
Setelah berkali-kali menghubungi Alea namun tidak ada jawaban, akhirnya Rian pun menyerah. Pria itu berdecak kesal seraya melempar pelan ponselnya ke atas meja.
Tanpa terasa, jam bekerja kembali tiba. Waktu istirahat sudah habis terpakai untuk mencoba menghubungi Alea namun tidak ada hasilnya.
Rian pun sama sekali tidak mengisi perutnya dengan makanan pada siang ini. Ia hanya meminum segelas air putih yang ia ambil dari dispenser yang tersedia di dalam ruangan itu.
Setelahnya, ia pun kembali melanjutkan pekerjaan. Walaupun perutnya keroncongan karena kosong, namun laki-laki itu sama sekali tidak memikirkan urusan perut.
Pikiran Rian justru kini terbagi dengan Alea. Ia sangat merasa khawatir dengan keadaan wanita yang begitu dicintainya sekarang.
Sore harinya, sepulang dari bekerja, Rian langsung tancap gas menuju ke kosan Alea. Rasa penasaran bercampur kecemasan, tidak henti hilang dari dalam benak Rian sejak waktu istirahat tadi.
Tanpa menghubungi Alea lagi, Rian langsung memikirkan mobilnya di depan kosan Alea. Dengan tergesa-gesa, pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar Alea.
"Alea?" panggil Rian seraya mengetuk pintu kamar Alea. Ia terus memanggil-manggil nama wanita yang sangat ia sayangi itu.
"Alea?" Diikuti dengan suara ketukan pintu, Rian masih terus mencoba memanggil sang pujaan hati. Berharap Alea segera membuka pintu kamarnya.
Setelah cukup lama menunggu namun tidak ada jawaban, akhirnya Rian pun mencoba membuka pintu itu sendiri. Ternyata pintu kamar Alea sedang tidak terkunci.
"Alea? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Rian dengan suara penuh kelembutan. Pria itu mendekat pada Alea.
Ia duduk pada tepi ranjang. Sementara itu, Alea nampak memejamkan mata dengan wajah yang begitu pucat.
Mendengar suara Rian, Alea pun mulai membuka mata meskipun sangat berat untuk membuka mata. "Rafi?" panggil Alea dengan nada yang antusias.
Karena terlalu merindukan Rafi, Alea sampai salah menyebut nama. Pun wanita itu membayangkan Rafi datang untuk menemuinya sejak kemarin. Ia benar-benar membutuhkan Rafi untuk saat ini.
Mendengar Alea yang salaj menyebut nama, membuat Rian menelan saliva. Sebenarnya, ia merasa kecewa karena Alea masih saja memikirkan sang adik ipar.
Namun, dengan sabar, Rian mencoba memaklumi wanita itu. Memang susah yang namanya melepas seseorang yang sangat dicintai dari dalam ingatan. Seperti dirinya yang setiap waktu selalu teringat dengan Alea.
"Ini Rian, Alea," jelasnya dengan pelan. Berharap Alea bisa mengenali dirinya dan perlahan melupakan Rafi dari dalam ingatannya, karena bagaimana pun juga Rafi tidak akan pernah bisa kembali pada Alea.
"Rian? Kamu ngapain ke sini?" tanya Alea dengan volume suara yang hampir tak bisa didengar karena saking lemasnya.
"Kata anak kantor kamu sakit, makanya aku ke sini. Kamu sakit apa, Sayang?" Dengan telaten, Rian menunjukkan rasa perhatiannya kepada Alea.
Sesekali pria itu membelai rambut kepala Alea yang nampak mulai kusut. Entah kapan terakhir wanita itu mandi.
"Iya, Rian. Tolong aku. Kepalaku sakit banget, perutku juga ingin muntah terus," ujar Alea dengan mata kembali tertutup.
Ia tidak sanggup untuk membuka mata lama-lama karena merasa pusing kepalanya.
"Hoekkk." Tiba-tiba Alea kembali mual. Ia segera bangkit dari tidurnya.
Namun, itu dicegah oleh Rian. Ia justru mengambilkan satu buah kresek yang bisa digunakan Alea untuk memuntahkan apa yang ingin dimuntahkan dari dalam perutnya.
"Pakai ini aja. Biar gak usah repot-repot berdiri kamunya." Rian meletakkan kantong kresek itu tepat di bawah mulut Alea tanpa rasa jijik sama sekali.
Setelah dirasa cukup, Rian membuang kantong kresek kotor itu ke dalam tempat sampah yang ada di depan gerbang kosan Alea.
Saat di depan kosan, Rian melihat ada penjual bubur yang sedang mangkal di seberang jalan. Lantas ia pun memutuskan untuk membeli bubur itu.
Setelah mendapatkan bubur itu, Rian pun kembali ke kamar Alea.
"Alea?" panggil pria itu pada Alea yang masih memejamkan mata. Wanita itu benar-benar nampak tidak berdaya sekarang.
"Makan bubur dulu, yuk. Kamu pasti belum makan, kan?" Rian membelai dahi Alea dengan sangat tulus.
Tidak lama kemudian, Alea pun membuka mata. "Aku emang lapar banget, Rian. Dari tadi malam udah lapar banget. Tapi gak bisa ke mana-mana karena kepalaku sakit banget."
Alea mulai membuka mata dan bangkit dari tidur. Wanita itu menyenderkan kepala dan punggungnya pada kepala ranjang.
Hati Rian seolah teriris mendengar ucapan Alea. Pria itu merasa gagal dalam menjaga Alea. Bahkan wanita yang sangat ia cintai itu sampai menahan rasa lapar saat sakit karena memang ia tidak memiliki siapa-siapa yang bisa dimintai bantuan.
"Maaf ya, aku baru ke sini. Aku gak tau soalnya," ucap Rian dengan nada penuh penyesalan. Andai saja kemarin ia memastikan kondisi Alea setelah mengantarnya pulang.
"Gak apa-apa, Rian. Bukan tugas kamu, kok," ucap Alea dengan nada yang begitu lemas.
Rian pun mulai menyendokkan bubur ayam pada mulut Alea. Meski merasa ingin muntah terus-menerus, tapi Alea juga lapar karena semua makanan dalam perut telah dimuntahkan banyak sekali.
Alea mengunyah suapan terakhir karena buburnya sudah habis. "Makasih ya, Rian. Aku jadi merepotkan kamu terus."
"Sama-sama, Sayang. Gimana sekarang rasanya?" tanya Rian memastikan kondisi tubuh wanita yang ada di depannya itu.
"Rasanya..." Saat hendak menjawab pertanyaan Rian, tiba-tiba ucapan Alea harus terpotong karena rasa mualnya kembu menjalar.
Wanita itu lagi-lagi muntah banyak sekali. Ia memuntahkan semua bubur yang baru saja ia makan.
Rian yang tidak tega melihat wanita yang ia cintai sakit begini pun membujuk Alea untuk dibawa ke rumah sakit.
"Ke rumah sakit aja yuk, kita periksa," bujuk Rian dengan pelan sekali.
Pria itu sangat paham jika Alea sangat sulit diajak untuk ke rumah sakit. Tapi, kondisi Alea sudah sangat lemah menurutnya. Alea harus menyingkirkan ego dan rasa takutnya demi kesehatan tubuhnya.
Benar saja, Alea menolak. Wanita itu sontak menggeleng-gelengkan kepala. "Aku gak mau disuntik, Rian," rengek wanita itu.
"Gak akan disuntik, Sayang. Nanti biar aku yang bilang agar kamu gak disuntik," ucap Rian mencoba menenangkan Alea. "Aku janji kamu gak akan disuntik," ucap pria itu lagi dengan penuh penekanan seolah benar-benar meyakinkan.
"Tapi, aku juga gak mau minum obat." Alea terus merengek karena ia memang tidak suka dengan segala yang berhubungan dengan rumah sakit.
"Obatnya gak pahit, kok. Serius."
Setelah memakan waktu yang lama untuk membujuk Alea, akhirnya pria itu pun berhasil menjalankan misinya untuk membawa Alea ke rumah sakit.
Ia juga khawatir dengan keadaan wanita itu. Apalagi, ia tidak bisa menjaga penuh Alea selama dua kali dua puluh empat jam.