
Rafi mondar-mandir seperti orang kebingungan. Pria itu kini berada di parkiran mobil. Batinnya dirundung dilema yang teramat besar. Ia harus memilih antara Raisa atau Alea, wanita yang sama-sama mencintai dirinya dengan begitu tulus dan besar. Raisa dan Alea juga sudah menyimpan perasaan kepada Rafi sejak bertahun-tahun lamanya.
Bedanya, Alea adalah wanita yang juga disukai Rafi. Tapi, Raisa sama sekali tidak menarii bagi Rafi. Mau dipaksa sekeras apa, sepertinya memang tidak bisa. Padahal wanita itu sangat baik dan keibuan.
Jika memilih ke kosan Alea, bagaimana dengan perasaan Raisa yang sudah menyiapkan makan malam sedari tadi? Apalagi Rafi akhir-akhir ini merasa bersalah karena telah meninggalkan Raisa demi bersama Alea di puncak. Pun Raisa tetap memperlakukan Rafi bak seorang raja. Bagaimana pria itu bisa kembali menyakiti Raisa?
Tapi, jika memilih Raisa, bagaimana dengan Alea? Wanita itu sedang sakit kakinya. Ia belum bisa banyak ke mana-mana. Jelas Rafi sangat dibutuhkan oleh Raisa.
"Ck," decak Rafi. Sudah beberapa menit mondar-mandir di tempat yang sama, tapi tidak membuahkan hasil juga. Perselingkuhan memang rumit dan menyusahkan. Kenikmatannya hanya ada di beberapa saat, hanya jangka pendek semata.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering. Ada nama Rian yang tertera di layar ponselnya.
"Ha-halo?" tanya Rafi dengan sedikit ragu. Ia menelan salivanya sejenak.
"Dimana? Pulang sekarang. Istrimu udah menunggu," tegas Rian. Pria itu sekarang berubah menjadi pria yang dingin dan tegas. Tidak sepert sosok Rian selama ini yang lembut, murah senyum, dan murah hati.
Tidak ada salahnya memang, itu demi kebaikan keluarga sang adik. Juga demi masa depan Alea, wanita yang sangat dicintainya. Pria itu memang harus tegas pada Rafi dan Alea.
Rafi diam sejenak. Ia kemudian mengiyakan permintaan sang kakak ipar. "Ya, aku pulang sekarang."
Entah mengapa, hubungan Rafi dan Rian yang semua begitu akrab dan dekat, sedekat denyut nadi. Kini seketika berubah menjadi jauh, sejauh bumi dan matahari. Hanya karena pengkhianatan yang dilakukan Rafi dan Alea. Semuanya menjadi sirna seketika.
Rafi lantas masuk ke dalam mobil, untuk kemudian menjalankan kendaraan roda empat itu.
Tiba di rumah Raisa, Rafi masuk rumah dengan perasaan canggung seperti hari lalu. Apalagi, raut muka Raisa kini tak sehangat biasanya. Meskipun, perlakuannya masih sama. Ia masih memperlakukan Rafi sebagai suami sahnya. Kewajibannya masih ia jalankan sepenuhnya.
Sudah ada beberapa makanan yang tersaji rapi di atas meja. Saat Rafi duduk di kursi, Raisa langsung mengambilkan nasi ke atas piring, juga beberapa lauk untuk sang suami tercinta.
Setelah mengambilkan makan malam untuk Rafi, Raisa tak berbuat apa-apa. Hanya diam dengan pandangan kosong ke arah makanan Rafi. Rafi jadi kebingungan. Ia tidak tahu harus bagaimana.
Di sana juga tidak ada Rian. Tadinya, ia kira ada Rian karena tadi pria itulah yang menghubungi dirinya. Tapi, sepertinya sudah pulang. Rafi jadi semakin canggung. Makan pun tidak seenak biasanya.
Setelah memasukkan makanan ke dua kali ke dalam mulutnya, Rafi melirik Raisa sejenak. "Kamu gak makan, Sa?" tanya Rafi, namun tak digubris oleh sang istri itu.
Sang istri hanya diam dengan pandangan yang masih sama. Ia tidak menjawab pertanyaan sang suami.
"Sa?" panggil Rafi lagi.
"Hah, iya?" Raisa baru menanggapi. Itu juga karena ia terkaget lamunannya dibuncah oleh sang suami.
"Kamu gak makan? Ayo makan," ajak Rafi. Ia kembali memasukkan makanannya ke dalam mulut. Sejenak ia melupakan rasa bersalahnya.
Lagipula, rasa bersalahnya hanya muncul sesekali saja. Demi Alea, ia bisa menghalalkan segala cara.
"Lihat kamu makan udah kenyang aku," tutur Raisa. Ia mengukir senyum getir dengan pandangan yang masih sama.
Suaminya itu sontak tersedak seketika, namun tidak ada yang keluar dari dalam mulutnya. Rafi ingin mengatakan bahwa sang istri itu juga harus makan. Tapi, entah mengapa, mulutnya seperti kaku, tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakan.
"Hallow, Honey. Kok lama banget, kenapa gak ke sini?" tanya Alea dengan penuh antusias. Wanita itu masih berharap Rafi akan datang padanya.
Sontak Rafi pun harus memutar otak. Bagaimana caranya agar dirinya bisa melarikan diri dari Raisa untuk menemani Alea walau sebentar saja.
"Sayang, sabar dulu, ya. Ini aku mau siap-siap ke sana," celetuk Rafi tanpa berpikir panjang. Ia mengatakannya dengan spontan.
Untuk pergi ke sana, Rafi harus memastikan Raisa tidur terlebih dahulu. Karena kalau tidak, ia tidak punya alasan untuk bisa menemui Alea.
Setelah mandi, ia melangkahkan kaki menuju seluruh penjuru ruangan. Kalau sampai mendapati Raisa masih terjaga, ia harus memutar otak lagi karena tidak bisa mengecewakan Alea.
Ia melirik ruang tamu, ruang tengah, dapur, dan ruangan-ruangan yang lainnya. Hingga saat ia menuju teras, ternyata ada Raisa di sana. Itu membuatnya terkejut bukan kepalang.
"Ehhh." Rafi melompat satu langkah ke belakang karena terlalu kaget.
Raisa tidak menanggapi sama sekali. Pandangannya masih saja kosong seperti biasanya.
"Sa?" panggil Rafi dengan suara yang begitu lembut.
Sontak Raisa pun menengok ke arah Rafi. "Hem? Iya?" Suara Raisa nyaris tak terdengar.
"Aku izin pergi main boleh, gak?" Rafi menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Pria itu sudah seperti anak kecil yang didiamkan sang ibu karena telah melakukan kesalahan yang bertubi-tubi.
Raisa kembali mengalihkan pandangan dari wajah sang suami. "Oh, kalau mau ketemu Alea juga gak apa-apa, sih."
Rafi semakin merasa tidak hati dan berdosa karena berkali-kali berbuat dzolim kepada istrinya. Namun, pikiran itu hanya ada di kepala Rafi saat pria itu berada di rumah bersama Raisa. Lain halnya jika ia sudah bersama Alea. Pria itu akan melupakan segalanya.
"Oh, enggak, kok. Tapi, kalau gak boleh ya udah, gak apa-apa." Sontak Rafi pun masuk ke dalam kamar setelah mengucapkan itu.
Sungguh, ia tidak tega dengan apa yang diperlihatkan Raisa. Wanita itu sangat murung dan mendung. Seolah ada beban berat yang sedang ia pikul.
"Sayang, maaf banget, ya. Aku gak bisa ke sana dulu," ucap Rafi dengan menunjukkan wajah penuh penyesalan.
"Yah, Honey. Aku akn udah nunggu dari tadi. Aku juga belum makan nungguin kamu." Alea merengek layaknya anak kecil.
"Maaf, Sayang. Ya udah aku pesenin makanan lewat online aja, ya." Pria itu terus membujuk Alea. Itu adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan.
"Alah, Honey. Aku mau kamu." Alea terus merengek tanpa henti. Membuat Rafi kebingungan memikirkan cara apa lagi.
"Eits, besok kan kita bisa ketemu di kantor. Iya, kan? Seharian loh kita ketemu besok," ucap Rafi yang tiba-tiba membuat bibir Alea mengukir senyuman yang begitu manis.
"Oh iya, Honey. Okay deh. Love you," ucap Alea. "Aku mau obatin luka dulu," bubuhnya seraya pamit untuk menutup sambungan telepon.
"Okay, Sayang. Ditunggu ya makanannya." Rafi pun kini bisa bernapas lega. "Oh ya, mau makan apa?" tanya Rafi terlebih dahulu sebelum menutup telepon.
"Apa aja, bebas. Yang penting dibelikan kamu," goda Alea. Tidak lama kemudian, sambungan video call itupun berakhir.