
Rian menghela napas berat. "Aku akan coba deh. Aku sih benar-benar berharap dia bisa menerima aku dan hatiku. Meskipun gak sekarang, tapi besar harapanku buat itu, Rafi," ucap Rian dengan kesungguhan. Dapat dilihat dari wajahnya bahwa ia mencintai Alea dengan beribu ketulusan.
"Maaf, Bro, aku gak bisa bantu apa-apa. Aku juga udah gak mau berhubungan lagi sama Alea. Takutnya nanti khilaf lagi. Jadi, kalau ada apa-apa tanya aku aja ya," pesan Rafi. Pria itu memang tidak bisa berbuat banyak untuk masalah Rian kali ini.
"Iya, gak apa-apa. Oh iya, jangan sampai Raisa tahu hal ini, ya. Aku gak mau dia kepikiran." Bahkan dalam kondisi sedih dan tidak tahu harus bagaimana, Rian masih memikirkan sang adik tersayang.
Setelah mencurahkan semua isi hati dan pikirannya, juga memberi tahu kabar tentang kehamilan Alea, Rian pun menyudahi perbincangan antara dirinya bersama Rafi. Namun, sebelum itu, mereka menyeruput sejenak kopi yang telah mereka pesan.
Di rumah Raisa, wanita itu sudah menunggu sang suami dan kakak kandungnya selama satu jam setengah. Ada perasaan cemas yang memuncak di dalam hatinya karena ini sudah cukup malam.
Apalagi, bayi Rara tak henti merengek dan menangis. Ia khawatir jika tangissn bayi Rara itu adalah pertanda buruk tentang suami dan kakak kandungnya.
Namun, pikiran-pikiran buruk Raisa itu berhasil ia tepis sesaat setelah Rafi dan Rian yang sudah tiba di rumah dalam keadaan sehat dan selamat.
"Lama banget. Habis dari mana sih kalian?" tanya Raisa dengan segala rasa penasaran khas perempuan.
"Dari kafe deket situ. Rame banget jalanan, makanya lama," ucap Rafi dengan kebohongan. Pria itu memang lebih pandai berbohong.
Tidak seperti Rian yang memang sulit mendapat inspirasi untuk berbohong. Apalagi sekarang pikirannya juga sedang kusut. Hatinya sedang tidak baik-baik saja karena memikirkan Alea.
Tidak lama setelahnya, Rian langsung pamit untuk pulang. Ia ingin segera istirahat dan menenangkan pikiran. Apalagi besok harus kembali bekerja ke kantor.
"Aku pulang dulu ya, Rafi, Raisa. Udah malam. Besok juga kerja," pamitnya diikuti dengan mendaratkan bibirnya pada pipi kecil bayi Rara.
Rafi dan Raisa pun mengantarkan Rian hingga teras rumahnya.
***
Dua hari kemudian, Alea sudah sedikit lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Wanita itu masih mual, hanya saja tidak sesering dan selemas hari lalu.
Kini, ia baru saja selesai mandi dan sudah mengganti baju. Ia mengarahkan langkah kakinya ke depan cermin. Sosok tubuhnya terpantul penuh pada cermin itu.
Alea memandangi perutnya yang masih rata, sesekali ia usap-usap perut yang ternyata sudah berisi janin bayi berusia dua bulan itu.
"Baby, yang sabar ya. Mami bakal lakuin yang terbaik buat kamu," ucap Alea dengan sedikit menunduk. Ia mengajak bicara perutnya sendiri.
Setelah itu, ia duduk di kursi depan meja rias. Pelan tapi pasti, ia menyisir rambutnya yang masih basah. Kemudian, dikeringkan dengan menggunakan hair dryer.
Sekarang masih pukul 06.00, masih ada banyak waktu untuk mempersiapkan diri sebelum nantinya berangkat bekerja.
Saat semuanya sudah siap, Alea sejenak duduk di tepi ranjang untuk sekedar menggulir sosial media. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nama Rian yang nampak di dalam ponselnya.
"Halo, Alea?" sapa Rian dari ujung telepon.
"Iya, Rian. Ada apa?" tanya Alea yang sudah menyelempangkan tasnya di atas pundak.
"Kamu udah siap? Aku jempur sekarang, ya?" Pria itu sudah siap berangkat kerja.
"Aku bisa berangkat sendiri kok, Rian," ucap Alea dengan ogah-ogahan. Ia cukup malas untuk sekedar bertemu pria yang selama ini mengejar-ngejar cintanya itu.
"Gak apa-apa, aku jemput aja, ya. Tunggu sebentar. Aku jalan ke sana sekarang." Dengan sigap, Rian segera meluncur menuju kosan Alea dengan menggunakan mobil.
Alea tak membalas, ia hanya menghela napas.
Saat mobil Rian sudah nampak dari kamar Alea, wanita itu pun bergegas keluar untuk masuk ke dalam mobil Rian.
"Maaf ya telah membuatmu menunggu. Biar aku yang buka pintu," ucap Rian seraya berjalan cepat menuju sisi pintu sebelah satunya karena harus membuka pintu untuk Alea masuk.
Pria itu melakukan semuanya dengan tulus dan senang hati. "Silakan masuk, Tuan putri," ujar Rian penuh antusias seraya mempersilakan Alea untuk masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Rian," balas Alea dengan nada yang datar, pun dengan perasaan yang sama datarnya.
Entah mengapa, hati wanita itu begitu sulit untuk diketuk oleh Rian. Padahal segalanya sudah Rian lakukan dengan begitu tulus untuk Alea.
Mereka berdua pun sudah masuk ke dalam mobil, kemudian menuju ke kantor tempat di mana mereka bekerja.
Tiba di kantor, Rian kembali membukakan pintu untuk Alea agar wanita itu lebih mudah dan nyaman untuk keluar dari mobil.
"Semangat untuk hari ini ya, Sayang. Jangan capek-capek kerjanya santai aja," pesan Rian pada Alea.
Sementara, wanita itu hanya menanggapi perhatian dari Rian dengan sewajarnya. Jujur, ia tidak suka dengan Rian. Apa saja yang dilakukan Rian untuknya justru membuat wanita itu merasa ilfeel.
"Iya, Rian," sahutnya seraya menuju ke dalam ruangan.
Saat waktu istirahat tiba, Rian dengan sigap membelikan makan siang untuk wanita yang amat ia sayangi.
"Alea, kamu di sini aja. Jangan ke mana-mana, okay. Biar aku yang belikan kamu. Kamu mau apa?" Rian dengan antusias ingin melakukan semua yang terbaik untuk Alea.
"Rian, aku bisa sendiri kok," ucap Alea dengan nada yang lesu. Bagaimana pun juga, wanita itu tengah hamil muda. Rasa lemas menjalar ke seluruh badannya.
"Tapi kamu pucat begitu. Udah kamu di sini aja. Kamu mau makan apa siang ini?" tanya Rian dengan penuh rasa perhatian.
"Mmm ..." Wanita itu nampak menimbang-nimbang, sepertinya ia luluh juga pada tawaran Rian. "Bakso aja deh, yang pedes ya." Alea meminta makanan kesukaannya. Makanan favorit wanita itu selalu berbau pedas.
"Okei bakso ya. Tapi, jangan pake pedas, Sayang. Gak baik buat kesehatan kamu," ujar Rian. Ia khawatir kalau Alea makan pedas, takut terjadi apa-apa pada kesehatan wanita itu. Apalagi saat ini, kondisi Alea belum terlalu fit.
"Aduh, aku pengin pedas, Rian," rengek Alea dengan nada manja seperti anak kecil. "Pedas dikit, ya," pinta Alea karena ia ingin memakan makanan pedas sekarang.
Apalagi akhir-akhir ini, nafsu makan wanita itu sedang turun. Barangkali dengan memakan makan pedas, nafsu makannya menjadi bertambah.
Akan tetapi, tetap saja. Makan makanan pedas bukanlah hal yang baik. Terlebih untuk wanita hamil muda seperti Alea. Kandungannya masih rentan terjadi apa-apa.