Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 18


"Honey, indah banget. Gak kaya di kota. Di sini sejuk banget, Honey," ucap Alea dengan hati yang begitu berbunga-bunga. Wanita itu melompat-lompat kecil di sekitaran kebun teh. Ia nampak begitu bahagia. 


Sementara itu, Rafi dengan sigap memotret Alea dengan jumlah yang banyak. Itu ia lakukan agar wanitanya itu puas dengan hasil jepretannya. 


Cekrek 1, cekrek 2, cekrek 10, cekrek 20, hingga seterusnya. Tidak seperti seje yang nampak ogah-ogahan memotret Alea, kini Rafi sangat menikmati dengan aktivitas memotret sang kekasih gelap itu. 


"Sayang, aku abis memotret kamu pas tadi. Ucap deh," ucap Rafi seraya mendekatkan dirinya pada Alea. Ia  menunjukkan puluhan foto yang telah ia jepret menggunakan kamera. 


Alea menutup mulut dengan kedua tangan. Ia tidak mengira bahwa Rafi bisa bersikap manis seperti ini. Padahal beberapa hari lalu, saat di air terjun, Rafi malas memotret dirinya. Tapi, sekarang bisa dilihat bahwa cinta Rafi sudah tumbuh untuk Alea. 


"Honey, kamu so sweet banget. Sayang banget sama kamu." Alea lantas mendekap erat tubuh pria atletis itu. Membuat Rafi kegirangan. 


"Lagi dong, Sayang," goda Rafi, ia ingin kembali menempelkan tubuhnya pada tubuh Alea. 


"Ish, Honey. Kita ke sana aja, yuk," ajak Alea seraya mengalihkan topik pembicaraan. 


Mereka menuju kebun teh yang daratannya semakin menurun. Alea berlari lari seperti anak kecil. Menurutnya itu aman karena jalanannya sama sekali tidak terjal. Melainkan mulus, walau jalanannya menurun. 


Tapi, Rafi khawatir dengan kekasih gelapnya itu. Dari belakang, pria itu berteriak-teriak agar sang pujaan hati berhenti berlari. 


"Alea! Jangan lari-lari, nanti jatuh," pekik Rafi, namun sama sekali tak digubris oleh Alea. Walau sebenarnya wanita itu sangat mampu mendengar kata-kata larangan dari kekasihnya itu. 


"Gak apa-apa, tau, Honey. Ini seru banget. Aku pengen di sini lama-lama." Alea masih saja mengayunkan kakinya ke sana dan kemari dengan sebebas-bebasnya.


Belum sempat Rafi menyahuti perkataan Alea, tiba-tiba tubuh Alea tidak bisa dikendalikan. 


"Aaaa," pekik Alea tidak bisa mengontrol dirinya yang berlari terlalu kencang di sebuah turunan. Ia pun tersungkur jatuh ke tanah. 


Sontak Rafi pun panik. Ia segera mempercepat langkah mendekat pada Alea. "Hati-hati, dong. Apa aku bilang?" 


Rafi menarik tangan Alea yang sudah terjatuh, dan sulit untuk bangkit sendiri. Alea pun meringis kesakitan. 


Ia terisak. "Ho-honey, sakit banget," ungkapnya seraya meringis kesakitan. 


Lutut kirinya penuh darah. Sementara itu, telapak kakinya yang bagian kiri tidak bisa digunakaj untuk menapak seperti biasanya. Sepertinya bagian itu terkilir. 


"Ayok kita ke vila dulu," ucap Rafi penuh cemas. Ia berusaha memapah wanita pujaan hatinya itu. 


"Gak bisa, aku gak bisa jalan," pekik Alea merasakan sakit yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tangisannya mulai pecah sepecah-pecahnya. 


"Haduhhh, sakit banget awww," teriak Alea. Wanita itu tak bsia berhenti menangis karena sakit. Ini bahkan untuk pertama kalinya ia jatuh separah ini. 


"Sakit banget, Honey," ungkapnya lagi dan lagi. 


"Honey, kamu kuat?" Alea masih sempat bertanya walau sedang kesakitan, pun dalam keadaan pipi yang basah semua. Itu ia lakukan karena ia cukup sadar diri mengenai tubuhnya yang tidak seringan wanita-wanita lain. 


"Ku-kuat," ucap Rafi seraua terus membawa tubuh wanita itu menuju ke daratan lebih atas. Kedua tangannya sebenarnya sudah sangat pegal. Tapi, mau bagaimana lagi. Alea tidak bisa berjalan, pun tidak ada satu orang pun di sana. 


Lagipula, berkorban untuk wanita yang kini ia sayangi tidaklah apa-apa. Justru ada perasaan senang dan bangga di dalam dada. 


Setelah menguras banyak tenaga dan waktu, Rafi dan Alea pun tiba di vila. 


"Huh." Rafi melepaskan napasnya yang sedari tadi naik turun karena menahan pegal. Pria itu merebahkan tubuh Alea pada ranjang yang empuk. 


Alea masih penuh tangis. Pipi kiri dan kanannya basah semua. Ia tidak bisa menahan rasa sakit itu. 


Rafi lalu meraih tissu untuk membersihkan darah yang mengalir pada lutut Alea. Karena tidak ada alat-alat dan obat yang memadai, Rafi pun membawa Alea menuju puskesmas terdekat. 


Tiba di puskesmas, ada mantri laki-laki yang segera menangani Alea. Pria itu mengatakan bahwa luka Alea tidak begitu parah. Hanya saja, darahnya memang cukup banyak. Mantri itu pun menutup luka pada lutut Alea menggunakan perban. 


Di sana, memang hanya ada mantri karena tidak ada dokter yang mau berjaga di puskesmas itu. "Pasti bisa sembuh cepat, kok. Untuk di bagian telapak kaki itu sepertinya terkilir. Bawa saja ke tukang pijit. Di sini tukang pijitnya jago-jago," ungkap mantri yang berusia paruh baya itu. 


Alea membelalakkan mata ke arah Rafi. "Aku gak mau dipijit, pasti sakit," teriak Alea dapat terdengar dari ruang sebelah. 


"Udah, Sayang. Gak apa-apa. Itu biar sembuh." Rafi berusaha meyakinkan wanita itu. 


Setelah semuanya cukup, mereka pun segera ke tukang pijit seperti yang disarankan oleh mantri tadi. 


Saat dipijit di sana, Alea menjerit-jerit. Ia menjerit kesakitan atas apa yang telah dilakukan oleh tukang pijit perempuan yang ada di sana. Setelah kurang lebih satu jam dipijit, mereka pun kembali ke vila. 


***


Sementara itu, di kediaman Raisa, wanita itu masih tak henti bisa membendung tangisannya. Ia masih tidak mengira bahwa Rafi akan sejahat itu kepadanya. Raisa sontak merasa dirirnya tidak pantas untuk siapa-siapa, apalagi Rafi. 


"Udah, hapus air mata kamu. Kita ke pengadilan sekarang," tegas Rian pada sang adik. Ia tahu bahwa Raisa butuh ditegaskan hingga akhirnya tersadar. Tidak seharusnya sang adik mengemis-ngemis cinta pada suaminya sendiri. 


Dengan penuh paksaan, dan dengan penuh air mata, Raisa dibawa oleh Rian menuju pengadilan. Sebelumnya, Rian telah menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. 


"Abang, aku gak mau cerai," ucap Raisa entah yang ke berapa kali. Entah apa yang membuat dirinya tidak mau melepaskan Rafi, walaupun pria itu telah melakukan hal yang luar biasa jahat kepadanya. 


"Kamu harus cerai," tegas Rian. Sesekali ia memegang tangan kiri sang adik untuk sekedar menenangkan. "Gak apa-apa jadi janda. Daripada, jadi istri tapi batin tersiksa." Rian berkali-kali menegaskan. Tidak ada untungnya mempertahankan rumah tangga yang sudah sangat toxic. 


Masih dengan penuh tetes-tetes air mata, Rian dan Raisa tiba di pengadilan. Lantas mereka ditanya untuk keperluan apa mereka ada di sana. Rian dengan penuh emosi mengatakan semua yang terjadi secara sejujur-jujurnya. Sementara itu, Raisa tidak bisa berkata-kata. 


"Itu mengandung, kan?" tanya salah satu petugas yang ada di sana. Raisa mengangguk mengiyakan.