Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 15


"Kita pulang lusa, Sayang. Sesuai dengan jumlah hari cuti yang kita ajukan ke kantor," ucap Rafi menjelaskan. 


"Asik, masih ada waktu dua hari. Kita mau ke mana lagi, Honey?" tanya wanita itu yang kini kepalanya sudah ia sandarkan pada dada atletis Rafi.


"Mmm." Rafi nampak berpikir keras. "Ke kebun teh, mau?" Pria itu menawarkan kebun teh yang tak kalah indah dengan air terjun yang telah mereka kunjungi beberapa hari yang lalu. 


Sontak Alea bangkit. Kepalanya tak lagi pada dada Rafi. "Mau mau mau," ucapnya mengiyakan tawaran Rafi seraya mengangguk-anggukkan kepala. 


"Ya udah mau hari ini atau besok pagi?" Rafi mulai membelai rambut kepala Alea yang kini sudah kembali bersandar pada dada bidangnya. 


"Besok pagi aja deh, pagi-pagi gitu seru. Ini kan udah jam segini," ucap Alea memberikan pendapat. Ini memang sudah siang, rasanya lebih nyaman untuk bergoleran di kasur bersama orang tersayang dibandingkan harus jalan-jalan ke luar. Meskipun tetap bersama dengan orang yang disayang juga. 


"Okay," ucap Rafi mengaminkan pendapat Alea. Pria itu meraih remot televisi untuk menonton apa-apa yang keluar dari layar itu. 


"Oh ya, kalau udah lapar bilang ya, biar aku cari makanan," bubuh Rafi dengan penuh perhatian. 


"Of course, Honey," sahut Aela seraya merebut benda yang ada dalam genggaman pria yang ada di sebelahnya. 


Tadi, Rafi menonton berita di salah satu stasiun televisi. Sementara itu, Alea sangat benci dengan acara berita. Ia lebih suka dengan acara-acara yang santai seperti acara review makanan, acara masak-memasak, dan sebagainya. 


Walaupun wanita itu sama sekali tidak bisa memasak, tapi, ia suka saja kalau melihat ada orang memasak. Ia juga sebenarnya ingin bisa masak. Hanya saja, rasa malas masih menghantui dirinya untuk mencoba belajar masak. 


"Honey, aku pengin makan sekarang," ucap Alea dengan nada yang begitu manja. Pandangan matanya ia arahkan tepat pada kedua mata Rafi. 


"Okei. Mau makan apa?" Seperti biasa, Rafi selalu menanyakan Alea untuk makan apa yang diinginkan. Sedangkan dirinya nanti hanya ikut-ikutan dengan makanan yang diinginkan oleh kekasih gelapnya itu. 


Selain karena malas memilih makanan yang ia suka, menurutnya juga agar tidak ribet. Lagipula, dia bisa memakan apa saja selagi memang bisa dimakan dan tidak begitu pedas. 


"Mmm ..." Alea nampao sedang menimbang-nimbang. "Makan apa, ya?" Wanita itu nampak masih berpikir dengan keras. Padahal, itu hanya soal makanan. "Mau bakso aja deh. Ada gak, Honey?" tanya Alea memastikan. 


Jika memang makanan yang diinginkan itu tidak ada di sekitar vila, maka ia bisa merubah keinginannya. Itu agar Rafi tidak perlu repot-repot mencari ke sana kemari untuk dirinya. 


"Ada dong, Sayang." Lantas Rafi pun mengiyakan. Ia tahu warung bakso yang ada di dekat sini. Vila ini adalah vila milik keluarga Rafi. 


Saat masih kecil, dalam masa liburan sekolah, keluarga Rafi selalu berlibur ke sini. Hal itu membuat Rafi dapat mengetahui tempa-tempat apa saja di daerah sana. 


"Akan aku belikan sekarang." Rafi lantas berdiri. Pria itu mengambil dompet sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi membeli dua porsi bakso. 


"Take care, Honey," ucap Alea saat tubuh Rafi mulai hilang dari pandangan wanita itu. 


Tidak lama kemudian, ponsel Alea yang ada di atas meja kini berdering. Pertanda ada seseorang yang tengah menelepon dirinya. Nama Rian yang muncul pada layar ponsel milik Alea itu. 


"Halo, Big bro," sapa wanita itu pada orang yang tersambung dalam ponselnya. Ia memang sudah menganggap Rian sebagai seorang kakak. Itulah kenapa Alea memanggil Rian dengan Big bro sebagai panggilan akrab. 


"Alea, kamu lagi sendiri atau sama Rafi?" tanya Rian sembari berharap semoga Alea sedang tidak bersama sahabat prianya itu. Meskipun ia tahu, bahwa Alea dan Rafi akan menempel terus seperti perangko di vila itu. 


Akan tetapi, tidak ada salahnya, karena pria itu ingin berbicara berdua dengan Alea tanpa didengar oleh Rafi sedikitpun. 


"Lagi sendiri, kenapa?" tanya Alea penasaran. Wanita itu lebih terbuka pada Rian dibandingkan Rafi yang kini seolah sudah bermusuhan dengan Rian. 


"Rafi lagi ke luar, beli bakso," bubuh Alea menjelaskan. "Baru banget, kok dia perginya. Emang kenapa?" tanya Alea penasaran. Karena jika ingin menghubungi Rafi, ia akan mempersilakan Rian untuk langsung menghubungi Rafi melalui ponselnya langsung. 


"Ya udah, aku mau ngomong berdua sama kamu." Rian menjelaskan bahwa dirinya sangat ingin berbicara berdua saja dengan Alea. Bahkan rencananya, ia akan mengungkapkan perasaan yang telah ia pendam selama ini. 


Barangkali dengan mengatakan hal itu, akan membuat Alea luluh padanya, dan mau meninggalkan Rafi. Rafi pun akan meninggalkan Alea dan kembali pada Raisa. Rencananya memang cukup rumit, tapi ia berharap banyak agar rencananya itu bisa terwujud. 


Semua ini ia lakukan demi kebaikan sang adik. 


Alea menyipitkan mata sejenak. "Mau ngomong apa, My big bro?" tanya wanita itu semakin penasaran. 


"Alea, kamu tahu kan kalau apa yang kamu perbuat sama Rafi itu salah. Salah besar malah." Rian berusaha menyadarkan sahabat wanitanya itu. Bahwa wanita itu sekarang sedang berada di jalan yang salah dan menyimpang. 


Alea menelan salivanya. "Ya, aku tahu, kok. Tapi kan kamu tahu sendiri aku udah sesayang apa sama Rafi, Rian. Aku sayang banget, sayang banget. Dari dulu," tegas Alea. Entah sudah ia katakan pada Rian, bahwa ia sudah menyukai Rafi sejak beberapa tahun yang lalu. Alea berharap Rian bisa mengerti perasaannya. 


"Terus?" Rian mencoba memberikan Alea kesempatan berbicara. 


"Ya aku pengin bareng-bareng terus sama orang yang aku cintai selama itu. Bertahun-tahun loh, Rian. Itu udah lama banget aku memendamnya." Nada bicara Alea mulai sedikit meninggi karena Rian seolah terus menyudutkan dirinya dan Rafi akhir-akhir ini. 


"Jadi kalau aku sayang kamu sejak lima tahun lalu, aku juga harus bareng-bareng sama kamu terus, gitu?" Rian berusaha membuat persamaan antara kisah dirinya dengan Alea, pun antara Alea dengan Rafi. 


"Aku sayang sama kamu sejak kita masih bareng-bareng di bangku perkuliahan, Alea." Akhirnya, Rian mengungkapkan perasaan yang telah lima tahun ia pendam. 


Ungkapan Rian itu sontak membuat Alea membelalakkan mata. "What?" tanya Alea dengan terkaget-kaget. "Apa iya, Rian?" tanya Alea memastikan. "Selama itu?"


"Iya," lirih Rian. "Jadi, bagaimana? Aku mau kita bareng-bareng. Tinggalkan Rafi dan mulai hubungan baru sama aku."