
Detik terus berdentang. Hari terus berganti. Tidak terasa usia kandungan Alea sudah memasuki bulan yang keempat. Hubungan antara dirinya dengan Rian semakin dekat. Hanya saja, Alea belum bisa menyimpulkan bahwa dirinya sudah mencintai Rian seutuhnya.
Wanita itu hanya merasa dirinya sangat nyaman berada di dekat Rian. Apalagi dengan segala bentuk perhatian yang diberikan Rian pada dirinya.
Tidak seperti saat awal masa kehamilan, akhir-akhir ini justru wanita itu baru merasa ngidam. Lagi-lagi ia harus merepotkan Rian karena hanya laki-laki itu satu-satunya yang ia punya saat ini.
Seperti saat ini, saat jam kerja baru saja berakhir, tiba-tiba ia menginginkan rujak. Padahal kalau sore hari, sudah jarang ada rujak. Kebanyakan hanya ada dari pagi hingga siang.
"Rian, tiba-tiba aku kepengin rujak," rengek Alea saat baru masuk ke dalam mobil Rian.
Pria itu sudah memegangi setir, tadinya siap mengantarkan Alea untuk pulang ke kosannya. Hanya saja, karena ada drama mengidam, maka ia harus mengantarkan Alea ke manapun wanita itu ingin pergi.
"Ya udah, ayok kita cari," sahut Rian dengan begitu sigapnya. Ia lantas menjalankan mobil.
"Kamu tahu ada jual rujak di mana jam segini, Rian?" tanya Alea, ia juga sebenarnya meras tidak enak hati karena untuk ke sekian kali harus merepotkan Rian.
"Kita cari dulu ya, Sayang." Tangan kiri Rian meraih tangan kanan Alea. Pandangannya sesekali mengatah pada wanita itu.
Alea semakin terharu melihat perjuangan Rian untuk dirinya. Padahal Rian sudah lelah bekerja hari ini, tapi ia masih saja bersedia menuruti ajakan Alea yang menginginkan rujak.
"Makasih ya, Rian. Padahal kamu kan udah capek kerja hari ini. Malah aku repotin lagi," ucap Alea seraya mengerucutkan bibir. Mimik wajahnya menunjukkan bahwa ia begitu merasa bersalah.
"Sama-sama, Sayang. Semoga masih ada, ya. Biar kamu dan dedek bayi senang," ucap Rian dengan melirik ke arah perut Alea yang sudah mulai membuncit.
Alea mengangguk-anggukkan kepalanya. Besar harapannya ia dan Rian bisa langsung menemukan penjual rujak. Karena kalau terlalu lama, ia kasihan pada Rian.
Pertama, Rian menjalankan mobilnya menuju tempat penjual rujak paling dekat. Tapi, setahu dirinya, penjual rujak itu hanya mangkal di tempat itu hingga siang.
Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba. Rian menuju ke arah sana dengan membawa harapan yang penuh, semoga masih ada agar suasana hati Alea lekas membaik.
Karena yang ia tahu, jika wanita menginginkan sesuatu dan tidak segera mendapatkan keinginannya, maka wanita itu akan memiliki suasana hati yang buruk.
"Yah, udah gak ada," celetuk Rian yang tak melihat batang hidung penjual rujak, ataupun gerobaknya.
"Yahhh, ya udah deh. Mau gimana lagi," lirih Alea tanpa semangat. Wanita itu hanya bergeming setelahnya.
"Sabar, Sayang. Kita cari lagi, ya." Rian mengusap-usap puncak kepala Alea. Berharap wanita itu tidak kecewa.
"Tapi, nanti semakin jauh, Rian. Ini aja udah jam segini." Sekarang memang sudah menunjukkan pukul 16.30. Seharusnya mereka sudah beristirahat di rumah masing-masing.
"Gak apa-apa. Nanti si dedek bayi nangis kalau gak dituruti." Rian berusaha menenangkan Alea, pun meminta pada Alea untuk bersabar lebih sedikit lagi.
Alea hanya bisa menuruti Rian yang tentu saja paham dan mengerti apa yang terbaik untuk dirinya.
Satu jam sudah berjalan sejak mereka pulang dari kantor, namun tak kunjung menemukan penjual rujak.
"Gimana kalau kita bikin sendiri aja? Kita beli bahan-bahannya, ya?" Rian tiba-tiba mempunyai sebuah ide cemerlang.
Rian menelan salivanya. "Aku juga gak bisa si sebenarnya. Tapi, kita coba aja, Sayang. Seper8 tidak susah kok," ucap Rian dengan berpikiran positif.
"Tapi, yang enak ya Rian buatnya."
"Iya, Sayang."
Mereka pun lantas menuju toko buah untuk membeli buah-buahan untuk bahan rujak. Ia membeli di toko buah karena karena kalau ke mall, ia harus berjalan cukup jauh. Sedangkan Rian tidak mengizinkan wanita pujaannya itu untuk jalan kaki terlalu jauh.
Rian memilih semangka, timun, pepaya, dan apel. Ia langsung memasukkan ke dalam keranjang.
"Ini ada nanas, seger banget, Rian," ucap Alea yang begitu tergiur dengan buah kuning itu.
"Eh, jangan nanas. Panas. Bisa menggugurkan kandunganmu nanti," ujar Rian mengarahkan. Wawasan Rian memang lebih luas daripada Alea. Itu membuat wanita itu lambat laun kagum dan suka dengan Rian.
Alea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ohh, gitu ya. Aku baru tahu."
Setelahnya, mereka membayar buah-buahan itu. Tidak lupa, ia juga membeli cabe dan gula merah karena di kosan Alea hanya ada alat, tapi tidak ada bahan sama sekali.
Tiba di kosan, mereka langsung melangkah menuju dapur yang jarang digunakan oleh penghuni kosan karena lebih memilih beli makanan secara langsung seperti yang dilakukan Alea selama ini.
Rian mengambil cobek beserta ulegnya. "Sayang, kamu ke kamar aja, nanti kalau udah jadi langsung aku bawa ke sana, ya," ujar Rian tidak mau melihat Alea ikut repot membuat rujak.
"Aku mau coba mengupas buah-buahannya," sahut Alea. Wanita itu memang jarang memegang pisau sehingga membuat Rian juga khawatir.
"Gak usah, Sayang. Aku takut kamu gak fokus terus tanganmu kena pisau." Rian terus memaksa Alea untuk kembali ke kamarnya saja. Wanita itu harus banyak istirahat.
"Ya udah kalau gitu aku lihatin kamu dulu aja deh." Alea menolak perintah Rian untuk kembali ke kamar. Wanita itu masih duduk di lantai dapur.
Rian lalu memindahkan cobek ke lantai agar lebih mudah untuk mengulek. Kemudian, ia mulai mengupas pepaya. Setelahnya, ia langsung memotong menjadi ukuran kecil-kecil. Lalu, dilanjutkan dengan buah-buahan yang lainnya.
Setelah semua buah-buahan dikupas bersih dan dipotong menjadi ukuran kecil-kecil Rian kini meletakkan satu buah gula merah ke dalam cobek. Ditambah dua buah cabe hijau dan sedikit garam yang sudah ada di dapur itu.
Dengan sedikit kaku, ia mengulek semuanya. Alea hanya menyaksikan dengan seksama. Ia menyimak dari awal hingga akhir.
"Nah, taraa, akhirnya jadi juga." Akhirnya, rujak buatan Rian pun jadi juga setelah bergulat di dapur beberapa lama.
"Yeayy, you did it, Rian." Sontak Alea pun bertepuk tangan karena Rian berhasil membuat rujak meskipun belum tahu rasanya seperti apa.
"Biar aku coba dulu, ya." Rian pun meraih satu potong buah pepaya yang kemudian dicocolkan pada sambal yang telah ia buat.
Sementara itu, Alea seolah tidak sabar menunggu. Ia mengernyitkan dahi. "Gimana rasanya, enak?"
"Lumayan, tapi gak seenak punya abang-abang. Gak terlalu pedas juga. Kamu coba deh, tapi maaf ya kalau aku hanya bisa buat seperti ini."
Rafi sudah melakukan yang terbaik, tapi pria itu masih saja meminta maaf pada Alea. Lalu, Alea pun mencicipi rujak buatan Rian. Dan untungnya, ia sangat suka. Wanita itu memakan banyak rujak buatan Rian dengan perasaan senang. Rian pun ikut senang.