
Sore harinya, Rafi dan Alea memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, cukup macet karena bersamaaan dengan orang baru pulang kerja. Waktu macet itu ia gunakan untuk bermesraan di dalam mobil.
Walaupun kaki Alea masih sakit, itu sama sekali tidak menghalangi niat mereka untuk bermesra-mesraan di dalam mobil. Terlebih, kaca mobil itu hitam sehingga tapa yang mereka lakukan di dalam, tidak terlihat sama sekali dari luar.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di kos-kosan Alea. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00.
"Honey, kamu gak mau mampir dulu beneran?" tanya Alea memastikan. Ia masih sangat ingin berduaan dengan sang pujaan hati itu.
"Udah malam, Sayang. Besok kita ketemu lagi ya pulang kantor," ucap Rafi sedikit menenangkan Alea itu.
Alea sempat merengek selama beberapa saat, sebelum akhirnya Rafi berhasil membujuk wnaita itu. Pria itu mengantarkan Alea hingga dalam kamar kosnya karena kaki Alea masih sedikit kesulitan untuk berjalan seperti biasa.
"See you tomorrow, Honey," ucap Alea seraya melambaikan tangan saat Rafi mulai pergi dari pandangan.
"See you too," balas Rafi seraya membalikkan badan.
Rafi pun menjalankan mobilnya ke arah rumah Raisa. Tapi, sebelum benar-benar ke rumah itu, Rafi melipir di pinggir jalan sejenak. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Raisa. Apalagi kalau ada Rian di sana. Ia pasti akan seperti pengecut di mata mereka.
Sejenak Rafi mengepalkan tangan. Ia juga mengatur napas dengan baik. Setelah dirasa cukup, ia kembali menjalankan mobilnya dengan perasaan sedikit cemas.
Saat tiba di rumah Raisa, Rafi mengetuk pintu dengan ragu. Ia tidak mengucapkan salam ataupun memanggil nama sang istri.
Setelah beberapa saat, pintu itu terbuka. Dan yang membuka pintu itu adalah pembantu yang ada di rumah itu.
Rafi hanya menunduk sopan setelah sang pembantu membuka pintu. Pembantu itu bernama Bi Ira. Bi Ira dengan santun mempersilahkan Rafi masuk. Ia juga tidak tahu mengenai permasalahan yang ada di keluarga majikannya.
Kalaupun ia tahu, itu juga bukan urusan Bi Ira untuk ikut campur terhadap urusan mereka.
Masuk ke dalam rumah, Rafi disambut Rian dengan wajah yang begitu dingin. Rafi jadi bingung harus bagaimana karena Rian hanya diam saja. Ia tidak melihat ada Raisa di sana. Membuat laki-laki itu mengedarkan pandangan.
Rafi pun berniat untuk masuk ke dalam kamar. Barangkali Raisa ada di sana. Ia ingin meminta maaf walaupun Raisa tidak akan mungkin memaafkan dirinya seketika.
Tapi, langkahnya dicegah oleh Rian. "Gak usah masuk ke dalam kamar, biarkan dia sendiri dulu," ucap Rian tanpa mengarahkan pandangannya sedikit pun ke arah Rafi.
Langkah Rafi pun terhenti. Ia memutuskan untuk duduk di sisi Rian. Rafi sangat canggung di sana, ia mulai meremaa jari jemari. Ingin rasanya ia membuka ponsel untuk mengabari Alea, sekedar memberi tahu bahwa diirnya sudah sampai rumah dengan selamat.
Tapi, apalah daya. Ia merasa tidak enak hati karena ada Rian di sana. Rafi dan Rian membiarkan keheningan ada di tengah-tengah mereka.
Tiba-tiba Raisa datang dengan membawa baju untuk Rian. Satu pasang baju ganti untuk Rafi. Pria itu menerima baju itu dengan sedikit ragu.
Rafi pun hanya bisa memandang istri sahnya itu. Raisa nampak begitu mendung wajahnya. Bibirnya pun nampak begitu pucat. Membuat Rafi tidak tega melihatnya. Rafi hampir mengucap sesuatu namun bibirnya seolah dicegah oleh keadaan.
Rafi kini masuk rumahnya sendiri seperti masuk ke dalam penjara, banyak tuntutan karena kesalahan yang telah ia buat.
Rafi pun mandi ke kamar mandi yang ada di kamar sebelahnya. Sejenak ia meninggalkan ponselnya di atas meja. Tapi, karena tidak lama kemudian ponselnya itu dilirik oleh sang kakak ipar, ia pun kembali mengambil ponsel itu. Kemudian ia bawa ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi selama sekitar lima belas menit, Rafi pun keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti baju. Kini ia enggan duduk di sebelah sang kakka ipar itu, ia sekarang lebih memilih menonton televisi di ruang keluarga agar sedikit lebih mencairkan suasana.
Tidak lama kemudian, Raisa tiba-tiba datang pada Rafi dengan membawa satu piring berisi makanan dan juga air putih.
Rafi membelalakkan mata melihat Raisa. Wanita itu sudah ia sakiti hingga seperti ini, tapi kenapa masih saja peduli? Atau ini tidak lain hanyalah bentuk peduli karena mengharap Rafi bisa kembali padanya. Atau justru wanita itu memang tulus padanya?
Berbagai pikiran mulai berkecamuk di dalam kepala Rafi. Ia mengucap terima kasih pada Raisa walaupun wanita itu sama sekali tidak mengucapkan apa-apa.
"Terima kasih," ucap Rafi, tepat saat Raisa membalikkan badan untuk kembali ke dalam kamar. Tidak lama kemudian, Rian yang kini menghampiri sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Kamu tuh sadar gak sih? Udah dicintai sampai begitu, dipedulikan sampai begitu, tapi kenapa masih aja tertarik sama wanita lain?" tanya Rian dengan nada yang tinggi. Akhir-akhir ini, ia memang tidak seperti Rian pada hari biasa.
"Maaf," ucap Rafi singkat. Ia sebenarnya juga tidak ingin seperti ini. Hanya sjaa, keadaan lah yang memaksa Rafi dan Alea melakukan ini semua.
Rafi dipersilahkan bi Ira untuk tidur di kamar sebelah kamar Raisa. Rafi hanya bisa mengikuti perintah orang-orang yang ada di sana. Karena bagaimana pun juga, posisi dirinya adalah salah. Ia paham betul itu.
***
Keesokan harinya, Rafi berangkat ke kantor. Ia kembali bekerja seperti biasanya. Ia disambut hangat oleh rekan-rekan kantornya. Seolah tidak seperti biasanya.
Saat tepat pukul 08.00, aktivitas bekerja pun dimulai. Ada rapat pagi itu, Rafi pun ikut berkumpul di sana.
"Selamat pagi semuanya," sapa pemimpin yang ada di kantor Rafi.
"Selamat pagi," balas semua orang yang ada di sana, termasuk Rafi.
Acara rapat pun dimulai. Hingga tiba saat rapat berjalan empat puluh lima menit, semua orang bertepuk tangan kepada Rafi atas pencapaian yang ia dapat selama satu bulan itu. Meskipun ia sempat cuti selama satu minggu, tapi itu tidak membuat sang atasan mengurungkan niatnya untuk menjadikan Rafi sebagai manager.
Rafi pun berkali-kali mengucapkan teerima kasih atas rezeki ini. Ia pun menunduk untuk memberi hormat sekaligus mengucapkan terima kasih.
"Untuk itu, saya pindahkan kamu ke kantor yang ada di sebelah sana." Rafi terbelalak mengetahui pemimpin perusahaan itu mengucapkan bahwa Rafi akan dipindahkan di kantor yang sama dengan Alea.
Ia pun senang bukan kepalang, meskipun ada Rian di sana.