Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 27


Satu jam setelah proses persalinan, dan setelah bayi yang dilahirkan Raisa diletakkan di ruangan khusus bayi, Rafi baru memberi tahu Rian. Itupun karena Rian menghubungi dirinya terlebih dahulu. 


"Halo?" sapa Rian dengan nada yang begitu cemas. "Raisa di mana? Kamu di mana?" Rian menghujani Rian dengan dua pertanyaan itu. 


Sementara itu, Rafi masih berusaha mengatur napasnya. Pria itu baru saja menyaksikan pemandangan mengharukan yang tak pernah ia saksikan sebelumnya. 


"Aku sama Raisa ada di rumah sakit sekarang. Anak kami udah lahir," ucap Rafi, diikuti tetes-tetes air mata yang tak henti keluar dari suduh matanya. 


"Serius?" tanya Rian, yang juga tidak mampu membendung kaca-kaca di matanya. Pria itu juga lekas menanyakan letak rumah sakitnya. 


"Aku ke sana sekarang," ucap Rian yang masih berada di basement mall. Tidak jauh dari letak rumah sakit untuk persalinan Raisa. 


"Ya," singkat Rafi. Pria itu belum bisa banyak berkata-kata. 


Saat menutup telepon dari Rian, Rafi melihat ada puluhan riwayat panggilan tak terjawab dan puluhan pesan yang masuk. Semuanya dari Alea, tapi ia memilih untuk mengabaikan itu semua. 


Rafi menelan salivanya. Anaknya sudah lahir, ia sudah punya anak sekarang. Tidak mungkin ia melakukan hal-hal terlarang seperti hari-hari lalu. Ia memikirkan semua itu sejenak, kemudian kembali menghampiri Raisa dengan tangan yang masih terhubung dengan selang infus. 


"Kamu gimana keadaannya, Sayang?" tanya Rafi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pria itu kembali memanggil sang istri dengan sebutan sayang. 


Raisa terdiam sejenak. Bertanya-tanya dengan sikap Rafi hari ini karena sangat berbanding terbalik dengan apa yang selama ini Rafi tunjukkan padanya. Apalagi, saat pria itu menggendong sang buah hati, nampak begitu tulus dari dalam hati. Pria itu benar-benar menyayangi bayi itu. 


"Udah baik-baik aja, kok. Bang Rian udah tahu atau belum?" tanya Raisa memastikan. Ia khawatir dengan sang kakak yang pasti sudah mencemaskan dirinya karena tidak ada di rumah. 


"Udah aku kasih tau barusan. Sekarang dia on the way ke sini," papar Rafi seraya kembali duduk di dekat Raisa. Tangannya tidak segan meraih tangan wanita itu. 


"Oh ya, kamu udah punya buat anak kita?" tanya Rafi. Sedari tadi, pertanyaan itu muncul di dalam kepalanya. Ia sangat ingin memberi nama yang begitu bagus untuk putri perempuannya itu. 


"Bang Rian kayaknya udah pilih-pilih nama sih, kemarin. Tapi, kalau kamu ingin ngasih nama juga boleh, kok." Raisa mengulas sedikit senyuman. 


"Oke, nanti aku cari-cari nama ya buat anak kita." Pria itu membelai punggung tangan sang istri, yang memang sangat dibutuhkan oleh Raisa saat baru saja pasca melahirkan. 


"Oh ya, Raisa. Aku minta maaf ya selama ini udah jahat sama kamu." Rafi menundukkan kepalanya seolah menunjukkan kalau ia benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan selama ini. 


"Aku janji akan memperbaiki rumah tangga kita," ucap Rafi membuat Raisa bertanya-tanya. 


"Jadi?" Raisa mengangkat kedua alis. "Kamu gak jadi menceraikan aku setelah ini?" Sejujurnya, Raisa memang masih berharap rumah tangga mereka bisa diselamatkan. 


"Iya. Aku janji akan jaga kamu dan anak kita. Aku janji gak akan seperti kemarin-kemarin lagi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Rafi lekas mendaratkan bibirnya pada punggung tangan Raisa. Membuat wanita itu mulai percaya bahwa Rafi akan berubah. 


Rupanya, ucapan Rafi itu didengar oleh Rian yang baru masuk ruangan pasien. "Kamu yakin?" tanya Rian dengan penuh penekanan. Ia tidak akan membiarkan Rafi memberi harapan palsu lagi kepada sang adik. 


"Yakin. Aku janji, Rian. Aku bakal memperbaiki semuanya. Aku ingin merawat anak aku sama Raisa," ucap Rafi dengan nada yang sungguh-sungguh. Pandangannya tepat mengarah pada mata Rian. 


"Aku udah sayang sama Raisa sejak sejam yang lalu. Aku berani sumpah," ucap Rafi seraya menunjukkan jari tengah dan telunjuk secara bersamaan. 


"Oke. Aku pegang janji kamu. Tapi awas, kalau sampai kamu mengecewakan adik aku lagi," ancam Rian dengan penuh penekanan. 


"Akan kupastikan aku gak akan kaya gitu lagi." Kali ini Rafi sudah benar-benar yakin dengan keputusannya. Tekadnya sudah bulat. 


"Tapi, Alea gimana?" tanya Raisa. Memang, perasaan senang memenuhi ruang hatinya selama Rafi dan Rian berbicara tadi. 


Ia bahagia bukan main karena sekarang Rafi sudah benar-benar menyayangi dirinya. Tapi, di sisi lain, ia memikirkan perasaan Alea. Mereka adalah sama-sama seorang wanita. Ia teringat saat ditinggalkan oleh Rafi, rasanya sangat menyakitkan. 


Ia juga khawatir Alea akan merasakan hal yang sama. Lagi-lagi harus ada korban dalam setiap keputusan seperti ini. Wajah Raisa kembali mendung. Wanita itu memang berhati sangat lembut. Ia bahkan peduli dengan wanita yang selama ini menjadi kekasih bayangan sang suami sendiri. 


"Nanti Alea biar aku yang urus. Pokoknya kamu tenang aja. Dan kamu Rafi, kamu cukup fokus sama kerjaan dan keluarga, oke?" ucap Rian dengan sungguh-sungguh. Ia memikirkan betul tentang masa depan keluarga Rafi dan Alea. 


"Aku juga bakal blok semua akses sama Alea. Dan ya, mau gak mau aku harus pindah kerja." Rupanya Rafi memang tidak main-main dengan keputusannya. 


"Bagus, nanti aku bantu urus sama atasan. Kamu juga gak perlu khawatir sama Alea, aku akan jaga dia. Aku masih sangat sayang dia," ucap Rian dengan penuh keyakinan. 


Karena mau bagaimana pun sikap Alea pada dirinya, perasaan Rian pada Alea memang tidak akan pernah bisa hilang. 


"Makasih ya, Rian. Makasih juga Raisa, masih mau nerima aku padahal aku udah jahat banget sama kamu." Rafi kembali menggenggam tangan Raisa. Ia memang sangat menyesal dengan perbuatannya di hari-hari lalu. 


***


Di tempat lain, Alea nampak tengah duduk seorang diri di sebuah coffee shop. Wajahnya begitu mendung, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sudah berhari-hari Rafi tidak menghubungi dirinya, bahkan nomornya sudah tidak aktif. 


"Jahat banget sih, Rafi," lirih Alea dengan pandangan yang kosong. 


Tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang menghampiri wanita itu. "Hai, cewek," goda laki-laki itu. Pakaian Alea memang mengundang laki-laki seperti itu untuk datang. 


Baju Alea cukup ketat, dengan bagian dada yang terbuka. Tentu semua laki-laki sangat tertarik untuk mendekatinya. 


Sudah biasa bagi Alea digoda oleh laki-laki seperti itu. Ia tidak merasa khawatir selagi ia berada di tempat yang aman. Terlebih, ini hanya sebuah coffee shop. 


"Bisa pergi gak?" ancam Alea pada dua laki-laki yang kini sudah duduk di hadapan Alea. "Bisa pergi gak?" teriak Alea, kemudian dihampiri oleh pelayan laki-laki yang ada di sana. 


Pelayan itu membantu Alea untuk mengusir dua laki-laki tak jelas itu. Alea tidak mengucapkan terima kasih sedikit pun pada pelayan itu karena pikiran dan hatinya sedang sangat kalut. 


Ia sangat rindu dengan Rafi. Momen-momen kebersamaan mereka selama ini, tidak bisa lepas dari ingatannya. 


Tidak terasa, air mata Alea sudah turun melewati pipi. Ia tidak bisa membendung lagi.