
"Yakin banget, Sayang. Aku tuh udah cinta mati banget sama kamu. Aku mending gak nikah kalau gak sama kamu," ucap Rian dengan nada yang begitu serius. Dapat Alea tangkap bahwa Rian memang tidak pernah main-main dengan dirinya.
Alea teramat sangat bersyukur menemukan dan bahkan mendapatkan laki-laki yng seperti Rian. Ia sempat mengira bahwa semua laki-laki itu sama saja. Sama-sama jahat kepada wanita. Hanya mau enaknya saja, tapi tidak mau mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat.
"Makasih ya, Rian. Udah mau nerima aku dalam keadaan apapun. "Kamu baik banget, Raisa juga baik-baik banget. Orang tua kalian pasti bangga banget," ucap Alea.
Setelah menyebut kata orang tua, Alea jadi memikirkan sesuatu. Jika Rian menerima Alea apa adanya, bagaiamana dengan kedua orang tua Rian?
Kini dalam pikiran Alea, ada beban yang bertambah. Namun, akan ia tanyakan pada Rian secara langsung agar tidak terus-terusan membebani pikirannya.
"Oh ya, Rian, orang tua kamu gimana?" tanya Alea penasaran. Wajahnya menjadi mendung sekarang.
"Ya nanti mereka meluangkan waktu buat datang kalau kita nikah," ucap Rian dengan enteng. Tidak paham dengan apa yang dimaksud Alea sebenarnya.
"Maksudnya, mereka setuju gak, kalau kamu sama aku?" tanya Alea yang kini seolah merasa begitu khawatir. Ia takut jika hubungan mereka terhalang restu dari orang tua karena Alea sudah hamil lebih dulu.
"Setuju lah. Mereka dari dulu selalu membebaskan aku kok. Udah pasti setuju. Udah gak usah mikir aneh-aneh," ucap Rian penuh penekanan. Ia meminta agar Alea tidak terlalu berpikir negatif berlebihan karena itu juga akan berdampak pada kandungannya.
"Tapi aku kondisinya kan udah hamil, Rian. Apalagi yang ada di perutku ini bukan anak kamu," lirih Alea. Rasa sesalnya kembali muncul. Andai saja saat itu ia tidak tergiur dengan godaan Rafi. Pasti ia tidak akan hamil seperti saat ini.
"Orang tuaku gak kaya gitu, Alea. Mereka pasti setuju-setuju aja. Mereka juga gak segitu peduli kok. Kamu lihat selama ini aku sama Raisa, jarang diperhatikan sama mereka karena sibuk kerja." Rian menjelaskan panjang lebar.
Penuturan dari Rian yang sedari tadi Alea dengar memang jauh lebih membuat wanita itu bernapas lega. Hanya saja, ia tidak kepikiran akan hal itu. Bisa saja tiba-tiba orang tua Rian tidak setuju jika sang anak harus menikah dengan wanita yang tidak sanggup menjaga mahkota berharganya.
"Oh, gitu ya. Ya udah deh semoga aja mereka setuju, ya. Dan semoga kamu gak berubah pikiran. Aku gak tau apa jadinya aku nanti kalau kamu pergi," tutur Alea dengan sangat jujur.
Ia telah memberikan seluruh hatinya pada Rian sekarang. Ia juga sudah sangat nyaman dengan pria itu. Pun, Alea juga menggantungkan semua urusan dan permasalahan yang dihadapi pada Rian.
"Aku gak akan ke mana-mana, Sayang. Pokoknya kanu jangan overthinking terus, ya," pesan Rian. Ia tidak mau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada wanita dambaannya itu.
"Makasih, ya." Sedari tadi Alea tak henti mengucapkan terima kasih pada pria itu.
Setelah dirasa obrolan mereka sudah cukup, sambungan telepon yang menyambungkan Alea dan Rian itu pun berakhir.
Akhirnya, Alea memutuskan untuk tidak bekerja hari ini. Dan jika memang besok pagi ia kembali merasakan hal yang sama, ia akan memutuskan untuk berhenti bekerja. Meskipun rasanya pasti berat karena ia sudah bekerja di kantor itu selama bertahun-tahun lamanya.
Perjuangannya untuk masuk ke kantor itu dan mendapatkan pekerjaan yang selama ini ia emban juga tidak lah mudah. Tapi, untuk saat ini, apapun akan ia lakukan demi sang buah hati.
Alea kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit itu. "Sayang, kamu doakan Mami, ya. Biar semuanya lancar. Biar nanti pas kamu lahir semuanya baik-baik saja." Alea mengajak mengobrol sang buah hati yang masih dalam perut.
Sore harinya, sepulang Rian kerja dari kantor, ia langsung menjalankan mobilnya menuju kosan Alea. Wanita itu sudah menyiapkan diri sejak pukul empat sore tadi. Sekarang, mereka sudah duduk di dalam mobil.
"Tidur-tiduran doang," sahut Alea dengan entengnya. "Kenapa aku bawannya ngantuk terus, ya?" Ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Tidak biasanya wanita itu merasa ngantuk berlebihan seperti ini.
"Ya mungkin salah satunya ya faktor kehamilanmu itu," timpal Rian seraya mengarahkan pandangannya fokus ke depan. "Gak apa-apa tidur-tiduran aja. Pokoknya gak usah kerja mulai sekarang."
Alea menghela napas sejenak. "Iya, iya. Aku nurut kamu pokoknya," sahut Alea pada akhirnya.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Rian memarkirkan mobilnya di rumah sakit. Mereka pun turun dari mobil, kemudian langsung mengarahkan langkahnya menuju loket pendaftaran, untuk nantinya bisa bertemu dengan dokter kandungan Raisa.
Saat menunggu, ada satu perempuan muda yang ada tepat di sebelah Alea. Perempuan itu mulai mengajak Alea berbicara untuk sekedar berbasa-basi dan menunggu giliran.
"Berapa bulan, Mba?" tanya perempuan di sebelahnya itu.
"Terakhir periksa sih empat bulan. Itu sebulan yang lalu kayaknya. Kalau kamu berapa bulan?" Alea menjawab, kemudian diikuti dengan pertanyaan yang sama agar obrolan mereka tidak berakhir begitu saja.
"Saya udah tujuh bulan," jawab perempuan muda itu seperlunya.
Alea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Wanita itu kurang pandai berbasa-basi jika dengan orang tak dikenal.
"Enak ya Mba, cek kehamilan ditemani sama suami," celetuk perempuan itu pada Alea.
Itu membuat Alea menelan salivanya karena sesungguhnya, pria yang ada di sampingnya bukanlah sang suami. Mereka sama sekali belum memiliki status apa-apa. Hanya saja, Alea tidak mau memperlihatkan itu semua.
Ia hanya tersenyum simpul. "Kalau kamu, memangnya sendiri aja?" tanya Alea dengan nada pelan.
"Iya, Mba. Aku korban dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab."
Mendengar penuturan perempuan itu, membuat Alea merasa jauh sangat bersyukur. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih pada Rian karena dalam keadaan seperti ini, ia masih mau menerima Alea. Sedangkan perempuan di sebelah Alea itu, justru lebih buruk nasibnya. Seketika Alea merasa sangat bersyukur.
"Ya udha ya, Mbak. Aku masuk dulu. Sudah giliran saja." Perempuan itu pun pamit karena sudah gilirannya.
Setelah menunggu beberapa saat, kini akhirnya giliran Alea untuk masuk ke dalam ruangan dokter kandungan. Di dalam sana, wanita itu diperiksa seperti biasa.
"Udah kerasa ada yang gerak gerak belum?" tanya dokter perempuan itu.
"Apanya, Dok?" Alea justru berbalik tanya dengan polosnya.
"Perutnya dong, Sayang." Rian memberi paham kepada wanita pujaannya itu.