Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 28


Alea membuka ponselnya, berharap ada kabar dari pria yang masih sangat ia cintai. Tapi, kenyataannya justru berbanding terbalik. Tidak ada pesan ataupun riwayat panggilan telepon dari Rafi. 


"Rafi, kamu jahat banget sih," liriknya seraya terus menitikkan air mata. 


Sesekali ia menyeka tiap titik-titik air mata yang hendak keluar. Tapi, tetap saja kedua pipi ranum Alea basah kuyup karena air mata yang mengalir deras. Wanita itu pun kembali meletakkan ponselnya di atas meja. 


Ia menutup kedua matanya menggunakan tangan. Rasa sakit itu teramat sangat, tidak bisa dibendung oleh Raisa. Wanita itu tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Hatinya benar-benar runtuh beberapa hari terakhir ini. 


Tidak lama kemudian, datang seorang laki-laki berwajah hitam manis, pria itu menghampiri Alea yang tak henti menangis. 


"Alea," sapa pria itu dengan suara yang berat. Ada cokelat yang sudah diberi pita, dalam genggaman tangannya. 


Alea yang sedari tadi menutup matanya, kini mulai menyingkirkan kedua tangan dari wajahnya. "Rian," sahut Alea. Ia lantas membersihkan sisa-sisa air mata menggunakan tissu yang sudah tersedia. 


"Kamu sejak kapan di sini?" tanya Alea seraya masih terus mencoba menghapus air mata. 


"Baru aja tiba." Rian mulai duduk di hadapan Alea. Cokelat yang ia bawa pun ia sodorkan pada wanita yang masih sangat dicintainya itu. "Ini makan cokelat dulu. Biar tenang dikit."


"Thanks," ucap Alea singkat. Lantas ia buka cokelat berukuran cukup besar itu, cukup membuat perutnya kenyang jika memang wanita itu mampu menghabiskan. 


Cokelat itu lantas dimakan Alea keping demi keping tanpa berbicara meskipun ada Rian di sana. Pria itu juga enggan mengajak Alea berbicara lebih dulu karena ia paham bahwa Alea masih butuh waktu. 


Alea terus memakan keping demi keping cokelat itu dengan masih sedikit sesenggukan. Hatinya belum pulih sebenarnya. Hanya saja, cokelat ini mampu berperan sebagai penawar luka, walau memang tidak seberapa. 


Rian meletakkan kedua sikunya dengan menyilang di atas meja. "Mau es krim gak?" Ia menawari Alea es krim karena setahu Rian, Alea membutuhkan sesuatu yang manis seperti coklat dan es krim saat merasa sedih. 


Tanpa Alea bercerita, Rian sudah tahu bahwa wanita itu memang sedang sedih karena terlihat usai menangis tadi. 


Alea mengangguk cepat, masih dengan mengarahkan keping-keping cokelat ke dalam mulutnya. 


Bergegas Rian pun membelikan es krim di coffe shop itu. Karena memang sudah tahu selera Alea, Rian pun langsung memilih es krim rasa cokelat dengan toping kacang almond di atasnya. 


Cokelat itu sisa sepertiga dari jumlah secara utuh. Alea sama sekali tidak merasa kenyang kalau sedang seperti ini. Ia ingin makan lebih banyak lagi. 


Tidak lama kemudian, Rian kembali dengan membawa es krim yang telah dibeli. Alea mengarahkan pandangannya pada es krim itu. 


"Nih, makan dulu. Habiskan, ya," ujar Rian seraya memberikan es krim itu. 


"Cuma satu?" tanya Alea dengan wajah yang sangat polos. Air matanya sudah mulai terhenti. 


"Iya satu dulu. Nanti kalau kurang aku belikan lagi," sahut Rian dengan pembawaan yang begitu tenang. Matanya tak henti memandang wajah ayu Alea. 


Setelah Alea menghabiskan es krim dan cokelat itu, Rian baru berani membuka obrolan pada wanita itu. "Jadi, kamu kenapa? Tadi kok menangis?" tanya Rian dengan nada yang begitu pelan dan adem. 


"Aku tuh bingung." Lagi-lagi ucapannya terpotong karena tidak sanggup berbicara. Rian terus memandang wajah indah wanita itu, sama sekali ia tidak memotong perkataan Alea. 


"Aku tuh bingung Rafi ke mana." Kini air mata Alea pun pecah seketika. "Dia gak ada kabar sudah berhari-hari. 


Wanita itu kembali meraih tissu karena air matanya sudah mulai berucuuran lagi. " Dia ke mana sih, Rian?" 


Rian berdeham sejenak. "Ehm." Pria itu seolah sedang mempersiapkan diri dan juga kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya. 


Bahwa Alea sudah tidak bisa lagi bersama-sama dengan Rafi. Bahwa Rafi sudah bertaubat untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Bahwa Rafi sudah mencintai Raisa dan berjanhi tidak akan meninggalkan istrinya itu lagi. 


"Dia sudah baikan sama Raisa," ucap Rian pada akhirnya, membuat Alea menangis sejadi-jadinya. 


"Serius, Rian?" tanya Alea dengan masih menangis. Suaranya juga masih sangat serak karena tangisannya. "Jahat banget." Wanita itu kembali menutup matanya dengan kedua tangan. Tidak sanggup menerima kenyataan ini. 


"Serius, Alea. Dia udah gak sayang kamu. Dia udah sayang Raisa dan anaknya sekarang. Anaknya sudah lahir, Rafi yang menemani proses persalinan Raisa. Kayaknya dia juga sudah sadar bahwa mencintai kamu itu kesalahan yang besar. Begitupun kamu, harus sadar juga, bahwa mencintai suami orang seperti Rafi juga kesalahan yang besar." Rian memaparkan penjelasan yang sangat luas. 


Sesekali pria itu membelai punggung tangan Alea, kadang berpindah pada pundak wanita itu. Ia berusaha menenangkan Alea dalam situasi yang sangat berat ini. Sementara itu, Alea sedari tadi masih tak henti menangis. 


Wanita itu tidak pernah bisa menahan air mata. Saat ini, hatinya seolah hancur lebur. Dunianya runtuh seketika. 


"Jahat banget semuanya," lirih Alea dengan masih sesunggukan. 


Rian hanya bisa menjelaskan seperlunya. Hanya menjelaskan apa yang harus dijelaskan, dan tidak menjelaskan apa yang tidak perlu dijelaskan. Ia juga sama sekali tidak menghakimi Alea karena sempat merebut suami sang adik. 


"Tenang, kan masih ada aku. Kamu gak sendiri, Alea. Jangan pernah merasa sendiri, ya," pesan Rian. Pria itu masih terus berusaha menenangkan wanita yang teramat sangat dicintainya. 


Sekalipun Alea berkali-kali sudah menyakiti hati Rian dan sang adik, tapi itu tidak membuat hati Rian berpindah ke lain hati. Ia masih sangat mencintai Alea, bahkan kini tidak berkurang sedikit pun. 


"Aku sayang Rafi, Rian," ucap Alea dengan penuh penekanan seolah tengah memberontak. 


Ucapan Alea itu sebenarnya mengiris hati Rian karena lagi-lagi ia harus mendengar bahwa Alea hanya cinta Rafi, bukan cinta dirinya. Bahkan sama sekali tidak mencintai dirinya. 


Tapi, pria itu harus tegar. Ia harus berjuang mati-matian agar bisa meluluhkan hati Alea. Pun berjuang agar Rafi tidak kembali ke pelukan wanita itu. Ia berharap semuanya tetap seperti ini. Tidak seperti beberapa waktu yang lalu. 


"Iya, tapi kamu gak boleh egois, Alea. Iya, kan? Sama seperti aku cinta kamu. Tapi, aku tidak boleh egois memiliki kamu, kan? Kamu juga gitu. Cukup sayang Rafi, tapi kamu jangan menuntut untuk bisa memiliki dia lagi." Rian memaparkan dengan jelas, membuat hati Alea rasanya teriris menjad berlapis-lapis. 


Hingga saat dirasa sudah cukup, Rian mengajak Alea untuk pulang. Pria itu akan mengantar Alea hingga kos-kosan Alea. 


Ia akan memastikan Alea baik-baik saja. Sekarang, sudah ada Rafi yang menjaga Raisa. Kini, giliran dirinya bertugas untuk menjaga Alea. Mereka sekarang seolah bertukar tugas.