
Psikolog perempuan itu menyimak setiap perkataan yang keluar dari bibir Raisa. Ia membiarkan Raisa menceritakan semua yang mengganjal dalam hati dan pikirannya.
Kemudian, saat Raisa sudah berhenti menceritakan semuanya, sang psikolog itu baru kembali membuka suara.
"Jadi begini, Raisa," ucap psikologi tu mula-mula. Ia berbicara seraya terus menatap kedua mata Raisa. "Baby blues itu wajar bagi setiap ibu pasca melahirkan. Terlebih, ibu baru seperti kamu ini. Kamu tidak sendirian, kok. Ada banyak jutaan ibu di luar sana yang merasakan hal yang sama."
"Lalu saya harus bagaimana, Dok?" potong Raisa, ia ingin segera mengetahui jalan keluar yang harus ia ambil.
"Tenang, Raisa. Semua ada solusinya. Pertama-tama, cobalah untuk memperbanyak komunikasi dengan suami kamu. Ceritakan semua yang mengganjal dalam hati dan pikiranmu. Jangan sungkan sama suami sendiri."
Kemudian, psikolog itu juga menjelaskan agar Raisa juga lebih sering menjalin komunikasi dengan sang buah hati. Saat seseorang mampu berbicara dengan anak kecil, akan menumbuhkan rasa bahagia di dalam hati
*
Satu minggu kemudian
Raisa tertegun sendirian usai menidurkan bayi Rara. Selama bertikai dengan Rafi dan Alea, Raisa tidak mau tidur satu ranjang dengan sang suami.
Seperti saat Rafi usai berselingkuh dengan Alea kala itu, Rafi dan Raisa harus pisah ranjang karena Raisa masih sangat sakit hati.
Namun, malam ini, Raisa memikirkan semuanya. "Apa aku terlalu egois?" tanya Raisa dalam hati.
"Untuk apa aku marah-marah seperti ini, kalau mereka saja sudah khilaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya? Bukankah semua orang pernah melakukan kesalahan?"
Berbagai pertanyaan dan pertimbangan muncul dalam kepala Raisa.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu kamar Raisa. Wanita itu pun terbangun dari pikiran panjangnya.
"Ya, buka saja," perintah Raisa karena malas untuk beranjak ke dekat pintu.
"Sa?" panggil Rafi seraya masuk ke dalam kamar meskipun Raisa belum mempersilahkan sang suami masuk ke dalam kamarnya. "Aku kangen baby Rara, mau gendong boleh gak?" tanya Rafi dengan penuh pelan.
"Boleh, tapi dia sudah tidur sekarang," ucap Raisa dengan perasaan yang lebih lega dari pada sebelumnya.
Jika kemarin-kemarin, saat diajak berbicara oleh sang suami, suasana hatinya semakin memburuk. Namun saat ini, sepertinya suasana hatinya sudah membaik. Terlebih, ia juga sudah sangat rindu dipeluk dan disayang sang suami yang sangat dicintainya.
"Serius, Sayang?" Rafi seolah tidak percaya.
Raisa meraih tangan Rafi. "Iya, Sayang. Maafkan aku, ya. Maaf kalau sikapku akhir-akhir ini melukai hati kamu."
"Gak apa-apa, Sayang. Justru aku yang selalu harus minta maaf. Tapi aku benar-benar sudah khilaf, Sayang. Kamu tolong percaya aku ya," ucap Rafi dengan nada yang begitu serius. Ia mengatakan semua dengan sejujur-jujurnya.
Esok paginya, Raisa mengajak Rafi untuk berkunjung ke rumah Rian dan Alea untuk memperbaiki hubungan persaudaraan mereka. Tidak lupa, Raisa juga mengajak bayi Rara.
Tok tok tok
Rafi mengetuk pintu rumah Alea dan Rian. Tidak lama kemudian, Alea datang untuk membuka pintu.
"Silakan masuk," ucap Alea dengan canggung karena ia mengira Raisa masih marah pada dirinya.
Mereka semua pun menuju ke ruang televisi di mana Rian berada. Kaki pria itu sudah mulai membaik. Meskipun masih berjalan menggunakan tongkat. Namun, kondisinya sudah jauh lebih baik.
"Abang," sapa Raisa, lantas memeluk sang kakak tercinta.
Alea yang duduk tepat di sebelah Rian hanya bisa memperhatikan pemandangan itu. Namun, ia seketika membelalakkan mata ketika Raisa tiba-tiba memeluk dirinya juga.
Alea pun perlahan membalas pelukan sang adik ipar. "Sama-sama, ya. Aku juga minta maaf. Kamu orang baik banget, aku gak akan tega menyakiti perasaanmu lagi, Raisa, sungguh."
Seketika rumah itu menjadi hangat, sebagaimana kehangatan yang mulai terjalin kembali antara dua keluarga itu.
Beberapa bulan kemudian.
Kandungan Alea sudah memasuki usia sembilan bulan lebih. Sejak kemarin, perutnya sudah merasa tidak enak. Ia merasa seperti ingin buang air besar, namun tidak.
Hari ini, Alea sudah pecah ketuban. Rian pun segera membawa sang istri ke rumah sakit.
"Aduh, Ayang. Ini sakit banget banget banget," keluh Alea seraya mendesis kesakitan. Punggungnya pun terasa begitu nyeri.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai kok." Rian terus menenangkan sang istri seraya memegangi tangan Alea.
Pria itu berusaha menenangkan suasana yang menegangkan ini, meskipun sebenarnya dirinya juga cemas sekali.
Setibanya di rumah sakit, wanita itu langsung ditangani oleh dokter kandungan. Rian menemani sang istri di dalam ruangan.
Dokter memberi aba-aba kapan Alea harus mengejang dan kapan harus mengatur napasnya. Alea mengikuti arahan dokter dengan sangat baik.
Namun, ia tidak bisa menahan rasa sakit yang dirasakan kini. Ia benar-benar belum pernah merasakan sakit yang separah ini sebelumnya.
"Aaaaaaaa huh huh hah." Alea mencengram tangan Rian yang memegangi tangannya. Sejenak Rian meringis kesakitan karena kuku Alea panjang.
"Sabar, Sayang," ucap Rian terus menenangkan.
Tidak lama kemudian, buah hati Alea pun lahir ke dunia ini.
"Oeekkk ... Oekkk ... " Bayi perempuan itu menangis, membuat Alea dan Rian pun turut menitikkan air mata karena terharu.
"Ayang, dia udah lahir," lirih Alea dengan suara yang hampir tak bisa didengar karena wanita itu memang sangat kelelahan.
"Iya, Sayang. Kita sudah punya anak. Kita sudah jadi bapak dan ibu," ucap Rian seraya menatap kedua netra Alea.
Wajah Alea basah kuyup oleh keringat karena proses persalinan yang sangat melelahkan dan menguras keringat.
Setelah bayi itu dibersihkan oleh perawat, bayi itu pun diletakkan pada dada Alea. Alea dan sang buah hati dapat merasakan detak jantung dan deru napas masing-masing.
Sore harinya, Raisa dan Rafi datang untuk menengok anak Alea.
"Alea, selamat ya atas kelahiran anak pertamanya," ucap Raisa seraya mendekat pada Alea yang masih terbaring di ranjang.
"Iya, makasih ya, Raisa." Sebenarnya, dalam hati Alea, ada rasa bersalah karena bayi yang kini lahir adalah hasil hubungan gelapnya dengan Rafi.
Namun, karena Raisa bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa, Alea pun ikut mengalir dengan suasana yang membahagiakan ini.
Begitu juga dengan Rian. Pria itu merasa tidak ada masalah sedikitpun dengan masa kelam yang dilakukan Alea. Baginya, yang terpenting Alea sudah mau berubah dan menerima dirinya seutuhnya.
Mereka pun berfoto bersama dengan bayi Alea yang baru lahir. Wajah bayi itu mirip sekali dengan Alea. Mereka semua tersenyum bahagia.
-TAMAT-