Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 25


"Baiklah kalah memang itu maumu, saya masih bisa rawat anak dan cucu saya," tegas mama Raisa. Rafi tak membalas apa-apa, hanya terdiam saja.


"Tapi, Ma. Aku gak mau cerai. Nanti anak aku gimana nasibnya," ucap Raisa masih teguh dengan pendiriannya yang tidak mau berpisah dari Rafi.


Meski rasa sayang dirinya pada Rafi sudah jauh menipis, tapi kali ini ia sudah tidak memikirkan dirinya lagi. Melainkan memikirkan sang anak nanti. Sang anak pasti tidak akan mendapatkan sosok ayah dari Rafi.


Raisa juga berpikir dirinya akan sangat kesulitan mencari pengganti Rafi untuk sang anak ataupun dirinya. Ia adalah wanita yang sulit jatuh cinta. Tidak bisa dengan mudah menaruh hati pada pria lain.


"Raisa, udah cukup! Kamu udah terlalu diinjak-injak sama mereka," ujar Rian dengan penuh penekanan. "Nanti aku bakal bantu rawat anak kamu, tenang aja." Pria itu terus berusaha menenangkan hati sang adik.


"Iya, Sayang. Kamu juga punya harga diri. Kamu gak sendirian, kok." Sang mama juga turut memberikan dukungan penuh pada sang anak.


Walaupun kebersamaan mereka selalu terbatas, tapi pada saat-saat seperti ini, mama Raisa selalu berusaha ada untuk anak-anaknya.


Jika sudah seperti ini, Raisa tidak berkata apa-apa lagi. Rasanya ingin memberontak, menyalahkan Rafi dan Raisa. Tapi, sungguh, ia tidak bisa. Wanita itu hanya bisa menelan sendiri rasa kecewanya.


Tidak berselang lama, Rafi pergi dari ruangan itu. Suasananya tidak lagi memungkinkan dirinya untuk ada di sana. Walaupun mungkin, Raisa sangat membutuhkan dirinya. Tapi, Rafi sudah terlanjur sedingin itu.


*


Tiga hari setelah kejadian pendarahan, Raisa sudah bisa kembali pulang ke rumah. Hanya saja, wanita itu harus lebih hati-hati dalam menjaga kandungannya.


Ia tidak boleh melakukan aktivitas seperti biasanya. Raisa hanya boleh makan dan tidur saja.


"Kamu mau kan, Sa?" tanya Rian secara tiba-tiba saat mendorong Raisa pada kursi roda, hendak pulang.


"Mau apa, Abang?" Hari ini Raisa merasa sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dan memang harus seperti itu, ia harus bahagia selalu.


Semua yang ada dalam hati dan pikirannya, bisa berpengaruh besar pada bayi yang masih dalam kandungannya.


"Tinggal di rumah Mama Papa aja, kayak dulu lagi. Gak ada untungnya kamu serumah sama Rafi." Sudah berkali-kali Rian mengucapkan kalimat itu, berusaha menyadarkan sang adik tercinta.


Wanita itu sudah harus lepas dari cintanya pada Rafi yang begitu buta.


"Tapi aku kan statusnya masih istri Rafi, Bang. Jadi masih harus tetap melayaninya." Raisa mengucapkan itu dengan begitu tulus. Hati wanita itu memang sangatlah bersih.


"Ayolah, Sa. Sadar. Kamu udah gak perlu baik sama dia. Dia udah buang kamu, lho," ucap Rafi dengan penuh penekanan. Ia berhenti sejenak saat hendak mengangkat tubuh Raisa ke dalam mobil yang sudah ada di hadapan mereka.


Raisa menatap mata sang kakak. "Biar saja mereka yang jahat, Abang. Aku gak perlu. Aku gak mau jadi orang jahat," ucap wanita itu dengan wajah yang sayu dan masih sedikit pucat.


Mendengar perkataan sang adik, membuat Rian menghela napas panjang. "Ya udah, kalau gitu biar aku yang tinggal di rumah kamu. Gimana?" tanya Rian pada Raisa. Berharap adiknya itu mau menerima keberadaan dirinya.


Karena bagaimana pun juga, hanya Rian yang bisa membantu adiknya itu. Sementara Rafi, tidak bisa diandalkan lagi. Pria itu sudah benar-benar bermain berani dengan Alea.


Ia sudah melupakan janji suci yang disaksikan oleh banyak orang saat pernikahan. Pun sudah tidak ingat lagi dengan bayi yang ada di dalam perut Raisa. Padahal bayi itu adalah hasil perbuatannya.


Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, Rafi menjalankan mobilnya untuk pergi ke rumah Raisa. Sang mama, setelah seharian menemani Raisa di rumah sakit, wanita itu langsung kembali ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya.


Wanita paruh baya itu berpesan pada Rian agar selalu menjaga Raisa, bagaimana pun keadaannya. Dan bagaimana pun Raisa menolak untuk ia jaga.


Saat Raisa dan Rian tiba di rumahnya, mobil Rafi sudah terparkir rapi di garasi, membuat Rafi menyipitkan kedua alis.


"Tumben jam segini udah di rumah," batin Rian dalam hati. Ia paham betul bagaimana Rafi dan Alea yang telah dibutakan oleh cinta.


Sesekali ia berpikir positif, apakah Rafi sudah bertaubat untuk meninggalkan Alea dan kembali pada Raisa?


Tapi, saat Rian mendapati Rafi di dalam kamar, terdengar tengah berkomunikasi dengan seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Alea, hati Rian kembali menciut. Wanita yang sangat ia cintai itu rupanya masih bermain hati dengan pria yang begitu dicintai adiknya.


Sangat menyakitkan.


Ia kembalk menjauh dark kamar itu, kemudian pamit pada Raisa untuk mengambil baju di rumah kedua orang tuanya.


"Hati-hati, Abang," ucap Raisa dengan nada yang lemah. Wanita itu masih terbaring di atas ranjang dengan memegangi perutnya.


"Iya, kamu juga hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku," pesan Rian seraya memegangi gagang pintu untuk ia tutup setelah pergi.


"Ya pasti gak sempat lah, Abang," goda Raisa. Suasana hati wanita itu sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Meskipun sebenarnya belum menemui obat yang tepat.


Rian berdecak kesal mendengar ucapan sang adik.


"Ya udah makanya cepat balik, biar bisa jaga aku," ucap Raisa.


Rian pun langsung menuju tempat tujuan dan meninggalkan Raisa di rumah itu sendirian. Walaupun sebenarnya ada Rafi di sana, tapi pria itu mungkin saja tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada Raisa. Ia hanya akan memikirkan semua tentang Alea.


Tidak lama setelah Rian pergi, Rafi juga turut pergi membawa mobilnya. Raisa yang semula sedang berselancar di dunia maya, fokusnya terbagi karena mendengar suara mobil Rafi.


Sempat terbesit pikiran negatif dalam batin Raisa, tapi kemudian ia tepis. Tidak ada gunanya memikirkan orang yang bahkan sama sekali tidak memikirkan perasaan dirinya.


Lagipula, ia memang harus lebih tidak peduli lagi karena demi keselamatan sang buah hati.


Di sebuah coffee shop yang tak jauh dari kosan Alea, Rafi dan Alea nampak sedang memesan makanan dan minuman. Kaki Alea sudah sembuh total sejak sehari yang lalu.


"Honey, kamu mau minum apa?" tanya Alea seraya membuka buku menu. "Apa mau samaan aja?"


"Yang anget-anget apa ya kira-kira?" Pria itu nampak tengah berpikir keras. Ia mencari-cari minuman yang tidak ada di sana. "Aku pengin menghilangkan pikiran."


"Ish, Honey! Udah gak usah aneh-aneh deh." Alea sudah paham dengan arah pikiran Rafi. Pria itu sudah pasti ingin minum minuman yang memabukkan.