
"Tapi, aku sangat sayang banget sama dia, Bang." Tangis Raisa kian pecah. Ia tak henti memegangi dadanya karena di dalam sana, rasanya terlalu sesak.
"Udah lah, Raisa. Dia itu jahat. Kamu gak layak sama dia," pekik Rian mencoba untuk menyadarkan sang adik tercinta.
Sepertinya, Raisa memang sudah jatuh cinta terlalu dalam dengan pria bernama Rafi itu. Meskipun hatinya sakit sekali seperti ini, ia tetap tidak mau bercerai dengan satu-satunya laki-laki yang begitu ia cintai.
Napas Raisa kini naik turun, tidak stabil. Ia terus memegangi dadanya, sesekali ia mengusap-usap perutnya yang buncit. Ada bayi berusia lima bulan di dalam saja. Mungkin, kalau bayi itu dapat mendengar sang ibu, ia akan turut menangis.
Napas Raisa kini menjadi tersengal-sengal. "A-abang ak-aku gak ma-mau cerai sama Ra-rafi, A-abang," ucap Raisa dengan begitu terbata-bata.
Tubuhnya ia sandarkan pada sandaran sofa. Tubuhnya terasa begitu lemas, dan sangat lemas. Sementara itu, Rian mengubah posisi menjadi berdiri karena sudah terbawa emosi.
Kedua tangannya mengepal, sesekali ia menghadiahkan beberapa kali pukulan pada tembok karena terlalu kesal. Pria itu tidak pernah seperti itu sebelumnya. Pria yang biasa bersikap lemah lembut itu kini berubah menjadi seperti singa.
Kini pria itu tengah berkacak pinggang. Ia membuang napas kesal. "Pokoknya, Abang mau kamu cerai sama dia. Titik," perintah Rian dengan penuh paksaan. Ia tidak melihat bagaimana tubuh sang adik yang mulai terkulai lemas.
"Ab-abang," lirih Raisa. Pandangannya seolah sudah tidak bisa melihat dengan sempurna, pun pendengarannya sudah mulai melemah.
Tidak lama kemudian, wanita bernama Raisa itu memejamkan matanya. Tubuhnya sudah terkulai lemas, tersungkur di atas sofa.
Saat membalikkan badan, Rian sontak membelalakkan mata karena melihat sang adik yang sudah lemah tak berdaya.
"Raisa!" pekik Rian sekencang-kencangnya. Ia lantas membenarkan posisi tubuh sang adik menjadi telentang di atas sofa.
Namun, tidak lama kemudian, ia memindahkan tubuh ramping wanita itu menuju ke dalam kamar.
"Raisa, bangun. Sadar, Raisa!" Rian terus menepuk-nepuk pipi sang adik, berharap agar adik tercintanya dapat bangun dari kondisi pingsan.
Saat dalam keadaan seperti ini, Rian tidak bisa berpikir jernih. Bukan mengambilkan minyak kayu putih untuk membantu Raisa cepat sadar, pria itu justru hanya merutuki dirinya sendiri.
Tidak seharusnya ia memberi Tahu Raisa bahwa sang suami telah bermain di belakang dengan Alea. Ia seketika menjadi begitu merasa bersalah.
Tidak hanya menyalahkan diri sendiri, tapi Rian juga menyalahkan Tuhan. "Kenapa harus seperti ini, Tuhan? Kenapa?" pekik pria itu. Air matanya sudah tumpah sedari tadi.
Ternyata, Rian bukanlah pria yang sekuat itu. Ia juga bisa menangis, pun bisa berteriak seperti singa yang sedang kelaparan.
Ia berusaha menetralkan napasnya. Ia menghirup napas melalui hidung selama beberapa detik, kemudian melepaskannya dengan nyaman melalui mulut. "Huft," lirihnya. "Huft," lirihnya lagi.
Sekarang, ia sudah tahu harus berbuat apa saat menghadapi sang adik yang tengah dalam kondisi pingsan. Ia lantas menuju dapur untuk membuatkan teh. Awalnya, Rian ingin meminta bantuan pada pembantu di rumah itu. Hanya saja, ternyata pembantu Raisa itu tidak ada di mana-mana.
Ia membuatkan teh terlebih dahulu agar saat Raisa sudah sadar, teh itu sudah menjadi hangat. Sehingga, Raisa dapat dengan nyaman meminumnya.
Setelah teh yang ia buat jadi, Rian kini kembali beranjak menuju ke dalam kamar. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari benda kecil yang penuh manfaat. Benda yang ia cari adalah minyak kayu putih.
Sesuai yang ia tahu selama ini, minyak kayu putih dapat membantu orang untuk lebih cepat sadar dari masa pingsannya. Sebenarnya ia juga belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Tapi, ia yakin pasti dengan minyak kayu putih itu bisa membantu agar Raisa cepat sadar dari pingsan.
Rian mulai mengoleskan satu tetes minyak kayu putih pada pelipis Raisa. Selain itu, ia juga mendekatkan minyak kayu putih pada hidung Raisa.
"Raisa, bangun. Abang sayang sama kamu. Meksipun orang lain jahat sama kamu, Abang selalu di sini untuk kamu," ungkap Rian dengan penuh perasaan. Ia terus berusaha membuat sang adik agar lebih cepat tersadar.
Setelah sekitar sepuluu menit berlalu, Raisa mulai membuka matanya. Ia mengerjapkan kedua matanya terlebih dahulu. Kepalanya terasa begitu pusing. Samar-samar ia memandang sekitar kamarnya.
Saat wanita itu sadar bahwa ia tengah berbaring di kamarnya sendiri, saat itu juga ia mendapati Rian yang baru masuk ke dalam kamar. Ia baru saja kembali dari kamar mandi. Sebenarnya, Rian ingin menghubungi kedua orang tuanya sedari tadi. Tapi, karena ia tahu bahwa orang tuanya sangat sibuk, ia mengurungkan niatnya. Ia takut jika memberi tahu orang tuanya, itu hanya membuat orang tuanya menjadi khawatir berlebih
"Abang?" lirih Raisa memanggil Rian saat menyadari bahwa laki-laki yang kini ada di kamarnya adalah sang kakak kandung. Wanita itu berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
"Raisa?" Setelah menyadari bahwa sang adik sudah sadar dari pingsan, dan adiknya itu berusaha bangkit, pria itu pun menangkap tubuh sang adik dari belakang.
"Kamu jangan bangun dulu, rebahan aja dulu," imbuhnya menjelaskan. Raisa memang harus istirahat terlebih dahulu. Apalagi sang adik itu tengah hamil, ia begitu takut jika ada hal-hal buruk terjadi.
"Abang, aku gak mau cerai, ya, ya? Abang?" Wanita itu masih terus merengek untuk tidak bercerai dengan Rafi. Satu-satunya motivasi Raisa untuk hidup selama ini adalah Rafi. Jika Rafi tidak ada di sisinya, entah apa jadinya.
Rian tidak membalas sama sekali ucapan sang adik. Ia hanya mengelus-elus kepala sang adik dengan begitu tulus dan lembut. Pandangan pria itu sekarang menjadi kosong, hatinya pun ikut kosong sekarang.
***
Esok harinya, pada pagi hari, Alea dan Rafi menyambut hari dengan begitu berbunga-bunga. Mereka kini sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat tujuan. Sebelumnya, mereka merasa malas dan ingin membatalkan rencananya untuk pergi ke kebun teh.
Hanya saja, Alea dan Rafi mau memaksimalkan liburan mereka di puncak dengan maksimal. Mereka juga belum mengunjungi kebun teh yang pemandangannya sangat indah.
"Honey? Are you ready?" tanya Alea seraya meletakkan tas selempang di pundaknya.
Sementara itu, Rafi nampak tengah menyisir rambut dengan telaten. "Siap, dong. I love you," ucap pria itu seraya mendaratkan bibirnya pada pipi Alea yang telah dipoles dengan sedikit make up.
Mereka pun berangkat menuju puncak dengan berjalan kaki karena lokasinya yang tak jauh dari vila milik Rafi. Hamparan hijau kebun teh yang luas membius kedua mata Rafi dan Alea.