Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 29


Rian menjalankan mobilnya sesaat setelah Alea masuk ke dalam mobil. Wajah wanita itu sudah terlihat tidak karuan. Kondisinya sudah seperti orang sakit sekarang. Pandangannya juga kosong. Sesekali ke arah depan, kemudian berganti ke luar jendela. 


"Hoek." Tiba-tiba Alea merasa mual sekali. "Hoek hoek." Wanita itu merasa seperti ada yang ingin di keluarkan dari dalam perutnya. 


Sontak Rian pun menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya itu. "Kamu kenapa, Alea? Sakit?" tanya Rian dengan nada cemas dan khawatir. 


"Atau tadi habis mabuk kamu, ya?" Pria itu justru curiga jika Alea usai meneguk minuman memabukkan. 


Tidak ada yang tahu perihal jalan yang diambil orang saat sedang patah hati. Apalagi seperti Alea saat ini, bisa saja wanita itu memang usai bermabuk-mabukkan sebelum ke coffee shop itu. 


Tapi, Alea menggeleng. "Enggak, kok," ucapnya, kemudian kembali mual. 


Hingga akhirnya, ia meminta Rian untuk menghentikan mobilnya sejenak. Wanita itu ingin mengeluarkan apa yang harus dikeluarkan dari dalam mulutnya. Mulutnya saat ini terasa begitu pahit. 


Rian pun mengaminkan permintaan Alea. Pria itu pun kemudian menyusul Alea yang seolah tengah memuntahkan sesuatu. Rian membantu Alea mengurut tengkuk wanita itu agar lebih mudah memuntahkan apa yang ingin dimuntahkan. 


Akhirnya, Alea pun muntah banyak sekali. Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali ke dalam mobil. 


"Ini minum dulu." Rian menyodorkan satu botol air mineral pada Alea. Pria itu memang sudah biasa melakukan persediaan air mineral di dalam mobilnya. 


Alea pun menerima satu botol mineral itu, kemudian diteguknya hingga setengah. 


"Aku kenapa ya, Rian? Kok tiba-tiba kaya gini?" tanya Alea yang bahkan tidak mengetahui apa yang tengah terjadi pada dirinya sendiri. 


"Kenapa, Sayang? Yang mana yang sakit?" tanya Rian yang begitu mencemaskan wanita yang begitu ia sayangi itu. 


Pria bahkan sekarang sudah tidak segan lagi memanggil Alea dengan panggilan sayang. Hanya saja, Alea sangat biasa saja dengan apa yang dilakukan Rian. Wanita itu sama sekali tidak terbawa perasaan. 


Terlebih, ia juga sudah tahu sejak lama perihal perasaan Rian yang ternyata sudah lama memendam hati untuk dirinya. 


Alea menggeleng sejenak. Sesekali ia memegang tengkuk lehernya, terasa pegal sekali. "Aku juga gak tahu, Rian. Apa aku punya magh ya sekarang?" Wanita itu menebak-nebak penyakitnya sendiri. 


"Ya udah kita cek ke rumah sakit aja, ya," ajak Rian seketika. Ia tidak mau melihat Alea kesakitan lebih lama lagi. 


Wanita itu sontak menolak. Ia adalah tipe orang yang sangat takut dengan jarum dan obat. Ia tidak mau bertemu jarum dan obat lagi. 


"Gak mau, Rian. Langsung pulang saja," ucap Alea. Menolak mentah-mentah ajakan Rian untuk pergi ke rumah sakit. Seperti hati Rian, yang juga ditolak mentah-mentah oleh Alea. 


"Huh, kamu tuh bisa gak sih, sekali-sekali gak nolak aku," lirih Rian dengan suara yang hampir tak terdengar. Tapi, masih dapat ditangkap oleh Alea. 


"Ya aku gak mau, Rian. Langsung ke kosan aku aja," rengek Alea. Wanita itu justru kembali menitikkan air mata. "Kenapa sih orang-orang pada jahat sama aku," lirihnya. 


"Uhh, cup cup cup. Aku gak maksa, kok. Iya udah iya, kita pulang aja ya." Rian mencoba membujuk Alea dengan begitu manja. 


Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya sangat ingin Rian lakukan sejak dahulu. Dan sekarang, ia sudah bisa leluasa melakukan semua hal yang seperti ini kepada Alea. 


Di tempat lain, Rafi nampak tengah menimang sang buat hati tercinta. Bayi itu nampak sudah bersih, Raisa baru saja memandikannya. Sekarang, wanita itu yang giliran untuk mandi. 


"Sayang, ada aroma bau, nih," teriak Rafi. Pria itu mengadu bahwa ada aroma tidak sedap yang keluar dari dalam pampers buah hati kecilnya. 


"Iya, tunggu bentar, Sayang. Aku masih mandi ini," sahut Raisa dengan nada yang tenang, namun dengan volume suara yang tinggi agar Rafi mendengarnya. 


Wanita itu masih berada di dalam kamar mandi. Ia masuk kamar mandi sejak sepuluh menit yang lalu. Semenjak memiliki bayi, ia tidak bisa berlama-lama di kamar mandi. 


Seperti saat ini, baru saja sepuluh menit masuk ke dalam kamar mandi, tapi Rafi sudah berteriak-teriak untuk meminta pertolongan. 


Rafi terus menunggu Raisa untuk datang. Ia seperti tidak tahan dengan bau yang dihasilkan sang buah hati. Raisa yang sudah paham jika sang bayi tengah buang air besar di dalam pampers pun terburu-buru keluar dari kamar mandi. 


"Kenapa, Sayang?" tanya Raisa memastikan. Ia masih mengenakan kimono dengan rambut basah yang digulung menggunakan handuk kecil. 


"Sini, Sayang. Sini." Dengan sigap dan telaten, Raisa memindahkan sang bayi dari pangkuan Rafi ke atas ranjang yang telah dilapisi kain anti basah. 


Beberapa hari yang lalu, Rafi akhirnya mendapatkan nama yang tepat untuk sang buah hati tercinta. Nama itu adalah Rara Fisantika. Ia mendapatkan nama itu dengan cara menggabungkan nama pangggilan dirinya dan juga nama panggilan Raisa. 


Rara diambil dari suku kata pertama dari nama Rafi dan Raisa. Kemudian, Fisantika adalah nama yang diambil dari suku kata kedua nama Rafi dan Raisa juga. Sederhana memang, tapi banyak maknanya. 


Jika pada masa kehamilan putri pertamanya itu, Rafi dan Raisa seolah terpisahkan. Maka, dengan kehadiran sang buah hati kini, ia berharap bisa menyatukan Rafi dan Raisa selamanya. Apalagi, secara tidak langsung, ia sudah menyematkan nama Rafi dan Raisa dalam nama sang buah hati. 


Sementara itu, nama panggilan putri kecilnya itu adalah Rara. 


Dengan telaten, Raisa membersihkan kotoran dalam tubuh sang putri kecil. Rafi hanya bisa menyaksikan. Berbeda dari sang istri, Rafi memang masih sangat kaku dan kikuk dalam mengurus bayi. 


"Masih butuh bantuan gak? Kalau enggak, aku mau mandi," tanya Rafi. Ia berusaha untuk selalu ada untuk kedua orang yang kini sangat ia sayangi. 


"Mandi dulu aja gak apa-apa, Sayang. Habis ini juga paling minta minum si dedek Raranya," ucap Raisa. Dalam hal seperti ini, memang Raisa lah yang mengendalikan keadaan. 


"Okei. Kalau butuh bantuan, panggil aja, ya." Pria itu pun bangkit, kemudian meraih handuk. 


***


Malam harinya, bayi Rara tidak mau memejamkan mata. Bayi kecil itu justru terus merengek dan menangia, membuat orang tuanya kebingungan. 


Raisa sebisa mungkin mengendalikan emosi dan perasannya. Meski sebenarnya sudah lelah, tapi ia harus terus menjaga sang buah hati. 


Sementara itu, Rafi yang sudah mengantuk parah hanya bisa menyenderkan kepalanya di kepala ranjang. 


"Kamu tidur saja gak apa-apa, Sayang. Besok kan kamu kerja," ucap Raisa dengan penuh tanggung jawab. Ia akan bertanggung jawab untuk menjaga sang buah hati kalau memang Rafi ingin tidur sekarang. 


"Jujur aku ngantuk banget sih, Sayang. Tapi, aku gak tega lihat kamu jaga baby Rara sendirian," lirih Rafi dengan suara yang serak. Pria itu memang benar-benar sudah tidak bisa menahan kantuk. 


"Udah gak apa-apa. Mending kamu tidur aja. Lagian juga sebentar lagi dedek Rara pasti tidur kok," ucap Raisa agar Rafi mau tidur lebih dulu. 


Meskipun sebenarnya ia tahu, bayi Rara kemungkinan akan merengek dan menangis seperti ini semalaman.