Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 21


Walaupun ada Rian di sana, Rafi sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting bagi Rafi kali ini, ia bisa bersama dengan Alea, minimal ada waktu kebersamaan di antara mereka.


‘Walaupun ada Rian gak apa-apa, lah. Aku bisa menjaga jarak sedikit dari Alea, agar tidak mengganggu ketenangan kita masing-masing,’ batin Rafi, yang sudah menyusun strategi sampai seperti ini.


“Baiklah, sekali lagi selamat untuk Rafi,” ujar atasannya, membuat Rafi semakin melebarkan senyumannya di hadapan atasannya.


“Baik, terima kasih Pak sekali lagi untuk hal yang tidak terduga ini, Pak. Jujur, saya merasa senang dengan hal ini. Saya berharap, dengan adanya pengangkatan seperti ini, saya bisa menjalankan amanat ini dengan sebaik mungkin. Saya janji, tidak akan mengecewakan kalian semua,” ujar Rafi, membuat mereka bertepuk tangan mendengar pidato singkat dari Rafi di hadapan mereka.


“Jangan lupa traktiran makan siang untuk hari ini,” celetuk seseorang di sana.


“Ya, jangan lupa! Anggap saja sebagai teraktiran perpisahan antara kita,” celetuk lainnya, membuat Rafi semakin malu mendengarnya.


“Ya, hari ini saya traktir makan pizza untuk merayakan pengangkatan saya. Saya harap, kalian bisa berpartisipasi sebelum jam pulang kantor nanti,” ujar Rafi, mereka pun bersorak girang mendengarnya.


“Yes, hari ini kita pesta. Jangan lupa minumannya juga sekalian Pak Rafi. Masa kita makan gak minum,” selorohnya, membuat Rafi tertawa mendengarnya.


“Ya pasti, dong. Tidak mungkin makan tanpa minum. Tenang saja, saya sudah atur,” ujar Rafi, membuat semua orang senang mendengarnya.


“Baiklah, kita sudahi dulu pertemuan kali ini. Selamat sekali lagi untuk Rafi, semoga sukses menyertai kita semua,” ujar atasan Rafi, mengakhiri pertemuan kali ini.


Atasan Rafi pergi dari ruangan pertemuan, diikuti oleh seluruh staff yang ada. Ia sengaja tidak keluar dari ruangan, dan malah memilih untuk menunggu di ruangan ini, sampai semua orang benar-benar mengosongkan ruangan ini.


Rafi berusaha tenang, karena ia ingin sekali memberitahukan hal bahagia ini kepada kekasihnya, Alea. Ia sudah tidak sabar, ingin menghubungi Alea untuk mengatakan hal ini padanya.


‘Tunggu yang lain keluar,’ batin Rafi, seraya tetap merapikan barang-barang di sekitar meja pertemuan, yang sebenarnya sudah rapi dan tidak perlu dirapikan lagi.


Beberapa waktu berselang, Rafi pun akhirnya menyendiri di ruangan itu. Ia akhirnya bisa menghubungi Alea, untuk mengatakan hal bagus ini padanya.


Rafi duduk pada kursinya, lalu mengeluarkan handphone-nya, dan segera menghubungi Alea. Bebarap saat menunggu, telepon pun tersambung.


“Halo, Honey,” sapa Rafi pada Alea.


“Halo Honey … kamu dari mana aja? Aku daritadi udah neleponin kamu dan gak nyambung,” ujar Alea, membuat Rafi tersenyum kecil mendengarnya.


“Maafin aku ya, Honey. Aku tadi lagi ada meeting penting banget, sampai gak bisa aktiv pegang handphone,” ujar Rafi, tetapi Alea merasa sedikit kesal mendengarnya.


“Memangnya sepenting apa sih meeting kali ini? Lebih penting meeting daripada aku?” tanya Alea, membuat Rafi tersenyum mendengarnya.


“I have something for you,” ujar Rafi, membuat Alea terdiam mendengarnya.


“Oh ya? What is that?” tanya Alea, penasaran mendengarnya.


“Let you guess,” ujar Rafi, yang meminta Alea untuk menebak apa yang menjadi sesuatu baginya.


Sejenak Alea berpikir, “Emm … apa? Kamu dapat cuti tambahan?” tebak Alea, membuat Rafi tertawa kecil mendengarnya.


“Lalu apa?” tanya Alea.


“Aku … naik pangkat jadi manajer di tempat kerja kamu!” ujar Rafi, sontak membuat Alea senang mendengarnya.


“Apa? Kamu serius, atau hanya bercanda?” tanya Alea, benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Rafi katakan.


“Aku serius, Honey. Mulai besok, aku bekerja di kantor kamu,” ujar Rafi membenarkan ucapannya itu.


Alea benar-benar sangat senang, saking senangnya ia pun berteriak sangat kencang, dan tidak memedulikan orang sekitar yang berada di kosannya.


“Yey!” teriak Alea, membuat Rafi tertawa kecil mendengarnya.


“Hey, jangan teriak-teriak, Honey. Nanti kalau orang lain dengar gimana?” tegur Rafi, membuat Alea menghentikan semua yang ia lakukan.


“Maafin aku, Honey. Saking senangnya aku sampai lupa dan malah teriak-teriak,” ujar Alea, membuat Rafi tertawa kecil mendengarnya.


“Kamu lucu, aku malah jadi mau ke sana,” ujar Rafi, membuat Alea semakin senang saja mendengarnya.


“Ayo, ke sini saja. Aku masih ada di kosan dan tidak kerja. Kakiku masih sakit, jadi tidak bisa masuk kerja dulu hari ini,” ujar Alea menjelaskan, membuat Rafi merasa tidak enak dengannya.


“Ya sudah, nanti aku kabari kalau benar jadi ke sana. Semua orang di sini minta traktir sebagai perpisahan. Aku tidak tahu kapan selesai acara sore ini,” ujar Rafi, membuat Alea merasa sedikit sendu mendengarnya.


“Jangan memberikan harapan palsu kalau begitu,” ketus Alea, semakin membuat Rafi menjadi gemas karenanya.


“Jangan bikin aku gemas, Honey. Aku tidak akan bisa tahan nantinya,” ujar Rafi, memberikan peringatan dengan nada yang sangat manis pada Alea.


Namun, memang dasarnya Alea saja yang juga menginginkannya, ia pun hanya bisa tertawa mendengar ancaman Rafi yang seperti itu.


“Aku tunggu,” ujar Alea, Rafi mengangguk kecil mendengarnya.


“Baiklah, sampai jumpa Honey,” pamit Rafi.


“Bye Honey.”


Telepon pun terputus. Rafi menghela napasnya panjang, karena sudah bisa memberitahu kepada Alea tentang masalah ini.


Namun, ia terhenti karena ternyata ada sebuah pesan masuk ke handphone-nya, yang ternyata adalah dari Raisa. Ia terdiam sejenak, dan menghela napasnya panjang untuk mempersiapkan dirinya.


“Aku menunggu makan malam di rumah.” Isi pesan dari Raisa, membuat Rafi merasa sangat bersalah pada Raisa.


Lagi-lagi Rafi merasakan perasaan dilema. Ia tidak bisa melakukan hal ini kepada Raisa, yang benar-benar mencintainya. Namun, untuk meninggalkan Alea, ia juga tidak bisa.