Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 26


Hari demi hari berganti, bulan demi bulan berjalan. Hingga akhirnya, tiba waktunya usia kandungan Raisa menginjak sembilan bulan. 


Perut wanita itu sudah membuncit sempurna, jalannya sudah melamban kian harinya. Apa-apa terasa serba tidak nyaman. Duduk lelah, tidur salah. 


Saat-saat seperti itu, Rian sebagai kakak, selalu menemani Raisa pada setiap proses yang  berjalan. 


Rafi dan Raisa masih tinggal satu atap, namun komunikasi yang dijalin teramat sedikit. Pria itu selalu berangkat pagi dan pulang pada larut malam. Rian sesekali menegurnya, tapi tak pernah digubris oleh temannya itu. 


Raisa juga masih senantiasa melayani Rafi sebagai seorang istri, namun tak bisa lagi seperti semula. Wanita itu hanya bisa melakukan itu dengan batas sewajarnya, karena sadar bahwa hati Rafi selama ini ternyata bukan untuknya. 


Siang ini, Rian pamit untuk pergi belanja bulanan karena mumpung hari minggu sehingga tidak bekerja. Sebenarnya, Rian sangat khawatir karena harus meninggalkan Raisa walau hanya sebentar. Itu karena sejak tadi malam, Raisa mulai mengeluhkan perutnya yang terasa tidak enak. 


Namun, wanita itu menolak ajakan sang kakak untuk pergi ke rumah sakit. Ia masih bisa menahan rasa sakitnya, pun ia merasa waktu lahirannya belum tiba. Kalau dilihat berdasarkan tanggalnya, masih ada waktu kurang lebih dua minggu untuk dirinya melahirkan. 


"Sa, kamu gak apa-apa, kan? Aku tinggal ke mall sebentar, ya," pamit Rian pada Raisa yang sekarang tengah menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. 


"Udah, gak apa-apa, Abang. Aku tuh belum waktunya melahirkan. Tenang aja. Sekalian Abang beli barang-barang buat aku dan dedek bayi nanti, ya," pesan wanita itu. Sekarang ia sudah duduk di pinggir ranjang. Entah mau pergi ke mana. 


"Iya, nanti sekalian aku belikan. Eh, kamu mau ke mana ini?" tanya Rian karena melihat sang adik seolah hendak pergi. 


"Enggak, itu mau ke depan aja. Rafi udah pergi, Bang?" Raisa masih saja mencemaskan dan mengkhawatirkan Rafi. 


"Ada di kamar, orang dia baru aja pulang," ujar Rian dengan nada yang biasa saja. Sekarang, ia tidak lagi membenci Rafi seperti beberapa bulan sebelumnya. 


Ia sadar bahwa cinta memang tidak bisa dipaksa, seperti dirinya yang memilih melajang selamanya karena tidak bisa mendapatkan cinta Alea. Lagipula, sebentar lagi pasti Rafi dan Raisa akan bercerai karena Raisa akan melahirkan. Semua permasalahan ini cepat atau lambat akan segera clear. 


"Dia udah makan atau belum, ya?" Pandangan Raisa kini mengarah ke luar pintu, ia mengkhawatirkan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. 


"Gak usah diambilakan. Dia bisa ambil sendiri. Kamu di kamar aja." Rian mencegah Raisa yang hendak berdiri. Wanita itu harus banyak istirahat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. 


"Kasian, Abang." Sejahat apapun perlakuan Rafi kepada Raisa, namun wanita itu tidak mampu membalas kejahatan yang selaras. 


Sungguh, Raisa tidak bisa berbuat jahat kepada siapapun, apalagi kepada suaminya sendiri, pria yang masih amat ia cintai. Meski pria itu sama sekali tidak mencintai dirinya dan justru mencintai wanita lain. 


"Udah, pokoknya kamu diam aja. Aku pergi dulu, ya. Hati-hati. Adek bayinya dijaga baik-baik. Gak usah jaga bapaknya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Rian pergi ke mall. Tubuhnya kini sudah hilang dari pandangan Raisa. 


Raisa memastikan sang kakak sudah pergi dengan mobilnya. Saat itulah, Raisa memastikan Rafi apakah sudah makan atau belum. 


Rafi kini nampak sedang menonton televisi di ruang keluarga. Pria itu terlihat serius sedang menonton berita. 


"Kamu udah makan atau belum?" tanya Raisa dengan nada pelan, sepelan langkahnya dari kamar menuju ke sana. Membuat Rafi tersentak karena ada Raisa. 


"Eh, be-belum," sahut Rafi singkat. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. 


Lantas Raisa pun bergegas ke dapur untuk mengambilkan sang suami satu piring makanan. Tidak lama kemudian, wanita itu datang dengan sudah membawa satu nampan berisi makanan dan segelas air putih. 


"Makasih ya, Raisa," ucap Rafi pada Raisa yang masih saja perhatian pada dirinya. 


"Sama-sama."


"Sa, kenapa, Sa?" tanya Rafi seraya meletakkan piring ke atas meja. Pria itu mendekat pada Raisa. 


Rafi teramat sangat panik karena melihat wajah Raisa yang sangat kesakitan. Raisa kini sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya, ia hampir tersungkur ke lantai. Untung saja, Rafi dengan sigap menangkap tubuh wanita itu. 


Tanpa berpikir lama, Rafi langsung membawa Raisa menuju rumah sakit. Selama perjalanan, Raisa terdiam menahan sakit yang teramat sangat. 


Meski wanita itu tidak mengeluarkan satu patah katapun dari bibirnya, tapi Rafi dapat melihat sakit itu melalui wajah Raisa. Mimik wajahnya seperti sudah tidak sanggup menahan sakit ini. 


"Raisa, kamu sabar, ya. Aku temenin kamu, kok. Aku di sini, tenang aja," ucap Rafi dengan penuh gemetar. Seketika ia merasa ingin menebus semua rasa salahnya pada wanita itu. 


"Aduuuhh," keluh Raisa dengan menghela napas panjang. Ia berusaha mengatur napas menjadi naik turun. Wanita itu berharap segera tiba di rumah sakit untuk bisa ditangani oleh dokter. 


"Sabar ya, Sayang. Kita hampir sampai, kok." Rafi berusaha menenangkan Raisa untuk pertama kali. Sesekali pria itu membelai punggung tangan dan puncak kepala Raisa. 


Kali ini, Rafi seolah benar-benar mengkhawatirkan wanita yang mengandung buah hatinya itu. 


Tiba di rumah sakit, Raisa langsung dibawa oleh perawat ke dalam ruangan. Dokter yang menangani nampak meminta pertimbangan pada Rafi. 


"Dok, itu kenapa, Dok?" tanya Rafi penasaran, pun dengan nada penuh kecemasan. 


"Sudah waktunya melahirkan, Pak. Bapak mau menunggu di luar atau menemani istrinya di dalam?" tanya dokter memastikan karena pintu akan segera ditutup. 


"Sa-saya, ikut masuk, Dok." Rafi memutuskan untuk menemanu Raisa melahirkan. Tidak ada siapa-siapa lagi selain dirinya. 


Mau tidak mau, Rafi harus menemani Raisa, meskipun ini adalah yang pertama kalinya ia akan menyaksikan orang melahirkan. 


Di dalam ruangan, sudah ada dokter perempuan yang nampak menangani proses persalinan Raisa. Rafi langsung duduk di sebelah Raisa. Tangannya menggenggam tangan Raisa erat-erat. 


"Huhh huhh hahh." Raisa terus mengatur napasnya sesuai instruksi dari dokter. Wanita itu terlihat benar-benar sangat kesakitan. 


Rafi yang tidak tega melihat pemandangan itu, lantas menitikkan air mata. Tiba-tiba hatinya tersentuh dengan suasana di dalam ruangan ini. 


Ia merasa menyesal sekali telah menyakiti wanita yang ada di depannya. Pria itu seketika ingin memperbaiki semuanya. 


Terlebih, saat terdengar suara bayi yang baru lahir. Membuat Rafi semakin menitikkan air matanya semakin deras. 


Oekk oekk oekkk. 


Kedua mata Rafi langsung tertuju pada buah hatinya yang baru lahir itu. Mata Raisa terpejam cukup lama setelah bayi itu lahir karena telah menahan sakit selama sekitar satu jam. 


Setelah jabang bayi dibersihkan dan dibedong, seorang perawat memberikan bayi itu kepada Rafi. 


"Ini, Pak, anaknya. Silakan diadzani."


Rafi meraih bayi itu dengan sedikit kaku karena tidak pernah menggendong bayi sebelumnya. Ia pun melantunkan lafadz adzan sebiasanya. Ia bukanlah ayah yang baik, tapi ia ingin melakukan yang terbaik mulai detik ini. 


Saat mendengar Rafi melantunkan adzan, mata Raisa sontak terbuka. Wanita itu menitikkan air mata karena terharu melihat pemandangan ini.