Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 33


"Lebih baik kamu pikir-pikir dulu soal perkataanmu tadi, Rian," lirih Alea. Ini adalah keputusan yang sangat besar. Jangan sampai baik Rian maupun Alea merasa salah langkah nantinya. 


"Tapi aku udah yakin banget, Alea. Mau ya nikah sama aku?" tanya Rian yang cenderung lebih memaksa. 


Padahal kalau dipikir-pikir, seharusnya Alea lah yang memaksa-maksa Rian untuk bersedia bertanggung jawab. Namun, kali ini seolah terbalik karen Alea tidak mau gegabah. Apa jadinya nanti menikah dengan orang yang tidak ia cintai? 


Meskipun orang yang akan menikahi dirinya sangatlh sayang dan cinta pada Alea. Bahkan sudah sejak lima tahun yang lalu. Perasaan Rian untuk Alea benar-benar tidak dapat diragukan lagi. 


"Makasih banget Rian karena mau bertanggung jawab padahal semua ini bukan ulah kamu. Tapi, tetap aja aku butuh waktu. Begitupun kamu, pasti juga butuh waktu untuk mempertimbangkan lagi," papar Alea dengan tegasnya. 


Pikiran Alea mulai berkecamuk. Mulai saat ini, ia tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, akan tetapi juga harus bertanggung jawab pada janin yang berusia dua bulan dalal perutnya itu. 


Rian menghela napas panjang dengan kedua tangannya yang memegangi setir mobil. "Baiklah, aku akan nurut sama semua ucapanmu. Tapi ingat, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya. Aku sayang banget sama kamu. Khawatir banget kalau kamu kenapa-kenapa. Rasanya pengin jagain kamu terus, Alea."


Rian mengucapkan semua kata-kata itu dengan begitu sungguh-sungguh. Kedua matanya menatap mata Alea. 


Sayangnya, wanita itu masih belum bisa menerima Rian sebagai calon suaminya. Meskipun sebenarnya ia butuh sosok suami untuk dirinya dan janin dalam perut. 


Hanya saja, ia masih sangat mengharapkan Rafi. Ia hanya menyayangi Rafi, bukan Rian. Meskipun pria itu sudah teramat sangat mencintai Alea. 


"Iya, Rian. Terima kasih. Tapi balik lagi kan, semua itu gak bisa dipaksa," lirih Alea. Pandangan wanita itu mengarah ke arah luar jendela. 


Rian hanya bisa membalas ucapan Alea dengan anggukan. Ia mulai kembali menjalankan mobilnya untuk mengantar Alea pulang. 


Dalam pikiran pria itu, sama juga berkecamuk. Kurang baik apa lagi dirinya sebagai laki-laki? Ia bahkan bersedia bertanggung jawab atas suatu hal yang bukan perbuatannya. 


Hanya saja, Alea masih saja belum bisa menerima dirinya. Terkadang, Rian seolah merasa sia-sia karena sudah terlalu menunggu lama Alea. Ia juga merasa sedikit menyesal, mengapa ia hatus cinta Alea, dan bukan pada orang lain saja? 


Tiba di depan kosan Alea, Rian turun terlebih dulu dari dalam mobil untuk membukakan pintu mobil bagian Alea. 


Setelah itu, ia bermaksud ingin mengangkat tubuh Alea, sama seperti saat ia mengantarkan wanita itu menuju rumah sakit tadi. Tapi, Alea memilih menepisnya. Meskipun kepalanya masih berat, ia berusaha untuk jalan sendiri. 


Rian hanya bisa mengekori Alea dari belakang. Rasanya ia ingin sekali memapah wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, apalah daya, wanita itu menolaknya mentah-mentah. 


"Kamu pulang aja ya, Rian. Aku bisa sendiri, kok," ucap Alea saat hendak menutup pintu kamar. Ia butuh waktu untuk sendiri. 


"Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku ya, Sayang," lirih pria itu. Dalam dadanya terasa sesak karena tidak bisa menjaga perempuan yang begitu ia sayangi itu. 


"Iya," ucap Alea singkat. Wanita itu lantas menutup pintu kamar meksipun Rian belum pergi dari depan pintu itu. 


Sontak tangis Alea pecah usai pintu kamarnya tertutup. Ia terkulai lemas tak berdaya masih tepat di depan daun pintu. Sekarang, ia meringkuk dengan air mata yang berderai. Kedua tangannya memeluk lutut. 


Air meta Alea terus mengalir hingga sesegukan. Ia kemudian memandang pada perutnya yang masih nampak cukup rata. "Aku tuh sebenarnya gak butuh kamu. Tapi, yang aku butuhkan hanyalah ayah kamu."


Alea terus meraung-raung dengan sangat tidak berdaya. Dirinya seolah hancur. Ia ingin Rafi, tapi sampai sekarang pria itu masih saja belum kembali padanya. 


"Apa kamu benar-benar udah gak mau lagi sama aku, Honey? Padahal aku mengandung anak kamu," lirih Alea. Tenaganya mulai habis untuk berteriak-teriak. 


Kondisinya juga belum baik-baik saja. Seharusnya, ia segera makan lalu meminum obat agar kembali pulih. Namun, entahlah. Wanita itu benar-benar merasa hancur sekarang. 


Memang, di dalam hatinya merasa sedikit bersyukur karena akan ada Rian yang bertanggung jawab pada dirinya dan janin dalam perut. Hanya saja, wanita itu merasa tidak butuh dikasihani. 


Ia ingin menikah dengan seseorang yang mencintI dirinya, dan dirinya pun mencintai orang itu sehingga tidak bertepuk sebelah tangan. 


Perlahan, Alea merangkak dengan kesusahan untuk menuju ranjang yang empuk. Setelahnya, ia merebahkan tubuhnya di sana. Ia pandangi langit-langit kamar berwarna hijau muda polos itu. 


Sesekali ia membasuh air matanya dengan tangan kosong, untuk sekedar menyingkirkan air yang menghalangi pandangannya itu. 


Rian yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu kosan Alea, kini mulai beranjak pergi setelah tak ada suara teriak-teriak lagi dari dalam kamar Alea. 


"Sabar ya, Sayang," ucapnya pada diri sendiri seraya melangkahkan kaki menuju mobil. Sekarang, Rian sudah menjalankan mobilnya untuk pergi ke rumah Rafi. 


Setibanya di rumah Raisa dan Rafi, pria itu sudha disambut hangat oleh Bi Eni yang membukakan pintu. Rian pun menuju ruang televisi di mana ada Rafi dan Raisa di sana, juga ada keponakan kecilnya. 


Rian melupakan semua masalah antara dirinya dengan Alea sejenak. Ia harus terlihat ceria di hadapan Raisa agar adik tersayangnya itu tidak berpikiran macam-macam. 


"Widihhh, lagi pada ngapain nih?" sapa Rian seraya menghampiri Raisa dan bayi Rara. 


Raisa yang baru melihat kedatangan Rian pun langsung berbunga-bunga. "Abang, tumben ke sini. Duduk sini, Abang," ucap Raisa seraya menggeser tubuhnya untuk lebih dekat pada Rafi, agar sang kakak bisa duduk tepat di sampingnya. 


"Mau gendong baby Rara gak, Abang?" tawar Raisa dengan nada yang begitu ceria. Wanita itu sudah nampak jauh lebih bahagia sekarang. 


"Duh, takut nih. Rafi udah bisa gendong emangnya?" tanya Rian untuk sekedar berbasa-basi. Lria itu lantas mencium dan mencubit pelan pipi sang keponakan. 


"Aku udah bisa, dong. Udah profesional ini," ucap Rafi dengan nada becanda seraya terkekeh. 


"Bohong, Abang. Dia aja masih kaku banget," ujar Raisa dengan sejujur-jurjurnya. 


Rian pun terkekeh sejenak. "Eh, Bro. Kita nongkrong ke luar sebentar yuk," ajak Rian. Pria itu ingin mengatakan sesuatu yang harus diketahui oleh Rafi. Namun, harus tidak diketahui oleh Raisa. 


"Mau ke mana sih, Abang? Kok aku gak diajak?" canda Raisa. Wanita itu kini sedang menggendong bayi Rara dalam pangkuannya. Bayi itu nampak tertidur pulas.