
" Ada apa, Raisa? Telpon pagi-pagi buta begini," tanya Rian dengan suara seraknya. Ia baru saja bangun dari mimpi indahnya.
Raisa nampak meremas jari-jemarinya. Wanita itu menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang. "Ini, Bang. Rafi dari tadi malam gak pulang," ungkapnya sedikit canggung dan ragu.
"Hah, apa?" pekik Rian seketika. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakukan Rafi dan Alea. Hatinya benar-benar sakit melihat adiknya dikhianati seperti ini. Apalagi ia tahu sendiri tentang semuanya.
Terlebih, ia sebenarnya menyukai Alea juga, bersamaan saat awal-awal Alea menyukai Rafi. Ia ingin mengungkapkan perasaannya yang paling dalam kepada Alea, tapi pria baik-baik itu tidak pernah menemukan waktu yang tepat.
Lagipula, untuk apa ia mengungkapkan perasaannya, jika hati Alea hanya untuk Rafi seorang?
Rian langsung mengusap wajahnya pelan. Ia benar-benar sakit mengetahui semua ini. Di satu sisi, ia sakit karena melihat sang adik dikhianati oleh sang suami. Di sisi lain, ia sangat sakit karena wanita yang ia puja bermesraan dengan pria lain yang dikenalnya.
"Kira-kira Abang tau gak, di mana dia sekarang?" tanya Raisa, ia benar-benar mencemaskan suaminya. Kini mulai ada pikiran-pikiran buruk tentang suaminya itu. Apa benar pria yang dilihatnya bersama wanita lain tadi sore di mall adalah suaminya?
Raisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menepis semua pikiran buruk tentang sang suami.
Rian berpikir sejenak. Ia harus memberikan alasan yang masuk akal agar sang adik tidak curiga. Cukup ia yang menanggung semua sakit ini, jangan sampai adiknya juga ikut merasakan sakit yang teramat sangat karena pengkhianatan.
"Mungkin kaya waktu itu, ketiduran di rumah temannya yang lain." Rian mengucapkan alasan itu dengan seidkit ragu. Tapi, ia sangat berharap Raisa bisa percaya pada ucapannya. "Wajarlah, Sa. Si Rafi masih pengin main, mungkin mikirnya kan mumpung dia belum jadi bapak, gitu," bubuh Rian seraya menahan dadanya yang begitu sesak.
Raisa sejenak menggumam. "Hmm..., gitu ya, Bang?" pasrahnya. Walau dalam hati, dirinya tidak lagi sepenuhnya percaya. Tapi, ia berusaha yakin bahwa suaminya tidak berbuat macam-macam.
"Iya, Sa. Pokoknya kalau kamu butuh ke mana gitu, kabari aku aja, oke?" Sebagai seorang kakak, Rian pun langsung menawarkan bantuan.
Ia paham betul sang adik sangat membutuhkan sosok suami. Tapi, dalam kondisi seperti ini, ia harus sendirian karena sang suami sibuk bermesraan dengan wanita lain. Bahkan melakukan hal-hal terlarang.
"Iya, Bang, pasti kok. Makasih, ya," ucap Raisa merasa sedikit tidak enak karena sekalipun ia sudah bersuami, ia masih saja merepotkan sang kakak.
"Sama-sama. Kamu tumben jam segini udah bangun?" tanya Rian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku belum tidur si, Bang," lirih Raisa. Ada kesedihan yang dapat terlihat dari suaranya.
"Kenapa? Kamu lagi ngidam, ya? Pengin apa?" Dengan sigap, Rian menanyakan apa-apa yang dirasakan sang adik.
"Eh, enggak, Abang. Aku cuma khawatir sama Rafi aja, kok." Raisa menundukkan pandangan. Ia menatap jari-jemarinya. Wanita itu meratapi nasibnya yang sering ditinggal suami.
Meskipun ia percaya dengan sang kakak, bahwa suaminya mungkin saja tengah bermain di rumah teman laki-lakinya hingga ketiduran, tapi pikiran buruk tentang perselingkuhan, tetap terbesit dalam lubuk hati Raisa.
"Ya udah, tidur gih. Hari masih gelap," saran Rian. Ia tidak mau adiknya itu sakit karena kurang tidur. Apalagi dalam dirinya, ada dua nyawa yang harus dijaga, yaitu nyawa dirinya dan janin dalam perutnya.
"Aku gak ngantuk, Abang," ucap Raisa. Memang benar, ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia sudah mencoba berkali-kali tadi, tapi tetap saja tidak berhasil. Lagi pula siapa yang bisa tidur dalam keadaan hati yang cemas?
"Pokoknya kamu jangan overthinking, ya. Rafi itu gak mungkin macem-macem. Gak mungkin aneh-aneh." Sekuat tenaga Rian meyakinkan adiknya itu.
"Abang yakin?" Raisa mulai curiga.
"Iya, percaya deh sama Abang!"
"Iya."
***
Di sebuah villa di daerah puncak, Alea nampak memandang ke luar jendela. Ia menghirup udara segar yang begitu nyaman. Ada tanaman dan bunga yang bermacam-macam, mengelilingi villa itu.
Alea memetik bunga mawar merah yang dapat diambilnya dari jendela. Mawar itu sudah tumbuh tinggi dan berbunga banyak. Wanita itu tersenyum melihat pemandangan yang indah ini. Dihirupnya mawar merah yang telah ia petik tadi.
"Mmm... Wanginya," ucapnya seraya menghirup mawar itu.
Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk dirinya dari belakang. "Kamu juga wangi," ucap seseorang itu dengan mata yang masih terpejam.
Seseorang itu adalah Rafi. Ia begitu bahagia menikmati waktu berdua dengan Alea. Apalagi, ia bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan dengan sepuasnya.
"Honey?" Alea melepas tangan Rafi, lalu membalikkan badan untuk memandang pria itu. "Love you," lirihnya dengan menatap mata Rafi.
"Love you too," balas Rafi seraya kembali melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Alea. "Kamu cantik banget."
Alea jadi salah tingkah dan mengukir senyuman.
"Oh iya, kapan kita pulang?" tanya Alea. Ia memang senang berada di sini dengan kekasih hati. Namun, di sisi lain, ia ingat dengan tanggung jawab pekerjaannya di kantor.
Rafi merapatkan tubuhnya pada Alea. Dagunya ia tempelkan pada pundak Alea. "Halah, gak usah terburu-buru. Aku masih ingin sama kamu kok," sahut Rafi santai.
Pria itu bahkan tidak mengingat sang istri sedikitpun.
Alea mengusap-usap punggunh Rafi. "Aku senang deh kamu begini. Jadi pengin dinikahin," goda Alea. Bagaimana pun juga, ia tetap ingin memiliki hati Rafi seutuhnya tanpa dibagi bersama Raisa.
"Gampang, Sayang. Yang penting kita bisa seperti ini terus," ucap Rafi seolah menyepelekan hal lain. "Mending kamu hubungi kantor kamu, minta cuti satu minggu. Aku juga sama, minta cuti satu minggu."
Pelukan itu terlepas. "Oh iya, aku juga harus menghubungi Raisa." Rafi lantas menuju meja tamu untuk mengambil ponsel. "Aku sampai lupa kalau udah punya Raisa." Pria itu terkekeh.
"Tapi, lebih sayang sama aku, kan? Makanya kamu sampai lupa dia," ucap Alea dengan penuh percaya diri. Pun memancing Rafi agar dapat memberinya kepastian.
"Iya, dong, Sayang," ucap Rafi seraya mendaratkan bibirnya pada bibir Alea.
Sesuai apa yang diperintahkan Rafi, Alea pun menghubungi pihak kantor tempat ia bekerja. Begitupun Rafi, menghubungi pihak kantornya, juga istrinya yang ditinggak seorang diri di rumah.
"Halo, Sayang?" sapa Rafi pada Raisa.
"Sayang, akhirnya kamu ada kabar. Kamu di mana sekarang ? Kapan pulang?" Raisa langsung menghujani sang suami dengan banyak pertanyaan.
"Maaf, Sayang. Aku tuh sibuk banget. Ini lagi ditugaskan kantor ke luar kota. Sinyalnya susah parah." Rafi cukup pandai dalam berbohong. Itu sama sekali tidak dicurigai oleh Raisa. Wanita itu justru bangga pada suaminya karena bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan calon bayi.