
Malam harinya, setelah Alea menikmati rujak buatan Rian, mereka bercengkrama di dalam kamar kosan Alea seperti biasanya. Hingga pada saat pukul 21.00, Rian memutuskan untuk pamit pulang.
"Aku pamit pulang dulu, ya. Udah malam. Belum mandi juga aku," pamit pria itu yang sudah bersiap untuk pulang.
Namun, bukan mengaminkan ucapan Rian, wanita itu justru menitikkan air matanya. Sontak membuat Rian kebingungan dan refleks memeluk wanita itu.
"Hei, kenapa, Sayang? Apa yang kamu rasakan?" tanya Rian seraya masih terus mendekap tubuh wanita pujaan hatinya itu.
"Aku pengin dipeluk terus," lirih wanita itu, masih belum melepaskan pelukannya pada tubuh Rian. "Jangan tinggalkan aku ya, Rian." Lagi-lagi Alea memohon agar tidak ditinggal oleh Rian.
Entah sudah berapa kali Alea mengucapkan kalimat permohonan itu pada Rian. Tapi, itu tidak membuat Rian bosan, justru pria itu merasa senang bukan kepalang. Akhirnya, sosok wanita yang selama ini dicintainya itu perlahan mulai luluh.
"Gak akan, Sayang. Aku di sini terus, gak akan kemana-mana." Rian mengelus lembut punggung wanita itu.
"Tapi aku pengin dipeluk terus sampai ketiduran, Rian." Penuturan Alea itu membuat Rian menelan salivanya.
"Ya-ya udah, aku temani kamu sampai tidur, deh." Rian pun menuntun Alea untuk merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk.
Alea miring ke kiri, membelakangi Rian. Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya tepat di samping Alea. Lalu, dipeluknya tubuh indah Alea.
"Rian, jangan ke mana-mana, ya. Tunggu aku sampai tidur," lirih Alea seraya mulai memejamkan mata.
"Iya, Sayang." Rian pun menepuk-nepuk pundak Alea agar wanita itu bisa lekas tertidur pulas.
Alea mulai memejamkan mata dengan nyamannya. Begitupun Rian, nyaman sekali bisa memeluk wanita yang diidam-idamkannya.
"Good night, Sayang," ucap Rian berbisik tepat pada telinga Alea.
"Good night too, Honey," balas Alea, membuat Rian kembali membelalakkan mata. Dirinya dipanggil Alea dengan sebutan Honey?
Sontak pria itu pun bergegas memeriksa Alea, apakah Alea mengatakan itu karena dalam keadaan tidak sadar atau justru sebaliknya.
"Alea?" panggil Rian pada Alea seraya memeriksa wanita itu sudah tertidur atau justru masih terjaga.
Dan ternyata Alea sudah memejamkan kedua matanya, itu berarti perkataan yang keluar dari bibirnya barusan diucapkan dalam keadaan tidak sadar.
Rian menghela napas. Bisa jadi Alea menyebut kata Honey karena teringat akan Rafi, dan bukan dirinya. Pria itu pun kembali mendekap Alea dengan perasaan yang entah. Hingga akhirnya ketiduran hingga pulas.
Saat tengah malam, Alea terbangun dari tidurnya. Sontak ia terkaget karena ada seseorang yang memeluknya erat. Ia pun kemudian baru menyadari bahwa itu adalah Rian. Bahkan dia sendirlah yang meminta untuk dipeluk.
Hanya saja, ia mengira Rian akan pulang setelah Alea tertidur. Tapi, ternyata tidak. Pria itu justru tidur tepat di sebelah Alea.
Alea mengukir senyuman manis sejenak, kemudian merapatkan tubuhnya pada Rian hingga semakin rapat. Ia merasa sangat nyaman sekali.
***
Alea bangkit dari tidurnya. Ia mulai membuka mata karena cahaya mentari menyilaukan matanya. Ia melihat ada Rian yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Tidak terasa, ini sudah malam ke tujuh ia ditemani tidur oleh Rian karena mengidam ingin dipeluk terus-terusan. Wanita itu membiarkan Rian yang masih tertidur pulas di ranjangnya yahh empuk.
Alea bangkit menuju dekat jendela, pandangannya tertuju ke arah luar. Wanita itu memandang gang kecil yang ada di sebelah kosan miliknya.
"Gimana ya nanti?" tanya Alea kepada diri sendiri. Wanita itu bingung setengah mati.
Usia kandungannya kini sudah menginjak empat bulan, sementara dirinya masih berstatus belum memiliki suami. Bagaimana nasib dirinya dan sang anak, jika anak itu lahir tanpa sosok ayah?
Alea mengelus-elus perut buncitnya. "Maafkan Mami ya, Dear. Mami belum tahu gimana nasih kamu nanti, tapi Mami bakal ngelakuin yang terbaik buat kamu." Wanita itu terus mengajak berbicara pada perutnya yang berisi sang sang buah hati.
Tidak lama kemudian, Rian bangkit dari tidurnya. "Sayang?" sapa pria itu pada Alea yang masih saja berdiri di depan jendela, pun pandangannya nampak tengah melamun panjang.
Mendengar suara Rian yang ternyata sudah bangun, membuat Alea tersentak. "Eh, Rian. Kamu udah bangun." Wanita itu mendekat pada Rian yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Udah. Kamu lagi apa tadi?" tanya Rian penasaran. Ia ingin tahu apa yang tengah ada di kepala Alea saat ini. "Lagi mikir apa, Sayang?"
"Hari ini adalah hari terakhir kamu boleh tidur di sini, Rian, karena batas maksimal lawan jenis menginap di kosan ini adalah satu minggu," papar Alea dengan wajah yang mendung.
"Oh iya? Terus kamu gimana? Masih pengin dipeluk terus?" tanya Rian. Ia jadi bingung sendiri saat sudah seperti ini.
Andai saja wanita pujaannya itu sudah membuka hati untuk dirinya, sudah pasti ia akan segera menikahi wanita itu agar tidak perlu bersusah payah seperti ini.
Alea menghela napas panjang. "Entahlah, Rian. Aku gak tau harus gimana. Rasanya aku butuh kamu, tapi aku gak tau harus gimana." Wanita itu pusing tujuh keliling memikirkan nasibnya.
"Ya sudah. Mungkin kamu butuh refreshing dulu. Ayo kita ke mall aja," ajak Rian seraya meraih tangan Alea, kemudian ia dekatkan pada pipi kanannya.
"Loh, kita gak kerja?" tanya Alea dengan polosnya. Ia lupa jika hari ini adalah akhir pekan.
"Ini kan hari Minggu, Alea. Siapa juga yang mau kerja hari Minggu?" Rian menarik tubuh Alea agar wanita itu ikut duduk di tepi ranjang.
Alea menepuk jidat setelah duduk di tepi kasur. "Oh iya, aku lupa," sahut Alea menunjukkan wajahnya yang polos dan manis.
"Ya udah, daripada kamu stress, mending kita ke mall. Mau gak?" Rian menawari wanita pujaannya untuk pergi ke suatu pusat perbelanjaan guna menyegarkan pikiran.
"Ke pantai aja gimana?" ajak Alea dengan idenya yang membuat Rian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi bakal panas banget kalau siang. Kurang cocok juga sama ibu hamil seperti kamu. Nanti malah kecapekan." Rian berusaha mengarahkan Alea bahwa pantai bukanlah pilihan yang tepat untuk perempuan berbadan dua seperti dirinya.
"Yahhh, padahal aku pengin banget ke pantai. Udah lama gak ke tempat wisata, Rian," rengek Alea seperti anak kecil, seraya mengerucutkan bibir tipisnya.
"Ya udah deh iya. Nanti kita ke pantai. Eh, tapi mending pagi-pagi aja biar gak terlalu panas," saran Rian.
"Ya udah, ayok sekarang aja siap-siap. Nanti beli sarapan di sana aja," usul Alea dengan nada yang antusias dan penuh semangat.
Mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke pantai.