Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 62


Setibanya di rumah, Raisa langsung membuka pintu yang tidak terkunci. Wanita itu membelalakkan mata saat melihat bayi Rara ada dalam pangkuan Rafi.


"Siapa yang kasih izin kamu gendong baby Rara?" tanya Raisa pada sang suami, yang lebih tepat disebut amarah, dengan wajah yang menyeramkan.


Rafi menelan salivanya beberapa kali, ia juga takut dengan sikap istrinya sendiri akhir-akhir ini. "M-maaf, Raisa. Tadi baby Rara menangis pas sama Bi Eni. Jadi aku coba tenangkan dia, dan sekarang udah diam." Rafi menjelaskan sesuai dengan realita.


"Saya gak kasih izin kamu pegang ataupun menyentuh anak saya," tegas Raisa. Ia langsung merebut bayi Rara dari pangkuan Rafi.


"Tapi, dia juga anak aku, Raisa. Aku juga mau merawat anak aku," ucap Rafi dengan nada memohon.


"Anak kamu ada di perut perempuan lain," ucap Raisa yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa kamu sama perempuan itu bisa tega banget sih sama aku dan Abang aku? Salah kami apa, sih?" Air mata wanita itu mulai bercucuran melintasi pipi.


Rafi lantas memeluk Raisa dari belakang sedapatnya. "Sayang, aku kan udah minta maaf waktu itu. Udah menyesali semua perbuatanku dulu, begitu pun dia. Dia juga pasti menyesal banget. Aku juga gak tau kalau ternyata sampai kebablasan seperti ini. Aku gak bisa ngontrol saat itu. Kamu juga kan udah memaafkan semuanya saat itu," ucap Rafi panjang lebar. Matanya mulai berkaca-kaca.


Hidung Raisa kembang kempis. Air matanya masih terus bercucuran tak terkendali. "Aku juga gak tau. Aku juga gak mau kaya gini. Tapi semua ini kan gara-gara kamu sama perempuan itu," teriak Raisa seraya melepas pelukan Rafi begitu saja.


"Sayang jangan marah-marah terus. Nanti energinya sampai ke baby Rara, gak bagus buat pertumbuhan dia, Sayang," ucap Rafi dengan nada yang begitu pelan.


 Ia akan mengalah pada sang istri. Semua akan dilakukan agar Raisa mau memaafkan dirinya.


Tidak lama kemudian, Bi Eni menghampiri Rafi yang tengah termenung di tempat semula. Wanita paruh baya itu lantas menanyakan apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini. Rafi menjawab semua realita yang ada.


Tidak ada yang ditutup-tutupi oleh pria itu kepada Bi Eni karena sang pembantu itu sudah lama ikut bekerja dengan Raisa. Bahkan sebelum Raisa menikah pun, Bi Eni sudah ikut dengan Raisa.


"Kemungkinan itu juga bagian dari pengaruh baby blues yang dialami Non Raisa, Den," ujar Bi Eni.


"Baby blues?" tanya Rafi seraya mengerutkan dahi.


"Iya, Aden cari tahu sendiri, ya. Bibi mau nyapu dulu. Lagipula gak enak kalau dilihat Non Raisa. Nanti dikiranya saya memihak Aden." Bi Eni pun lantas melanjutkan kegiatannya.


Sementara itu, di tempat lain, air mata Alea menitik sesaat setelah Raisa beranjak pergi. Alea lantas kembali mendekat pada sang suami.


"Ayang, aku harus gimana sih?" tanya Alea dengan nada kesal. Kalau boleh jujur, ia juga sangat menyesal atas segala perbuatan di masa kelam yang telah ia lakukan.


Andai wanita itu bisa memutar waktu, ia juga tidak akan mau melayani Rafi selayaknya pasangan suami istri. Dengan Raisa menyalahkan dan memojokkan Alea seperti ini, hanya membuat Alea semakin merasa pikirannya semakin berkecamuk.


"Sini duduk dulu," ucap Rian seraya menarik tangan Alea untuk duduk tepat di sebelahnya. "Pertama-tama, kamu tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan lewat mulut."