, pria itu berpikir kalau mengungkapkan perasaannya pada Alea, itu akan menghancurkan persahabatan mereka. Dan sekarang, ia sudah mengungkapkannya. Mungkin saja memang benar, sebentat lagi persahabatannya dengan Alea dan Rafi akan hancur seketika karena masalah ini. 


Air mata Rian mulai menitik karena terlalu menyesal dengan keputusan yang ia lakukan. 


"Aku pengin sama Rafi, Rian. Aku gak bisa sama kamu, maaf. Kamu tau kan beratnya melupakan orang yang sudah kita cintai selama bertahun-tahun?" Alea terus berbicara, sementara Rian hanya bisa mendengarkan semua perkataan yang keluar dari bibir Alea. 


"Aku mohon, Rian. Please kamu yang lupain aku, jangan aku yang lupain Rafi. Aku benar-benar gak bisa," tambah Alea seraya berusaha menghapus air matanya yang telah membanjiri pipi. 


Tidak lama setelah itu, Rafi datang dengan membawa plastik berisi dua porsi bakso. Lantas wajahnya mulai panik karena melihat wajah Alea yang sudah semrawut. 


"Hei, kenapa, Sayang? Kamu kenapa? Ada apa?" Rafi menghujani Alea dengan berbagai pertanyaan karena terlalu panik. Ia memegang kedua pipi Alea, air mata Alea semakin tumpah. 


Rian yang berada di tempat berbeda menundukkan kepala saat mendengar Rafi begitu perhatian dengan wanita yang selama lima tahun ini begitu dicintainya. Pria itu merutuki dirinya sendiri karena terlalu bodoh. Seharusnya ia tidak memendam perasaan selama ini. Sekarang semuanya sudah telat. 


"Sini peluk dulu, baru nanti cerita." Lantas Rafi pun memeluk Alea dengan begitu tulusnya. Ia tidak tahu bahwa Alea sedang berkomunikasi dengan Rian pada sambungan telepon. 


Rian yang mendengar itu pun langsung menutup sambungan telepon itu. Ia tidak sanggup melihat keromantisan Alea dan Rafi. Kini ia sudah bertekad untuk melupakan Alea, walau sudah pasti berat. 


Sementara itu, Rafi terus menghapus air mata Alea yang masih membanjiri pipi. "Ada apa, Sayang? Coba cerita."


Rafi menelan salivanya. Tanpa berkata-kata ia lantas merebut ponsel Alea dari genggaman wanita itu. Ia lantas segera mengetik sesuatu dengan menampakkan wajah yang begitu serius. 


[Aku dan Alea gak bakal pisah. Kalau kamu mau cerita semua ini sama Raisa, silakan. Aku siap cerai dari adik kamu]


Barisan pesan itu, Rafi kirim pada Rian dengan menggunakan nomor Alea. Setelah itu, ia langsung mematikan ponsel itu. Tidak ada lagi yang boleh mengganggu hubungannya dengan Alea. 


"Sayang, kamu tenang aja, ya. Semuanya udah beres," ucap Rafi seraya merengkuh erat tubuh Alea. 


Alea membalas pelukan itu. Sesekali Rafi mengusap-usap punggung Alea agar wanita itu semakin tenang. 


***


Malam harinya, Rian dengan menampakkan wajah yang serius tengah mengendarai mobil dengan begitu kencang. Saat ada mobil-mobil lain yang menghalangi jalannya, ia bukan menekan rem, melainkan menekan klakson. 


Selang beberapa menit kemudian, ia memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Raisa. Ia keluar dari mobil dengan pandangan yang masih serius, sorot matanya sangat tajam. 


"Abang?" sapa Raisa seperti biasa saat Rian masuk ke dalam rumahnya. Pria itu masuk ke dalam rumah Raisa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. 


Raisa menjadi takut setelah melihat sorot mata tajam Rian yang tak seperti biasanya. Raisa sebagai adik Rian bahkan hampir tidak pernah melihat ekspresi wajah sang kakak yang seperti ini. 


"Abang? Ada apa?" tanya Raisa lagi dengan suara yang begitu pelan. 


Rian duduk di ruang tamu. Sorot matanya masih seperti semula. Ia mengepalkan kedua tangan. 


"Kamu siap-siap, kita urus perceraian kamu sama Rafi sekarang juga," ucap Rian dengan berat hati. Ia tidak sanggup mengatakan itu, tapi semua demi kebaikan sang adik tercinta. 


Mendengar permintaan sang kakak itu, membuat Raisa menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Apa maksudnya, Bang? Kenapa Abang tiba-tiba bilang gitu?" tanya Raisa yang masih tak habis pikir dengan perkataan sang kakak. 


"Dia udah selingkuh sama cewek lain. Udah, kamu nurut aja sama Abang. Masih ada aku, mama, dan papa yang selalu menerima kamu seutuhnya. Kamu jangan pernah merasa sendiri," sahut Rian seraya menatap tajam mata Raisa. 


Raisa tidak bisa berkata-kata, pun tidak bisa menahan air matanya. "Se-selingkuh?" lirih Raisa. 


"Iya, Raisa. Dia selingkuh sama Alea. Jadi, lebih baik kamu cerai sama dia. Kamu gak layak sama dia." Rian dapat merasakan betapa sakitnya hati Raisa, sama sakitnya seperti hatinya sendiri. Bahkan mungkin jauh lebih sakit. 


"Aku gak mau, Abaang. Aku hamil anak dia, aku sayang dia. Aku gak mau pisah," tegas Raisa dengan nada yang tinggi. Seketika ia merasa begitu depresi.