Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 14


Rafi terdiam tak bisa berkata apa-apa karena yang diucapkan oleh sang kakak ipar adalah benar adanya. Sesekali ia menela salivanya. 


"Ya udah, Bro. Aku tutup dulu, ya," pamit Rafi hendak terburu-buru mengakhiri sambungan telepon itu. 


"Eits, bentar, Bro. Jangan Buru-buru. Aku mau bahasa sesuatu." Nada bicara Rian kini semakin tegas, sebelumnya dengan nada yang biasa saja. 


Rafi lagi-lagi dibuat panik oleh sang kakak ipar. Napasnya tidak bisa lega begitu saja. Memang, yang namanya perselingkuhan membutuhkan perjuangan yang sangat besar, dan resiko yang sangat besar pula. 


"Ngomong apa, Bro?" tanya Rafi langsung pada poinnya. Besar harapannya, sang kakak ipar tidak membahas hal-hal yang dapat membuat hati Rafi semakin merasa tidak enak dan tidak nyaman. 


"Kamu gak pernah mikirin perasaan Raisa, apa gimana?" Rian mencoba menyinggung hati Rafi. Ia ingin berbicara dengan sahabat sekaligus adik iparnya itu dari hati ke hati. 


Mendengar pertanyaan sang kakak ipar, Rafi pun semakin kebingungan. Entah apa jawaban yang harus ia berikan. Dalam hatinya, selama ini memang tidak menyukai Raisa, tubuh dan penampilannya juga kurang menarik di mata Rafi. 


Pada suatu sisi, Alea datang dengan segala kasih sayangnya. Wanita itu bahkan mengaku sudah bertahun-tahun lamanya memendam rasa pada Rafi. Akhirnya, Rafi pun sudah tumbuh cinta dalam hatinya pada Alea. Terlebih, tubuh dan penampilan Alea sangat masuk dalam kriteria wanita idaman Rafi. 


"Ehm." Rafi berdeham sejenak seraya menyusun kata-kata untuk menanggapi pertanyaan Rian, yang lebih cenderung sedang menyinggung dirinya. "Kamu kan tahu sendiri, dari dulu aku gak pernah suka Raisa," lirih Rafi pada akhirnya, mengakui apa yang selama ini ia simpan dalam hati. 


Rian seolah tak bisa menahan amarahnya saat mendengar ungkapan Rafi. Ungkapan yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak dulu. Tapi, ia yang seolah memaksa Rafi agar mau menerima sang adik. 


Pria itu tidak tega jika melihat sang adik terus-terusan mengejar-ngejar sahabatnya itu, sementara sang sahabat tetap saja acuh tak acuh pada sang adik. 


Namun, jika mengetahui pada akhirnya akan seperti ini, Rian waktu itu tidak akan meminta Rafi untuk menikah dengan sang adik yang sudah setulus itu. 


Seketika, terbesit rasa bersalah yang teramat besar dalam hati Rian. Pikirannya semakin berkecamuk. 


"Sorry, Fi. Aku kira lambat laun kamu bakal bisa mencintai adikku, sebagaimana adikku mencintai dirimu," ucap Rian dengan volume suara yang hampir tak dapat didengar. Matanya mulai berkaca-kaca. Pertanda jika hal yang sedang mereka bicarakan memang sangatlah menyakiti hati pria itu. 


"Susah, Rian. Buat menumbuhkan rasa cinta itu gak semudah yang kamu kira." Rafi kini seolah memprotes Rian. Pria itu semakin berani dengan kakak iparnya. 


Bahkan jika nanti Rian menceritakan semua yang terjadi pada Raisa, ia sudah siap berpisah dengan wanita yang sangat mencintai dirinya itu. Sudah ada Alea yang sangat mencintai dirinya juga. Alea yang tubuh, wajah, dan penampilannya yang sangat sesuai dengan kriteria dirinya. 


"Jujur aku gak kasian sama kamu, Fi. Aku kasian sama dua wanita yang sangat mencintaimu. Yang bahkan dua-duanya sangat aku cintai," ungkap Rian, membuat Rafi teringat dengan perkataannya pada beberapa waktu lalu. 


Rian juga ternyata sangat mencintai Alea. Pun sudah bertahun-tahun lamanya. Persis seperti pengakuan Alea yang sudah mencintai Rafi sejak bertahun-tahun yang lalu. 


Perkataan dari  pria itu memang tidak ada salahnya. Perasaan memang tidak bisa dikendalikan. Hanya saja, jika orang itu tahu batasan-batasan dalam berumah tangga, ia akan fokus pada rumah tangganya. Bahkan saat rumah tangga orang lain terlihat begitu indah sekalipun, ia harus tetap membina rumah tangga yang telah ia dirikan dengan tidak main-main, pun disaksikan banyak orang. 


"Ayolah, Bro. Pikiran Raisa sedikit saja, dia sekarang lagi hamil, sangat butuh sosok kamu ada di sisinya," pinta Rian untuk kebaikan rumah tangga sang adik. Walaupun sebenarnya ia bukanlah orang yang tegas, hanya saja saat ada masalah-masalah seperti ini, sikap wibawanya cukup keluar, dan memang harus dikeluarkan. 


"Aku gak bisa jamin, Rian. Aku di sini udah terlanjur nyaman dengan Alea. Pun Alea, sudah sangat nyaman dengan aku." Perkataan Rafi itu jelas menunjukkan kalau dirinya sedang dibutakan oleh nafsu dan cinta. 


Rian yang mendengar itu pun langsung mengusap usap wajahnya. Ia tidak habis pikir dengan kedua sahabatanya itu. Mungkin saja, masalah ini akan mengakibatkan persahabatan mereka menjadi hancur seketika. 


"Ya udah," lirih Rian dengan berat hati. "Terima kasih atas waktunya." Wajah dan sorot mata pria itu sudah terlihat sangat berantakan memikirkan semua yang telah ia katakan. 


Tanpa menjawab apa-apa, Rafi langsung menutup telepon itu. Ia mengembuskan napas panjang seraya menggirup udara segar yang ada di sekitarnya. 


"Huh!" Pria itu seolah berusaha meluapkan semua masalah yang terjadi pada dirinya. 


Tidak lama kemudian, Alea yang telah bangkit dari tidurnya, menyusul Rafi sang kekasih hati ke depan vila. "Honey," sapa Alea seraya memeluk Rafi dari belakang. 


Dua bongkahan besar miliknya seolah menekan punggung kekar Rafi. Membuat pria itu menjadi senyum-senyum sendiri karena hasratnya kembali naik. 


Rafi membalikkan badan, pandangannya ia arahkan tepat pada kedua mata Alea. Lantas ia peluk wanita bertubuh idaman itu. Ia memeluk dengan begitu eratnya karena rasanya yang sangat nyaman. 


"Honey, sakit. Kamu terlalu kencang," protes Alea pada Rafi. 


"Hehe." Rafi meringis karena terlalu nyaman. Tidak lama kemudian, ia melepas pelukan itu karena dirasa sudah cukup untuk saat ini. Lagi pula, ini di luar ruangan. Tidak enak jika ada yang melihat pemandangan itu. 


"Honey, kita pulang kapan?" tanya Alea seraya masuk ke dalam vila, ia duduk di ruang tamu. Wanita itu meraih ponsel yang ada di atas meja. "Besok pagi?" tebaknya setelah memperhitungkan jumlah hari yang telah ia habiskan bersama Rafi di vila ini. 


"Jadi kamu pengin cepat-cepat pulang? Dan terpisah lagi sama aku?" tanya Rafi dengan penuh manja. Ia sudah duduk tepat di samping Alea. Hidungnya ia rapatkan pada pundak Alea, lalu turun ke bawah, dan semakin ke bawah. 


"Honey? Jangan begini, dong. Aku mau nonton youtube," protes Alea. "Jadi, kita pulang kapan, Honey? Aku gak enak sama bosku." Kalau boleh jujur, Alea memang beberapa kali kepikiran dengan kantornya. Ia takut jika tiba-tiba dikeluarkan dari kantor gara-gara cuti selama ini. 


Meskipun sebenarnya ia adalah karyawan lama, dan boleh-boleh saja mengambil cuti selama ini. Hanya saja, tetap ada perasaan tidak enak dalam hati wanita itu.