Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 56


"Oh iya ya, beda ternyata," ucap Alea seraya menyentuh garam dan penyedap rasa untuk sekedar membedakan. Dan sekarang, ia sudah tahu bedanya. 


Bi Eni lalu mengulek merica, kemiri yang sudah disangrai, garam, penyedap rasa, cabe merah, dan kaldu jamur. Alea terus memperhatikan Bi Eni. Setelahnya, Bi Eni meminta Alea untuk mencampur semua bahan menjadi adonan yang pas. 


"Bi, ini udah cukup? Atau terlalu kental?" tanya Alea yang tengah mencampur semua bahan dan mengetes apakah adonan bakwan itu sudah tepat atau belum. 


"Udah, Non. Sip. Non Alea hebat," ucap Bi Eni seraya menunjukkan kedua jempolnya agar Alea terus bersemangat belajar. 


"Terus ini tinggal digoreng ya, Bi?" tanya Alea lagi. Di atas kompor, sudah ada wajan berisi minyak di dalamnya. 


"Iya, Non. Saya beri contoh dulu, ya. Biar nanti Non Alea mudah menirunya," saran Bi Eni. Ia lalu meraih baskom berisi adonan bakwan dari tangan Alea. 


Ia lalu menuangkan adonan bakwan ke atas wajah yang minyaknya sudah panas. Wanita paruh baya itu menuangkan adonan dengan telaten dan hati-hati menggunakan sendok berukuran lebih besar. 


"Seperti itu, Non. Nanti setelah ini, coba Non Alea, ya." Bi Eni meletakkan sendok besar itu ke dalam baskom. 


Alea mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini, ia sudah mulai paham. "Terus ini nanti dibalik kan ya, Bi?" tanya Alea. Wanita itu sudah meraih spatula untuk membalik bakwan. 


"Iya, nanti tunggu sebentar lagi, Non."


Bi Eni sudah seperti seorang guru yang kompeten, sementara Alea nampak seperti siswa yang patuh dan cerdas. Mereka terus menyelesaikan menggoreng bakwan hingga adonannya habis. 


"Ahh, capeknya. Akhirnya, selesai juga ya, Bi," ucap Alea seraya meregangkan otot-otot. 


Bi Eni terkekeh sejenak. "Begitulau, Non. Masak itu kayak gampang, tapi kalau sudha dilakukan jadi capek. Oh ya, terima kasih ya, Non. Sudah bantu Bi Eni masak bakwan."


"Sama-sama, Bi. Saya balik lihat baby Rara dulu, ya. Capek di dapur hehe." Alea terkekeh seraya meninggalkan Bi Eni seorang diri di dapur. 


Alea pun lekas melangkahkan kakinya menuju tempat Raisa dan bayi Rara berada. Sementara Bi Eni masih melanjutkan aktivitas memasaknya. 


"Hellow, baby Rara," sapa Alea saat masuk kamar Raisa sekaligus kamar bayi Rara. 


Sontak Raisa pun menengok ke arah sumber suara. "Ehh, ada aunty Alea. Sudah selesai belajar masaknya Aunty?" tanya Raisa dengan suara seperti menirukan anak kecil. 


"Udah. Buat bakwan tadi, capek banget. Tapi seru sih," tutur Alea. 


Kini, Raisa sedang membuka seluruh baju bayi Rara karena sebentar lagi bayi Rara akan dimandikan oleh sang ibu. 


Alea terus menyimak bagaiamana cara Raisa melepas satu persatu kain yang menempel pada tubuh bayi kecil itu. "Ini mau mandi?" tebak Alea sekenanya. 


"Betul, Aunty. Ayo ikut aku mandi, Aunty," ucap Raisa dengan nada menirukan anak kecil seolah dirinya sedang mewakili sang buah hati berbicara pada Alea. 


Alea hanya terkekeh mendengar penuturan dari Raisa. "Yuk, tapi Aunty ikut nonton kamu mandi aja, ya." Wanita itu kembali terkekeh, Raisa juga ikut tertawa. Mereka berdua nampak begitu bahagia. 


Alea menyimak apa saja yang dilalukan Raisa saat memandikan bayi Rara dari awal hingga akhir. 


Alea di rumah Raisa hingga siang hari karena saat Rian istirahat kerja, ia menyempatkan wkatu untuk menjemput Alea kemudian kembali mengantar pulang ke kosan. 


"Ayang?" panggil Alea pada Rian saat pria itu sudah mulai menjalankan mobilnya. 


"Iya, Sayangku," sahut Rian dengan penuh antusias. 


"Aku udah siap nikah sama kamu," ungkap Alea yang membuat Rian membelalakkan mata. 


"Kamu serius, Sayang?" tanya Rian untuk sekedar memastikan. 


"Serius banget. Aku khawatir kalau ditunda-tunda terus, aku keburu melahirkan. Takut Raisa curiga sama aku juga sebenarnya," ucap Alea. "Aku gak sanggup kalau sampai tiba-tiba Raisa tahu mengenai kabar kehamilanku. Aku benar-benar gak sanggup kalau harus menyakiti hati adik kamu yang super baik itu."


Tidak terasa, air mata Alea sudah menitik pada kedua pipinya setelah mengucapkan panjang lebar kalimat itu pada Rian. 


"Sayang, aku akan nikahi kamu secepatnya. Kamu jangan khawatir. Raisa gak akan tahu, kok." Rian berusaha menenangkan Alea meskipun dalam hatinya, pria itu juga sakit saat harus mengingat Alea dihamili oleh suami dari adiknya sendiri. 


"Maaf ya, Ayang. Aku jahat banget ya sama kamu, sama adik kamu juga." Air mata Alea pecah seketika. Menunjukkan bahwa wanita itu memang sudah sangat menyesali perbuatannya di masa kelam itu. 


"Udah, Sayang. Yang penting kamu mau berubah dan menerima aku seperti sekarang. Itu sudah jauh lebih dari cukup kok," tutur Rian. "Aku akan mengakui anak dalam perut kamu sebagai anak kandung aku nantinya."


"Makasih, Ayang."


***


Hari ini, Alea akan menemani Rian untuk mengecek kondisi rumah yang akan dibelinya. Rumah itu tidak jauh dari rumah Raisa. 


Setelah memutuskan untuk menikah pada hari lalu, Rian langsung mencari rumah untuk bisa ia tinggali bersama sang istri tercinta nantinya. 


Rian dan Alea pun tiba di tempat tujuan. Mereka berkeliling rumah dengan ditemani oleh pemilik asli rumah itu. 


Rumah itu bukanlah rumah kosong. Saat ini, rumah bercat putih itu masih berpenghuni. Hanya saja, ada kebutuhan mendesak yang membuat rumah berukuran cukup besar itu dijual oleh sang pemilik. 


Rumah itu nampak begitu sejuk karena dikelilingi oleh pepohonan. Di belakang rumah, ada berbagai macam pohon yang meskipun tidak berbuah, itu dapat meningkatkan kualitas oksigen di tengah-tengah kota seperti ini. 


Pun di halaman rumah itu, ada taman kecil yang memiliki satu buah gazebo di sana. Ada berbagai macam jenis bunga juga di taman itu. Membuat Alea langsung tertarik dengan rumah ini. 


"Gimana, Sayang? Cocok gak?" tanya Rian pada sang calon istri itu. Kalau Rian pribadi, ia akan mengikuti semua keinginan Alea. Ia hanya mengecek kondisi bangunan rumah itu sebagai bahan pertimbangan karena Alea tidak paham dengan hal itu. 


"Aku cocok banget, Ayang. Adem banget di sini," ucap Alea dengan antusias. Pandangannya terus mengarah pada seluruh penjuru rumah ini. 


Ia juga tadi sempat melihat kamar demi kamar di rumah itu, baik di lantai pertama maupun ke dua. 


"Iya, nyaman ya. Ukurannya juga gak terlalu besar, tapi gak terlalu kecil juga," ucap Rian. Ia dan Alea sama-sama setuju untuk tinggal di tempat ini nantinya. 


"Bagaiamana, Pak? Deal, ya?" tanya pemilik asli rumah itu pada Rian seraya berjabat tangan. 


Rian turut berjabat tangan. "Deal, Pak," jawab Rian. Ia pun memberi waktu pada pemilik asli untuk membereskan semua barang-barangnya selama satu minggu.