Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 58


Raisa pun memeluk erat tubuh Alea. "Kamu yang sabar, ya, Alea. Aku bakal nasehatin Abang aku setelah ini," ucap Raisa. Wanita itu nampak sudah sangat peduli dan menyayangi Alea seperti kakaknya sendiri. 


"Udah, Sa. Gak usah. Ini gak penting buat dibahas kok. Yangg penting kan Abangmu sudah bertanggung jawab dengan menikah denganku. Iya kan?" Alea berusaha membujuk agar Raisa tidak memarahi Rian. 


Sementara itu, Rafi yang sudah tidak tahan melihat semua ini, ia harus pura-pura tidak tahu, padahal ialah dalang dari semua ini, ia pun memilih untuk mengalihkan obrolan Alea dan Raisa. 


"Eh, itu ikan apa, Alea? Pasti Rian yang beli, ya?" tanya Rafi untuk sekedar mengalihkan topik obrolan antara Alea dan Raisa.


"Iya, iya. Itu ikan apa ya namanya aku lupa sih, Rafi. Nanti kamu tanya sama Rian aja deh," jawab Alea dengan terlihat antusias agar Raisa tidak membahas hal tadi lagi. 


Rafi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bingung harus mengagakan apa lagi. Kalau boleh jujur, napas pria itu sekarang naik turun, detak jantungnya tidak stabil sejak Raisa memergoki Alea bahwa wanita itu sudah hamil di luar nikah. 


"Oh ya, anak kamu gak diajak ke sini?" tanya Alea lagi. Sebenarnya ia tidak terlalu penasaran, hanya saja itu ia lakukan agar pikiran Raisa benar-benar bisa teralih dari kehamilan Alea. 


"Iya, dia di rumah. Dijaga sama Bi Eni," lirih Raisa dengan nada yang tak bersemangat. Rasanya ia merasa bersalah karena tidak pandai menasehati sang kakak. Hingga sang kakak melanggar aturan seperti ini. 


Raisa menyimpulkan jika sang kakak lah yang menghamili Alea. Dengan begitu saja sudah membuatnya seolah lemas. Apalagi jika wanita itu mengetahui yang sesungguhnya. 


Demi apapun, Alea tidak akan membeberkan rahasia ini sedikit pun dan kepada siapa pun. Ia tidak tega jika di kemudian hari, Raisa mengetahui yang sebenarnya. Sungguh, ia benar-benar tidak tega. 


"Oalahh. Padahal aku ingin cubit pipinya hehe," ucap Alea dengan tersenyum palsu. Ia terus menelan salivanya sedari tadi. 


Kehadiran Raisa kali ini benar-benar membuat tenggorokannya menjadi kering karena panik dan cemas bukan kepalang. 


"Oh ya, ini barang-barang kamu udah dipindah ke sini semua?" tanya Raisa pada akhirnya. Usaha Rafi dan Alea untuk mengalihkan topik obrolan itu membuahkan hasil. 


Alea kini bisa bernapas sedikit lebih lega. "Udah, kok. Udah. Eh, bentar ya, biar aku panggil Abangmu dulu." Alea pamit ke dalam ruang kerja Rian. 


Sebelum itu, ia mempersilakan Rafi dan Raisa duduk terlebih dahulu di ruang tamu. Belum ada camilan apapun di atas meja itu. Hanya ada beberapa buku mengenai parenting dan kehamilan. 


Dengan tergesa-gesa, Alea melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Rian. Ia tidak sabar ingin menceritakan semuanya pada sang suami itu. 


"Ayang?" sapa Alea pada sang suami sepersekian detik setelah ia kembali menutup pintu ruang kerja Rian dengan rapat. 


Rian yang sedari tadi fokus dengan pekerjaannya pun tersentak saat melihat Alea masuk ke dalam ruangannya dengan mimik wajah yang tak biasa. 


"Ada apa, Sayang? Aku sampai kaget," tanya Rian seraya menghentikan pekerjaannya. 


Bukan menjawab pertanyaan dari sang suami, Alea justru mematung di depan pintu. 


"Sini-sini peluk dulu." Rian pun bangkit dari duduk. Ia langsung mendekap tubuh sang istri. "Relax, inhale, exhale. Tenang." Pria itu juga membelai-belai punggung Alea. 


Selama berdekapan dengan Alea, ia bisa merasakan detak jantung Alea yang berdegup tidak beraturan. Ia menunggu selama beberapa saat hingga detak jantung Alea berdegup kembali normal. Pun deru napasnya kembali stabil. 


"Kenapa, Sayang? Ada apa?" tanya Rian lagi. Bagaimana pun juga, ia harus mengetahui sumber utama kenapa Alea seperti ini. 


"Ra-raisa udah tahu kalau aku hamil," ungkap Alea dengan menitikkan air mata. Wanita selalu begitu. Saat menjelaskan apa yang menyesakkan dadanya, mereka pasti selalu menangis.


"Hah? Iya? Dia ke sini atau bagaimana?" tanya Rian yang mulai ikut panik. "Terus kamu bilang apa tadi, Sayang?"


"Aku bilang ini anak kamu. Aku takut banget keceplosan, Ayang. Aku takut. Tadi, dia bilang mau marahin kamu karena udah menghamili aku sebelum menikah." Alea terus menjelaskan apa yang terjadi dengan berlinang air mata. 


Mendengar penuturan Alea bahwa ia sudah mengatakan bahwa anak dalma kandungannya adalah anak dari Rian, Rian pun sedikit lega. Tidak apa-apa jika dirinya harus dimarahi oleh sang adik, asal hubungan Rafi dan Raisa tetap harmonis. 


"No problem, Sayang. No problem." Rian tak henti mencoba menenangkan sang istri. 


"Tapi aku gak mau kalau dia marahin kamu. Kamu baik banget, Ayang. Sama sekali gak pantas dimarahi." Alea masih saja terus menangis. Ia memang sesayang itu dengan Rian sekarang. 


"Iya iya. Aku gak akan dimarahi Raisa kok. Kamu tenang aja, Sayang." Rian mengarahkan poni Alea yang berantakan ke belakang telinga wanita itu. 


"Udah, jangan nangis lagi ya. Everything is gonna be okay." Rian menghapus air mata sang istri. Sementara itu, Alea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. 


Setelah hati Alea lebih baik, Rian pun memutuskan untuk keluar ruang kerjanya dan menemui Rafi dan Raisa. 


"Kamu jangan panik. Kan ada aku. Sekarang, kita temui mereka dulu, ya. Kasian mereka nunggu lama kalau kamu nangis terus," bujuk Rian seraya masih menghapus air mata sang istri dengan tangannya sendiri.


Alea mencoba mengatur napasnya sejenak, sebelum kemudian akhirnya ke luar dari ruangan kerja Rian untuk menemui tamu mereka yaitu Rafi dan Raisa. 


Tidak lupa, Rian menggengam tangan Alea agar wanita itu tidak panik lagi. Lagipula, tidak seharusnya ia khawatir karena sekarang sudah ada Rian yang bisa selalu melindungi dirinya. 


"Hei," sapa Rian pada Rafi dan Raisa. 


Mimik wajah Raisa sudah terlihat hampir memarahi sang kakak, namun karena melihat mata Alea yang sembab. Dan Rafi tak henti memegang tangan Raisa sedari tadi, itu membuat amarah Raisa mulai padam. 


"Abang," timpal Raisa. Wanita itu lantas menubrukkan tubuhnya pada tubuh sang kakak. Ia mendekap Rian erat-erat. 


Rian tidak mengatakan apa-apa sehingga Raisa pun melepas dekapan itu. Kemudian, pandangan Raisa kini tertuju pada mata Alea yang nampak usai menangis. 


"Alea, kamu menangis? Gara-gara aku?" tanya Raisa dengan wajah yang mendung. Wanita itu menjadi merasa bersalah karena telah membahas hal yang baru saja ia ketahui tadi. 


"Dikit," lirih Alea seraya berusaha menghapus sisa-sisa air matanya. 


"Udah udah. Alea gak apa-apa kok. Oh ya, kita makan ke restoran aja yuk. Di sini belum ada makanan apa-apa," ajak Rian yang kemudian diiyakan oleh Rafi, Raisa, dan juga Alea.