
Kini ponsel Alea sudah ada di tangan Rafi. Pria itu terpaksa harus menerima panggilan dari Rian karena Alea sudah terlanjur mengangkat telepon itu. Sejenak, Rafi menstabilkan detak jantungnya sebelum menyapa kakak iparnya.
"Halo?" sapa Rafi pada Rian terlebih dahulu, sesekali pria itu menelan salivanya.
"Halo, Bro," sahut Rian yang terdengar di ujung telepon. "Ehm." Sejenak pria itu berdeham.
"Ada apa, nih?" tanya Rafi langsung pada poinnya. Jadi, sebenarnya apa tujuan Rian untuk menelepon dirinya?
"Lagi di mana sama Alea?" tanya Rian akhirnya langsung pada poinnya.
Rafi menelan salivanya berkali-kali. "Di puncak," singkat pria itu. Ia hanya menyahuti seperlunya.
"Pulang kapan? Nongkrong yuk," ajak Rian dengan nada yang santai. Pria itu memang tidak suka kekerasan.
Walaupun dalam hatinya berkecamuk, melihat adik kandungnya dikhianati sang suami, ditambah wanita yang ia suka selama beberapa tahun terakhir ini bermesraan dengan pria lain. Apalagi sampai menginap berdua, di tempat yang jauh pula.
"Besok kayaknya." Rafi menjawab pertanyaan sang kakak ipar dengan tidak jujur. Padahal, rencana awal mereka menginal di vila itu adalah sekitar satu minggu. Sementara hari ini, baru hari ke tiga mereka ada di sana.
Mendengar jawaban Rafi yang tak sesuai apa yang dikatakan dengan dirinya sebelumnya. Alea pun Membelalakkan mata ke arah Rafi.
"Yakin ya, besok?" Rian sedikit memastikan. "Kalau begitu lusa malam kita nongkrong di tempat biasa."
"Iya," ucap Rafi mengiyakan agar segera selesai obrolan itu.
"Ya udah, see you lusa malam, Bro," ucap Rian seraya hendak menutup sambungan telepon itu. "Btw aku suka Alea," ucap Rian dengan suara yang rendah agar tidak terdengar oleh Alea.
Rafi seolah langsung tidak terima mendengar perkataan Rian itu. Ia ingin Alea hanya jadi miliknya. Meskipun Rafi sudah mempunyai istri, tapi ia sama sekali tidak ingin melihat Alea dicintai oleh orang lain selain dirinya. Ia hanya ingin dirinya yang bersama Alea.
Saat Rafi tak bisa berucap apa-apa, Rian menutup sambungan telepon itu. Wajahnya menunjukan mimik yang tidak bahagia. Ia merasa sekarang sudah memiliki saingan. Kebebasannya untuk bersama dengan Alea bisa terancam.
"Kenapa wajahnya kaya gitu?" tanya Alea penasaran pada Rafi. Suara telepon tadi tidak diatur loudspeaker sehingga Alea tidak mampu mendengar obrolan mereka.
"Hah?" Rafi terkejut, pria itu menunjukkan wajah yang sangat panik. "Enggak. Gak apa-apa, kok," ucap pria itu berusaha menutupo fakta yang telah dikatakan sang sahabat di telepon tadi.
"Masa sih, Honey?" goda Alea seraya mencubit pipi sebelah kanan Rafi.
"Iya, Sayang," jawab Rafi dengan mimik wajah yang seolah sedang memikirkan sesuatu dengan seksama. "Omong-omong, Rian pernah ngomong serius gak sama kamu?" tanya pria itu penasaran.
Ia penasaran apakah Alea sudah mengetahui bahwa Rian menyukainya atau belum. Besar harapannya, Alea belum mengetahui dan bahkan tidak perlu mengetahui hal itu.
"Mmm," Alea nampak berpikir keras, mengingat-ingat apa saja obrolan antara dirinya dengan Rian sebelumnya. "Pernah sih, kemarin-kemarin," ucapnya yang sudah berhasil mengingat suatu momen dirinya dan Rian mengobrol serius.
"Serius?" tanya Rafi seraya membelalakkan kedua mata. "Ngomong apa emangnya?" Ia semakin penasaran.
"Iya, serius. Waktu itu sih ngomongin soal hubungan kita," jelas Alea seraya mengulas senyum.
Rafi yang mendengar ungkapan Alea itupun dapat bernapas lebih lega. Sepertinya Alea memang tidak diberi tahu oleh Rian jika dirinya menyukai wanita yang sedang ada di sebelah Rafi ini.
Usai menikmati makan siang, mereka sebenarnya akan mengunjungi satu tempat wisata lagi. Tapi, karena Alea sudah kelelahan dan mengantuk, ditambah masih ada hari esok untuk mereka di sini, Alea dan Rafi pun memutuskan untuk kembali ke vila terlebih dahulu.
Di mobil, saat Alea dan Rafi dalam perjalanan menuju vila, tiba-tiba ponsel Rafi berdering. Rafi yang sedang fokus menyetir, meminta Alea untuk memeriksa itu telepon dari siapa.
"Siapa?" tanya Rafi penasaran, walau sebenarnya ia tahu yang menghubungi dirinya adalah Raisa. Ia paham betul sang istri mencemaskan dirinya.
"Your wife," lirih Alea. Ia nampak seolah ogah-ogahan setelah melihat nama wife dengan emoticon love di layar ponsel Rafi. Nama itu adalah nama kontak untuk Raisa.
"Ya udah biarin aja, gak usah diangkat," sahut Rafi enteng. Ia sedang malas berbicara dengan sang istri itu. Ia menganggap Raisa telah mengganggu waktu kebersamaan Rafi dan Alea. "Ganggu aja, iya kan?"
Alea mengangguk-angguk. "Heem. Matikan aja HP-nya, " saran Alea yang langsung ia lakukan, walau Rafi belum mengiyakan.
Wanita itu nampak menyilangkan kedua tangan. "Ngapain sih namanya so sweet banget," protesnya. Ia tidak terima Raisa diberi nama spesial di ponselnya, sedangkan nama dirinya hanya Alea, tidak ada emoticon hati pula.
"Emang namanya siapa, Sayang?" tanya Rafi penasaran. Ia bahkan tidak begitu memperhatikan nama sang istri di dalam ponselnya.
"Wife, pake emoticon love segala," protes Alea lagi. "Namaku aja gak dikasih emoticon love."
"Oh, itu sih Raisa sendiri yang kasih nama, Sayang." Rafi memberi penjelasan, tangan kirinya berusaha meraih tangan kiri Alea.
Awalnya Alea menolak itu, tapi lama-lama wanita itu memberikan tangannya untuk digenggam Rafi.
"Yang bener?" tanya Alea meyakinkan. Kerua matanya menyipit ke arah Rafi.
"Bener, Sayang." Rafi pun berhasil meluluhkan hati Alea kembali.
Mereka berdua memutuskan untuk sama-sama mematikan ponsel mereka masing-masing karena mereka terganggu dengan telepon yang masuk.
"Ya udah HP-nya matikan aja, Honey," saran Rafi.
Alea yang memegang dua ponsel miliknya dan milik Rafi pun menuruti saran dari Rafi. "Oh iya, Okay, Honey."
Mereka pun melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya tiba di vila. Sesampainya di vila, Alea langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Rafi pun menyusulnya. Pria itu seolah tidak sabar untuk kembali menyalurkan hasratnya pada Alea. Tapi, karena tahu Alea sedang kelahan, ia pun mengurungkan niatnya.
Tidak lama setelah Alea merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk, wanita itupun tertidur. Sementara itu, Rafi tidak tidur karena tidak mengantuk. Tidur siang adalah bukan kebiasaannya. Bahkan, ia tahan untuk begadang hingga pagi.
Berhubung Alea sedang tidur, kesempatan itu digunakan Rafi untuk menghubungi Raisa. Bagaimana pun juga, wanita itu adalah istrinya. Ia harus mengabari Raisa agar tidak curiga pada dirinya.
"Halo, Sayang?" sapa Rafi yang begitu manis saat panggilan teleponnya diangkat oleh Raisa.
"Hai, Sayangku. Kamu lagi apa? Aku lagi ngupas buah, nih," papar Raisa seketika. Ia sangat rindu dengan sang suami. Ingin rasanya menceritakan apa yang ia rasakan pada sang suami itu.
"Lagi istirahat ini, tadi siang belum istirahat," ucap Rafi penuh kebohongan.