
Satu minggu kemudian.
Setelah kejadian kecelakaan mobil Rian, pria itu sempat dirawat selama lima hari di rumah sakit, hingga akhirnya diizinkan pulang oleh dokter. Kondisinya sudah membaik, hanya saja pada bagian salah satu kakinya masih belum bisa digunakan untuk berjalan.
Dokter sudah melakukan operasi pada tulang kaki Rian yang patah. Kakinya akan bisa digunakan untuk berjalan dan berfungsi seperti semula. Hanya saja, proses pemulihannya tidak sebentar.
Raisa rutin menjenguk sang kakak jika ada waktu yang senggang. Namun, saat menjenguk Rian, ia masih belum mau diajak berbicara oleh Alea. Hubungan antara Raisa dan Alea sekarang tidak harmonis, tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Alea terus merawat Rian sebisa mungkin, walau wanita itu sendiri suasana hatinya sedang naik turun karena pengaruh hormon masa kehamilan. Tapi, ia berusaha semakimal mungkin untuk melakukan yang terbaik demi sang suami.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu saat Alea tengah menyuapi Rian sarapan. Alea meletakkan satu mangkuk bubur di atas meja.
"Ayang, aku buka pintu dulu, ya," pamit Alea pada sang suami.
"Iya, Sayang. Aku bisa makan sendiri, kok."
Rian lalu mengambil semangkok bubur itu untuk ia makan sendiri karena tangannya tidak ada yang terluka. Hanya tersisa luka-luka di kepala dan wajahnya yang sudah mulai mengering.
Setelah Alea membuka pintu, ternyata yang datang adalah Alea. Wanita itu menyambut tamunya dengan senyum getir karena ia sadar Raisa tengah marah padanya saat ini.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Raisa langsung bergegas masuk menyusul Rian.
"Abang, kok makan sendiri? Sini biar aku suapin Abang." Ia pun merebut semangkok bubur dari tangan Rian.
Raisa seolah tidak terima jika sang kakak diperlakukan dengan tidak baik oleh sang istri. Padahal, apa yang ia tangkap adalah tak lebih dari salah paham semata.
Raisa tak membalas, wajahnya nampak tidak mengenakkan. Sementara itu, Alea memilih duduk dan diam. Wanita itu takut dengan Raisa karena tidak pernah melihat Raisa seperti ini sebelumnya. Bahkan saat ia berselingkuh dengan Rafi pun, Raisa masih menerima walau dengan berat hati.
Namun kali ini, Raisa seolah tidak bisa memberi ampun atas hasil perselingkuhan itu. Raisa seolah tidak rela jika sang suami memiliki anak dari wanita selain dirinya.
Setelah sarapan, Raisa membereskan mangkok yang berisi bubur tadi. Kemudian, ia membuatkan kopi untuk Rian.
"Abang, minum kopi dulu biar segar," ucap Raisa seraya mengarahkan secangkir kopi hitam di depan Rian.
Alea yang melihat pemandangan itu, langsung membelalakkan mata. "Eh, jangan. Kafein gak baik buat kesehatan tulang. Ayang kan baru proses pemulihan dari patah tulang," papar Alea meluruskan.
"Emang iya, Sayang?" tanya Rian, pria itu tidak begitu tahu menahu perihal apa yang dibicarakan oleh sang istri.
Alea lantas menganggukkan kepalanya. "Iya, bisa menghambat penyerapan kalsium," imbuh Alea. Wawasan tentang medis Alea memang cukup luas.
"Masa sih?" tanya Raisa seolah tidak percaya.
"Iya, Raisa." Alea tetap teguh pada pengetahuannya.
Raisa tak membalas penuturan Alea. Wanita itu justru meraih tasnya di atas sofa. "Abang, aku pulang dulu, ya. Abang cepat sembuh," ucap Alea dengan memeluk sang kakak.
"Iya udah deh," ucap Rian. Pria itu paham dengan situasi rumit ini.
Raisa pun bergegas melangkahkan kaki. Sementara Alea hanya bisa meratapi kepergian Raisa.