
"Makan dong, Sayang." Rian terus membujuk Alea agar mau untuk makan. "Dikit aja deh." Pria itu mencoba mengarahkan sesendok bubur ke arah mulut Alea.
"Aku gak mau, Rian." Alea yang kesal dibujuk oleh Rian untuk makan sedangkan dirinya tidak ingin, berniat menepis sendok berisi bubur itu, yang kemudian secara tidak sengaja menyenggol semangkok bubur yang dipegang Rian.
Lantas bubur itu pun menjadi tumpah hingga berserakan di lantai. Alea langsung tertegun menyaksikan semua itu.
"Maaf, Rian," ucapnya secara spontan. Wanita itu benar-benar tidak sengaja menumpahkan bubur itu.
Rian hanya bisa menghela napas tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Pira itu langsung membersihkan bubur yang tercecer. Untungnya, mangkok milik rumah sakit itu tidak pecah sama sekali.
Ia lantas menuju keluar ruangan untuk membuang semuanya ke tempat sampah.
"Sus, boleh minta semangkok bubur lagi gak ke kamar ini? Soalnya yang tadi gak sengaja tumpah," ujar Rian pada salah satu perawat yang tengah lewat.
Ia meminta satu mangkok bubur lagi untuk dimakan oleh Alea. Karena bagaimana pun juga, wanita itu harus mengisi perut terlebih dahulu sebelum meminum obat.
"Boleh, Pak. Mohon tunggu sebentat, ya. Nanti biar kami antar," sahut perawat perempuan itu dengan penuh santun.
"Iya, makasih, Sus." Rian kemudian kembali masuk ke dalam kamar inap Alea.
Saat masuk ke dalam kamar inap, Alea langsung mengarahkan matanya pada laki-laki itu. Ia masih merasa bersalah karena tidak sengaja menjatuhkan bubur dalam mangkok hingga tumpah ke lantai.
"Rian," panggil Alea dengan volume suara yang rendah. "Maaf, ya," lirihnya dengan nada penuh penyesalan.
"Iya. Tapi, nanti kamu harus makan, ya. Aku udah minta bubur lagi. Nanti diantar ke sini," ujar Rian seraya membelai punggung tangan Alea.
"Iya. Tapi, kalau aku gak habis, nanti kamu yang habiskan, ya. Aku lagi beneran gak pengin makan, Rian," ucap wanita yang terbaring lemas di depan Rian itu.
Rian mengulas senyum dengan perasaan getir. "Kamu masih sakit hati ya kalau lihat Raisa sama Rian?" tanya pria itu penasaran.
Alea nampak menunduk sejenak. "Aku juga gak tau, Rian. Aku gak bisa mengontrol perasaan ini. Rasanya hatiku masih saja terluka kalau lihat mereka," ujar Alea dengan sejujur-jujurnya.
Rian terus memandang kedua mata Alea. "Iya, gak apa-apa. Semua butuh proses kok. Tapi, perlu diingat. Kamu juga harus melawan perasaan kamu. Kalau belum bisa, setidaknya harus berusaha. Ya, Sayang?" pinta Rian. Pria itu begitu tulus merawat dan menemani Alea.
Tidak hanya itu, Rian juga selalu membimbing Alea agar menjadi lebih baik lagi. Tidak ada baiknya menjadi perebut lelaki orang. Sama sekali tidak ada sisi baiknya dari itu. Pun tidak ada masa depan yang jelas dari hubungan yang seperti itu.
Yang didapat hanyalah sakit hati karena harus melihat keromantisan sepasang suami istri, sedangkan dirinya tak lebih hanya sekedar benalu saja.
Alea mengangguk paham. "I am trying, Rian. Jangan tinggalkan aku, ya," pesan Alea yang sangat sering diucapkannya.
Ia memang begitu trauma ditinggalkan. Ia takut jika lagi-lagi harus ditinggalkan oleh Rian, laki-laki yang sangat mencintai dirinya dengan begitu tulus. Kini, wanita itu sudah menyadari semua perjuangan Rian. Dan hanya pria itulah yang setulus itu padanya.
"Kamu tenang saja, ya. Aku akan selalu di sini. Gak akan ke mana-mana, kok," sahut Rian membuat hati Alea jauh lebih lega.
"Sama-sama, Sayang." Rian mengukir senyum, kemudian mendaratkan bibirnya pada kening wanita itu.
***
Tidak terasa, sudah tiga hari Alea dirawat inap di rumah sakit. Setelah suhu badannya beberapa kali naik turun, pun berkali-kali merasakan meriang, lalu mendingan, lalu merianh lagi, akhirnya hari ini wanita itu bisa kembali pulang ke kosannya.
Dari awal hingga akhir, hanya Rian lah satu-satunya orang yang dengan tulus merawat wanita itu. Sementara beberapa teman kantornya hanya mengirim buah-buahan tanpa datang secara langsung.
Alea memang tidak begitu dekat dengan teman-teman di kantornya. Terlebih kebanyakan teman-teman di kantornya adalah laki-laki dan sudah memiliki istri.
Sempat ia akrab dengan salah satu teman laki-laki di kantornya, namun tidak bertahan lama karena sang istri dari temannya itu merasa cemburu.
Bagaimana tidak, wanita itu memiliki body goals yang tidak dimiliki olah istri dari teman-temannya. Sehingga istri mereka pun khawatir kalau suaminya terpincut dengan Alea. Padahal, wanita itu hanya ingin berteman biasa dengan teman laki-lakinya.
"Rian, makasih ya udah baik banget sama aku selama ini," ucap Alea seraya memegangi tangan Rian.
Sekarang mereka sudah tiba di kosan Alea, bersamaan dengan lenyapnya mentari pada hari ini.
"Iya, Sayang. Sama-sama. Tapi kayaknya besok pagi aku gak bisa temenin kamu karena harus kembali kerja," ujar Rian.
"Iya, gak apa-apa, Rian. Lagipula kamu kan udah tiga hari gak kerja demi aku. Semoga bos gak marah, ya." Alea juga khawatir dengan pekerjaan Rian karena sudah ditinggal tiga hari lamanya.
Sekarang Alea sudah merasa sangat disayangi oleh Rian karena perjuangan pria itu untuk dirinya memang tidak tanggung-tanggung. Apalagi saat itu, pada tengah malam ia menghubungi Rian untuk datang.
Dengan sigap, Rian langsung meluncur ke kosannya. Ia juga merawat Alea dengan setulus hati dan perasaan. Semua perlakuan Rian membuat hati Alea mulai luluh pada pria itu. Hanya saja, untuk menumbuhkan rasa pada Rian, Alea membutuhkan proses yang panjang.
"Gampang lah urusan sama bos, yang penting kamu sembuh. Jangan sakit-sakit lagi ya. Harus jaga kesehatan," pesan Rian seraya mengelus lembut kepala Alea.
Pria itu lalu membawa barang-barang dari rumah sakit ke dalam kamar Alea. Wanita itu mengekori Rian dari belakang. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah ditinggal selama tiga hari tiga malam.
Sementara itu, Rian lekas meraih sapu untuk membersihkan kamar Alea. Karena sudah ditinggal selama berhari-hari, maka membuat kamar itu pun menjadi berdebu. Beberapa barang juga dibiarkan Alea berserakan begitu saja karena keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk bersih-bersih saat itu.
"Udah, Rian. Gak usah nyapu, biar aku saja nanti yang nyapu. Kamu udah terlalu banyak bantu aku," ujar Alea. Lama-lama ia juga merasa tidak enak hati karena terlalu merepotkan Rian terus-menerus.
"Nyapu doang kan gak seberapa, Alea. Lagipula nanti aku harus pulang. Kamu gak apa-apa kan di kosan sendiri?" tanya Rian seraya masih terus menyapu lantai.
"Iya, gak apa-apa. Ini juga udah lebih dari cukup dibantu sama kamu." Alea masih merebahkan tubuhnya karena masih merasa sedikit lemas.
"Kamu jaga kesehatan, ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Kalau mau makan pesen lewat online aja, jangan beli langsung, okay?"
"Iya, Rian. Makasih, ya."