Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 24


Ponsel Rafi yang ada di saku celana tiba-tiba berdering, bersamaan dengan Alea yang sudah hilang dari pandangan. Pria itu menduga bahwa Alea lah yang mungkin menghubungi dirinya. Barangkali kekasih gelapnya itu sudah kembali rindu walau baru beberapa detik tidak bersama. 


Namun tidak, seseorang yang menghubungi dirinya bukanlah Alea, melainkan Rian. Rafi yang berdecak kesal sejenak. Untuk apa Rian menghubungi dirinya lagi dan lagi? Rafi sedang ingin sendiri untuk satu kali ini. 


"Hadeh, dia lagi dia lagi," cibir pria itu dengan sedikit memukul setir mobil. Rasanya ia sudah lelah dengan hubungan yang rumit ini. 


Pria itu merasa ingin menceraikan Raisa setelah sang istri itu melahirkan. Ia sudah tidak akan berpaling dari Alea. Rafi sudah mantap memilih Alea sebagai tambatan hati. Mungkin, Alea memang lah cinta sejatinya. 


Rafi menghela napas sejenak. Kemudian menggeser tombol terima pada layar ponselnya. 


"Ya, halo?" tanya Rafi dengan nada yang ogah-ogahan. 


"Kalau kamu masih peduli sama Raisa, cepat ke rumah sakit sekarang!" perintah Rian dengan suara yang tak karuan. Dapat terdengar bahwa ada kondisi tak baik-baik saja di sekitar Rian pada saat ini. 


"Ru-rumah sakit?" Dalam benak Rafi langsung timbul beberapa pertanyaan. Ia berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan Rian. 


Raisa? Rumah sakit? Ada apa ini? 


Baru saja Rafi hendak bertanya mengenai hal itu, tapi Rian sudah langsung mematikan telepon. Rafi semakin kesal. Entah mengapa, laki-laki itu sudah tidak lagi merasa cemas dan peduli dengan sang istri. Bahkan ia seolah tak memiliki rasa belas kasihan sama sekali. 


Tapi, ia seolah berusaha membolak-balikan hati dan pikirannya sendiri. Apa iya dirinya begitu tega dengan istri sendiri?


Akhirnya, dengan sedikit rasa malas dan juga ada rasa penasaran, Rafi menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Ia menanyakan letak rumah sakit kepada Rian melalui pesan terlebih dahulu sebelum itu. 


Tiba di rumah sakit, Raisa sudah dipindahkan ke ruang inap, tidak lagi ada di ruang Unit Gawat Darurat. Ada selang infus yang menempel di tangan kiri wanita itu. Kondisinya sangatlah lemah. Rafi hanya bisa terdiam melihat semua pemandangan itu. 


Kini di ruangan itu ada Raisa, Rian, dan Rafi. Tapi, ketiganya tidak ada yang berbicara sama sekali. 


"Ehm." Rafi berdeham basa-basi untuk sekedar memecahkan keheningan. "Sa?" Pria itu berusaha menyentuh tangan sang istri. 


Tapi, kemudian ditepis oleh Raisa. Wanita itu menyingkirkan tangan Rafi, pandangan wajahnya pun tidak melirik Rafi sama sekali. Membuat Rafi sadar diri, lalu kembali duduk di sofa yang letaknya agak jauh dari ranjang pasien. 


"Tadi awalnya gimana emang, Sa?" tanya Rian dengan nada yang begitu pelan, seperti sosok Rian yang semula. "Kok bisa sampai jadi kaya gini, hm?" 


Rian tak bisa berhenti menunjukkan rasa penasarannya. Bagaimana tiba-tiba Raisa bisa berlumuran darah seperti tadi? Untung saja ada dirinya yang datang tepat waktu. 


Raisa melirik pada sang kakak. Ia tidak membalas apa-apa. Wajahnya pun datar saja. 


"Masih sakit gak? Mana yang sakit?" tanya Rian lagi. Menunjukkan bahwa laki-laki itu sangat perhatian dengan adiknya. Rasa sayangnya melebihi dunia dan seisinya. 


"Di sini, Abang," ucap wanita itu seraya menunjukkan tangannya ke arah perut. "Aku takut kenapa-kenapa. Jangan ke mana-mana ya, Abang," pinta Raisa seraya meraih tangan Rian. 


Hanya itu yang bisa ia lakukan. Hanya Rian satu-satunya yang selalu ada dan mengerti dirinya. Raisa sudah tidak mengharap belas kasihan dari Rafi sama sekali. Hanya saja, ia berusaha untuk menghargai posisi Rafi karena hingga kini, mereka masih berstatus sebagai seorang suami istri. 


"Masih, Abang."


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu saat Rian dan Raisa sedang berbincang. Sementara itu, Rafi hanya bermain ponsel di tempat duduk seperti semula. 


"Mama," sapa Rian setelah menengok dan mendapati sang mama datang untuk menjenguk putri tercinta. 


"Sa, kamu kenapa, Nak? Kok bisa begini?" tanya sang mama dengan nada cemas dan khawatir. Wanita karir itu menenteng tas branded miliknya. Ia berjalan mendekat pada Raisa. 


Sang mama pun mendekap pelan tubuh Raisa. 


"Mama," ucap Raisa seraya membalas pelukan itu. "Aku juga gak tau, Ma. Kata dokter si karena banyak pikiran," tuturnya menjelaskan. Pandangannya mengarah pada perutnya. 


Dari kejauhan, Rafi mendengarkan obrolan mereka. Namun, pria itu tidak berani mendekat karena merasa bersalah. 


"Banyak pikiran kenapa, Sayang?" Mama Raisa duduk di sebelah ranjang pasien seraya membelai kepala putri tercintanya. 


Raisa hanya bisa terdiam tanpa menjawab satu patah katapun. 


"Gara-gara Rafi itu, Ma." Rian mulai mengadu bahwa keadaan rumah tangga Rafi dan Raisa sedang tidak baik-baik saja.


Mama Raisa pun melirik ke arah Rafi. Pria itu hanya bisa meremas jari-jemari karena merasa dirinya sedang dibicarakan. "Rafi kenapa memangnya?"


"Dia selingkuh," papar Rian. Sorot kedua matanya sangat tajam ke arah Rafi. "Raisa jadi kepikiran masalah itu," tambah Rian. 


"What?!!" pekik mama Raisa karena begitu terkejut mendengar kabar ini. "Sejak kapan, Nak?" 


"Udah lama. Dia udah main gila sama wanita lain, Ma." Rian satu persatu menceritakan jalan cerita rumah tangga Rafi dan Raisa. Membuat wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya. 


Rian juga cerita bahwa Rafi pernah tidak pulang satu minggu hanya karena ingin berduaan dan bermesraan dengan kekasih gelapnya di luar kota. Awalnya, Raisa tidak tahu, tapi lama-lama sang istri itu tahu. Hingga kemudian, hal yang tak diinginkan terjadi. Raisa pendarahan secara tiba-tiba. 


"Astaga, Rafi!" ujar mama Raisa dengan penuh penekanan. "Kalau udah gak mau sama anak saya ya ceraikan saja," tegas mama Raisa. 


"Kemarin aku udah ke pengadilan sama Raisa, Ma. Tapi ditolak karena Raisa masih dalam keadaan hamil." Raisa menuturkan yang sebenarnya terjadi. 


Rian dan Raisa memang tidak begitu akrab dengan sang mama sebenarnya. Itu karena sang mama terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Momen-momen seperti ini adalah momen yang sangat jarang bagi mereka. 


Oleh karena itu, mama Raisa tidak mengetahui kabar terbaru tentang putrinya. Apalagi, Rian dan Raisa bukanlah tipe anak yang suka menceritakan masalah mereka kepada orang tua. Apalagi ini masalah rumah tangga, menurutnya tidak baik jika orang tua ikut campur. 


"Maaf, Tante. Saya dari awal sebenarnya memang tidak mencintai Raisa," ungkap Rafi dengan sejujur-jujurnya. Membuat hati Raisa semakin perih, hati sang mama juga ikut perih, apalagi hati Rian yang sudah mengetahui semuanya sejak awal. 


"Saya akan mengurus surat perceraian setelah bayi dalam kandungan Raisa lahir. Saya mohon maaf. Saya janji akan bertanggung jawab untuk menghidupi anak itu nantinya." Rafi sudah sangat berani mengungkapkan apa yang ia rasakan.