Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 11


Hari ini, Alea dan Rafi hendak mengunjungi suatu tempat wisata yang dekat dari vila Rafi. Wanita itu nampak sudah tidak sabar karena Rafi masih merahasiakan akan ke tempat wisata mana mereka berkunjung. 


"Hari ini kita mau ke mana sih, Honey," tanya wanita itu seraya menyisir rambut. Wajahnya sudah dipoles tipis-tipis. Ia mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam dan kaos pendek berwarna biru. 


Sementara itu, Rafi nampak mengenakan celana santai pendek dan juga kaos pendek berwarna senada dengan kaos Alea. "Adadeh, rahasia pokoknya. Kamu bakal suka," ucap Rafi yang sedang duduk di atas ranjang. Kedua matanya memandang ke arah Alea yang sedang duduk di depan meja cermin. 


"Ish, Honey. Emang kamu tau aku suka apa?" tanya Alea seraya menengok ke arah Rafi. Aktivitas menyisir rambutnya sudah selesai. 


Mereka berdua sudah sama-sama siap. Sekarang ia akan ke tempat wisata yang masih dirahasiakan oleh Rafi menggunakan mobil. 


Selang beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di tempat tujuan. 


"Honey? Is it waterfall?" tanya Alea memastikan. Padahal di depan matanya sudah jelas tertulis nama air terjunnya. 


"Gimana? Suka kan?" ucap Rafi dengan penuh percaya diri. Ia memang sudah sangat lama berteman dengan kekasih gelapnya itu. 


Alea menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak bisa berkata apa-apa karena terlalu senang bukan kepalang. Wanita itu memang menyukai tempat-tempat pedesaan, apalagi yang ada airnya seperti air terjun, sungai, dan danau. 


"Honey." Mata Alea mulai berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian, ia lekas memeluk tubuh pria yang begitu ia cintai itu. 


"Udah dong, Sayang. Jangan nangis, nanti orang ngira aku apa-apain kamu lagi." Rafi menepuk-nepuk pundak Alea. Tidak lama, ia pun melepasnya. 


Dihapusnya butir-butir air mata Alea yang mengalir di pipi. "Udah, gak usah nangis."


Alea adalah wanita berhati lembut. Ia begitu mudah menangis. Apalagi, saat ada orang yang berusaha membuat dirinya bahagia seperti ini. 


Sebenarnya, wanita itu kurang kasih sayang dari keluarganya. Ayah dan ibunya sudah bercerao saat ia masih duduk di bangku sekolah. Ayahnya sudah memiliki istri lain, sedangkan sang ibu sudah meninggal dia tahun silam. 


Ia juga susah untuk jatuh cinta. Tapi, satu kalo jatuh cinta, membuatnya sulit lepas. Sudah bertahun-tahun lamanya, ia jatuhkan hatinya pada Rafi. Dan sulit untuk menghilangkan perasaannya pada teman laki-lakinya itu. Bahkan saat Rafi sudah memiliki istri, rasa itu tetap ada. Dan bahkan semakin dalam. 


"Ya udah yuk kita ke sana," ajak Rafi seraya merangkul pundak Alea dari sisi belakang. 


Alea mengangguk mengiyakan, ia menghapus air matanya sejenak, kemudian melangkahkan kaki mendekat pada air terjun. 


Di sana, Alea tak henti bermain air di bawah air terjun. "Aduh, sayang banget aku gak bawa baju, Honey," sesalnya. Itulah kenapa sedari tadi ia bertanya akan ke mana, karena ia harus membawa apa-apa yang dibutuhkan di tempat wisata. 


"Tenang, aku udah bawakan baju buat kamu," ucap Rafi dengan mengulas senyum. 


Mendengar ucapan pria yang dicintainya itu, ia pun membelalakkan mata. "Beneran, Honey? Di mana?" tanya Alea penasaran. 


"Ini, ada di dalam tas aku. Nyebur aja gak apa-apa," saran Rafi. Baju pria itu nampak masih bersih dan tidak basah karena ia tidak bermain air. 


"Wait, Honey. Aku mau difoto dulu," pinta Alea, membuat Rafi sontak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mereka tidak membawa kamera. 


Cekrek 1. Cekrek 2. Cekrek 3. Cekrek 20.


Rafi sudah mengambil potret kekasih gelapnya itu sebanyak 20 jepretan. Tapi, Alea masih saja belum puas dengan hasilnya. Aneh, katanya. 


Padahal menurut Rafi,  dari dua puluh itu, semuanya terlihat sangat sempurna. 


"Udah banyak, Alea. Bagus semua." Rafi berusaha meyakinkan kekasih gelapnya itu. Karena bagaimana pun juga, tangannya terasa pegal karena memotret terlalu lama. Apalagi tidak menggunakan alat bantuan apapun. 


"Enggak, aneh semua itu," protesnya. 


"Bagus semua! Titik!" Kesal, Rafi pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Tidak lupa, ia mematikan data seluler dalam ponselnya agar Raisa tidak dapat menghubungi dirinya. 


Alea memonyongkan bibir selama beberapa saat, kemudian pasrah. Ia bermain air hingga tubuhnya basah semua, dan sekarang ia sudah berenang di area air terjun. Tempat itu cukup sepi pengunjung karena letaknya yang ada di daerah terpencil. 


Alea dan Rafi menghabiskan waktu di tempat itu sekitar dua jam. Setelah itu, Alea mengganti baju ke dengan yang lebih baru. 


Mereka pun makan siang di tempat makan yang tak jauh dari air terjun. Usai bermain air memang waktu yang sangat tepat untuk menyantap makanan. 


Di depan Alea dan Rafi, kini sudah ada ayam bakar, lalapan, dan sambal. Juga ada minuman es jeruk yang dipesan oleh mereka berdua. Seperti biasa, Rafi mengikuti pesanan Alea. 


Setelah memakan santapan itu, Alea membuka ponselnya. 


"Heh, Rian ngapain ini tadi telepon," celetuk Alea pada Rafi saat ada pemberitahuan tiga panggilan tak terjawab dari Rian. 


Sontak, Rafi pun merebut ponsel itu dari Alea. Memastikan apa yang dikatakan oleh kekasih gelapnya itu. 


"Lho, iya. Ngapain, ya?" tanya Rafi penasaran. Seketika detak jantungnya menjadi naik turun. Ia khawatir jika Rian mengetahui perselingkuhan antara dirinya dengan Alea. 


Tidak lama kemudian, saat ponsel itu sudah kembali dalam genggaman Alea, Rian kembali menelepon wanita itu. 


"Jangan diangkat," bisik Rafi yang ada di depan Alea. 


"Angkat aja deh, takutnya ada info dari kantor," sahut Alea yang tetap mengkhawatirkan urusan kantornya. Itu adalah satu-satunya sumber pendapatannya. 


"Jangan, Alea. Nanti dia curiga." Rafi nampak begitu ketakutan. 


"Curiga apa? Dia udah tau kalau kita ada main di belakang," ucap Alea dengan santainya. 


"Hah, dia tau?" pekik Rafi seketika. Ia tidak percaya jika kakak iparnya itu telah mengetahui kabar perselingkuhan dirinya dengan Alea. 


Tanpa menjawab pertanyaan Rafi, dan tanpa menunggu persetujuan dari pria yang ada di depannya itu, Alea langsung menjawab telepon dari Rian. 


"Halo, Big bro? Ada apa?" tanya Alea dengan enteng. 


"Kamu lagi di mana, Alea?" tanya Rian yang nampak sedang menghabiskan waktu istirahat dengan menyantap makan siang. 


"Kan udah aku bilang, lagi di luar kota," balas Alea. "Gimana? Bos nanyain?" Wanita itu penasaran. 


"Enggak," jawa Rian. "Kamu sama Rafi, kan?" tanya pria itu. 


"Iya, kenapa, Big bro? Istrinya nyariin?" tanya Alea seraya terkekeh. Sama sekali tidak ada rasa takut. Tidak seperti pria yang kini ada di sampingnya. 


"Aku mau ngomong sama Rafi, HP mu kasih ke dia, gih," pinta Rian. Entah apa tujuannya. Seketika membuat Alea melirik ke arah pria yang begitu dicintainya itu.