
"Sekarang, Rian?" tanya Rafi yang sedang memegangi setir mobil. Benar saja, ia baru pulang dari kerja, sekarang masih dalam perjalanan untuk pulang.
"Iya, sekarang. Aku tunggu di tempat biasa, ya," ujar Rian dengan penuh penekanan. Nada bicara pria itu tidak lembut seperti biasanya. Namun, juga tidak dengan nada yang garang.
"Oke, siap," jawab Rafi seadanya. Dalam hati pria itu sedang menerka-nerka apa maksud tujuan Rian mengajak dirinya kembali bertemu secara empat mata.
Hingga akhirnya, mereka pun bertemu di sebuah coffee shop tempat biasa mereka menghabiskan waktu untuk bercengkrama.
Rafi tiba lebih dulu karena saat mengabari dirinya untuk bertemu, pria itu ada di posisi yang tak jauh dari letak coffee shop itu berada. Lima menit setelahnya, Rian baru tiba di sana.
"Whats up, Bro," sapa Rian untuk sekedar basa-basi seraya berjabat tangan.
Rafi membalas jabatan tangan dari Rian. "Yoi, Bro."
Mereka pun duduk lalu memesan minuman dan beberapa camilan. Kali ini, Rian ingin berbincang dengan Rafi cukup lama.
Selain untuk memberi tahu agar Rafi tidak lagi menghubungi Alea, pria itu juga ingin mengenang masa-masa di saat Rafi belum menikah dengan Raisa. Pun sebelum ada permasalahan yang serumit ini.
"Jadi, gimana? Kerjaan lancar?" tanya Rian masih dengan berbasa-basi.
"Lancar-lancar aja. Kamu sendiri gimana?" Rafi turut berbalik tanya.
"Aku atau Alea yang kamu maksud?" goda Rian dengan terkekeh. Pria itu rupanya mulai memancing topik yang ingin dibicarakan.
Rafi hanya bisa menelan salivanya. "Ka-kamu lah, Bro. Buat apa juga aku nanya soal Alea, ya kan?" Pria itu bersikap seolah-olah tidak melakukan kesalahan. Rafi memang jago berbohong sedari dahulu.
"Tapi kamu tadi telepon Alea, kan?" tanya Rian dengan nada santai untuk sekedar memastiian. Jus alpukat yang dipesannya, sudah datang. Langsung iya seruput menggunakan sedotan.
Rafi yang juga sedang meminum kopi pesanannya pun seketika tersedak mendengar pertanyaan dari Rian. Pria itu seolah lupa kalau Alea satu kantor dengan Rian.
Pun ia seolah tidak ingat jika Rian begitu mengagumi Alea. Pastinya Rian akan memata-matai wanita itu selalu. Sehingga jika ia menghubungi Alea, sudah pasti Rian tahu akan hal itu.
"O-oh, iya. Itu cuma ...." Ucapan pria itu terhenti. Ia sedang mencari-cari alasan yang tepat, namun tidak kunjung menemukan.
Akhirnya, Rafi pun jujur berbicara seadanya. "Aku cuma memastikan keadaan Alea sih. Terus sama bilang kalau aku mau bertanggung jawab secara financial. Udah gitu aja kok, Bro," terang Rafi dengan jujur sejujur-jujurnya.
Rian mengangkat kedua alis. "Yakin?" tanya Rian memastikan.
"Iya, udah. Cuma itu doang, sumpah." Rafi bahkan berani bersumpah karena memang hanya itu yang ia katakan saat menghubungi Alea siang lalu.
Rian pun menghela napas panjang. "Tapi, Bro. Tanpa kamu sadari, dengan kamu menghubungi Alea lagi itu secara gak langsung kamu membuat dia berharap lagi sama kamu. Misalnya kemarin dia udah coba mulai menyembuhkan lukanya, sekarang luka itu basah lagi. Paham kan?" Dengan panjang lebar, Rian menjelaskan.
Rafi hanya bisa tertunduk seraya memutar-mutar sendok di dalam cangkir. Pria itu nampak berpikir sejenak.
"Jadi aku harus gimana, Rian?" tanya Rafi seolah pikirannya buntu. Disukai dua wanita membuatnya bingung tujuh keliling.
"Intinya kamu jauhi Alea. Jangan pernah menghubungi dia lagi. Itu poinnya. Kasihan dia, Fi. Dia sampai segitunya ngemis-ngemis sama kamu. Dia itu perempuan, gak seharusnya kaya gitu." Dengan telaten dan pelan-pelan, Rian memaparkan apa yang harus Rafi lakukan.
Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka dengan santai. Tidak lagi membahas perihal permasalahan antara Rafi, Rian, dan juga Alea.
Tidak terasa, kurang lebih sudah dua jam mereka ada di sana. Raisa sudah dua kali menghubungi Rafi karena khawatir terjadi apa-apa. Apalagi, tadi dia tidak sempat izin pada wanita itu.
"Udah ditelepon Raisa nih, Bro. Aku balik dulu, ya. Kamu jaga Alea baik-baik," pamit Rafi seraya berdiri.
"Oke deh, ingat pesanku ya." Mereka pun saling memisahkan diri setelah dari sana.
***
Di tempat lain, Alea sedang merebahkan diri di atas kasur yang empuk. Ia sibuk memandangi layar ponselnya. Ada sosok wajah dirinya dan Rian pada layar ponsel itu.
"Honey?" lirih Alea seraya terus memandangi potret dirinya dan Rafi. "Andai kita bisab balik seperti dulu lagi."
Perasaan Alea untuk pria itu sudah menetap terlalu lama. Sudah menghujam terlalu dalam, hingga membuatnya kesulitan untuk lepas dari cintanya sendiri.
Rasanya begitu sulit untuk mengendalikan perasaannya. Meskipun ia tahu, bahwa Rafi sudah memiliki istri, tapi ia sudah lebih dulu mencintai pria itu daripada Raisa. Hanya saja, takdir tak berpihak pada Alea, justru berpihak pada Raisa.
"Kenapa dunia ini jahat banget." Alea terus menggerutu pada dirinya sendiri. Air matanya sudah mengalir deras sedari tadi.
Ingin rasanya mencurahkan seluruh isi hati kepada seseorang yang bisa memahami dirinya. Tapi, apalah daya. Ia tidak memiliki siapa-siapa. Keluarga tidak ada, sahabat pun ia tidak punya.
Memang ada Rian yang selalu ada untuk dirinya. Tapi, ia merasa Rian bukanlah orang yang tepat untuk diajak berbicara dari hati ke hati.
Wanita itu menangis dan merenung lama sekali, hingga akhirnya tertidur pulas.
Setelah kurang lebih setengah jam tertidur pulas, Alea kemudian dibangunkan oleh dering di ponselnya yang nyaring.
Dengan mata yang masih samar-samar, ia meraba-raba ponselnya di atas kasur. Dapat ia lihat, ada nama Rian pada layar ponsel itu.
Setelah menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon dari Rian, ia menempelkan benda pipih itu pada telinga kirinya. Kemudian, kedua matanya kembali terpejam karena merasa masih ngantuk.
"Halo, Alea?" sapa Rian dari ujung telepon.
"Hem?" sahut Alea seadanya. Ia tengah mengantuk berat sekarang.
"Kamu baik-baik aja, kan? Udah makan belum?" tanya Rian penuh perhatian. Pertanyaan itu bukan hanya sekedar untuk berbasa-basi saja, melainkan tulus dari dalam hatinya bahwa ia ingin memastikan apakah Alea sudah makan atau belum.
"Aku? Hmm ... udah atau belum, ya?" sahut Alea dengan mencoba mengingat-ingat. Kedua matanya sudah terbuka sekarang.
Sementara itu, Rian baru saja selesai mandi. Ia mengenakan celana pendek dan kaos santai. "Udah atau belum, Alea? Jangan sampai telat makan, okey?"
"Gak tau deh, lupa. Lagian aku gak lapar juga kok." Wanita itu mengubah posisi menjadi miring ke kanan.
"Pasti belum, ya?" tanya Rian menerka-nerka. "Ya udah mau aku pesenin makan apa?"