Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 43


Alea sudah tertidur pulas sedari tadi, sementara Rian terus menemani wanita itu tepat di sampingnya. Kedua tangan Alea dipegang oleh Rian sesekali untuk sekedar menguatkan wanita itu. 


"Cepat sembuh ya, Sayang," lirih Rian seraya terus memandangi wajah manis Alea. Setelah mengucapkan kalimat itu, Rian sontak langsung mendaratkan bibirnya pada kening halus Alea. 


Sesaat setelah itu, Alea mulai membuka mata. Tubuhnya terasa sudah lebih baik, hanya saja rasa lemas masih menjalar ke seluruh tubuhnya. Untuk sekedar bangun dari tidur saja rasanya berat sekali. 


"Rian," panggil Alea dengan volume suara yang begitu rendah. 


"Apa, Sayang?" Dengan sigap, Rian langsung menyahuti wanita pujaannya itu. 


"Aku mau pipis, tapi badanku lemas banget," keluh Alea. Ia jadi bingung sendiri karena untuk ke kamar mandi, ia harus berjalan beberapa langkah dari kasur pasien. 


"Ya udah aku bantu jalannya, ya," sahut Rian. Pria itu langsung bergegas membantu Alea untuk bangkit dari posisi terlentang. 


Rian menarik pelan tangan Alea seraya mendorong pelan punggung wanita itu. "Yuk bangun dulu." 


Alea hanya mengikuti apa yang diarahkan Rian. Pria itu kemudian memapah Alea hingga depan kamar mandi, tidak lupa membawa infus. 


"Rian, kamu tunggu di sana, ya. Jangan tinggalkan aku," pesan Alea dengan nada yang begitu lemah, tubuhnya sangat lesu saat ini. 


"Iya, Sayang. Aku di sini, gak akan ke mana-mana kok," ujar Rian sesaat sebelum Alea menutup pintu kamar mandi itu. 


Tidak lama kemudian, Alea keluar dari kamar mandi. Rian dengan sigap meraih kabel infus untuk dibawa kembali ke tempatnya. Tidak lupa, ia memegangi Alea agar tidak jatuh saat berjalan menuju tempat tidur. 


Setelah drama ke kamar mandi selesai, Alea pun kembali istirahat di tempat tidurnya. Rian melirik buah apel yang sudah tersedia di sana. 


"Kamu mau apel, Alea?" tawar Rian pada wanita yang terbaring lemah di depannya itu. 


Alea menganggukkan kepalanya. "Mau coba. Tapi nanti kalau gak habis, kamu yang habiskan ya, Rian," sahut wanita itu. 


Rian menganggukkan kepala seraya mengukir senyuman semanis mungkin. Kemudian, pria itu bergegas meraih satu buah apel untuk ia kupas dan potong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil. 


Saat Rian sedang sibuk mengupas apel, tiba-tiba datang dua orang yang terdengar sedang mengetuk pintu. Sontak membuat Rian seketika menengok ke arah sumber suara. 


Dua orang itu langsung masuk dengan membawa satu parsel buah-buahan. 


"Abang?" sapa salah satu orang itu, yang ternyata adalah Raisa. Sementara orang yang satunya lagi adalah Rafi. 


"Raisa? Aku kira kamu gak ke sini," ucap Rafi seraya menghentikan aktivitas mengupas apel. Sementara itu, Rafi hanya terdiam seraya memandangi wajah ayu Alea. 


"Iya, Abang. Aku ingin tahu kondisi Raisa," ujar Raisa yang mendekat pada Alea. Rafi hanya mengekori apa yang dilakukan Raisa. 


Sementara itu, Alea masih terkejut karena Rafi datang menjengul dirinya. Namun sayangnya, ia tidak sendiri melainkan bersama sang istri sahnya. Sebenarnya Alea cukup senang karena bisa kembali melihat wajah pria yang begitu ia sayangi setelah beberapa tidak bertemu dengannya. 


Hanya saja, ia bersama dengan Alea. Rasa senang itu hanya muncul selama sepersekian detik. Sementara sisanya, hanya rasa sakit yang begitu mendalam di dalam hati. Rasanya sangatlah pedih melihat laki-laki nomor satu di hatinya, datang dengan wanita lain. 


Sejenak Alea menyambut kedatangan Raisa yang mendekat pada dirinya. Alea mengukir senyum palsu. "Makasih ya, sudah datang," ucap wanita itu. 


Hanya saja, Raisa memang belum mengetahui bahwa Alea sedang mengandung anak dari Rafi. Rian belum siap untuk menceritakan semua itu kepada sang adik yang sedang bahagia bersama Rafi.


 Begitupun Rafi, belum berani mengatakan apa-apa kepada sang istri. Ia harus menunggu arahan dari Rian terlebih dahulu jika ingin mengatakan permasalahan berat seperti kepada Raisa. 


Sementara itu, di dalam batin Alea tak henti berpikir, kenapa mereka berdua bisa datang kemari? 


Memang, sesaat setelah Alea dirawat inap di rumah sakit, Rian langsung mengabarkan berita itu kepada Raisa. 


Rafi memilih duduk menjauh pada sofa yang ada di dekat tembok. Pria itu hanya bisa terdiam. Sebenarnya ia juga sangat khawatir dengan kondisi Alea, terlebih wanita itu sedang mengandung anaknya. Tapi, ia memilih memendam semuanya seorang diri. 


Rian menyuapi Alea dengan potongan apel. "Makan dulu, Alea. Katanya mau apel tadi, kan?"


Seketika nafsu makan Alea menurun drastis. Ia yang tadinya ingin mencoba memakan apel, sekarang keinginan itu seolah sirna seketika karena kehadiran Raisa dan Rafi yang menjenguknya. 


"Kamu aja yang makan, Rian. Aku udah gak pengin," tolak Alea. Wajah wanita itu memang masih nampak pucat karena sakit. 


Dengan lekas, Raisa langsung merebut potongan-potongan apel di atas piring kecil dari tangan Rian. "Kalau aku yang suapin, mau gak?" tawar Raisa dengan nada yang begitu ceria. 


Alea tersentak mendengarnya. Seketika ia merasa bahwa Raisa memang wanita yang baik. Pantas saja Rafi jatuh hati padanya. Ternyata, ia memang tidak salah pilih. 


Alea pun refleks menganggukkan kepala seraya mengulas senyum. Tiba-tiba ia merasa bersalah pada Raisa karena telah mengkhianati wanita sebaik itu. 


"Nah, gitu dong," ucap Raisa. Ia langsung menyuapkan sepotong apel ke dalam mulut Alea.


Alea mengedarkan pandangan, ia mencari-cari sosok bayi Rafi dan Raisa. "Anak kamu gak dibawa, Raisa?" tanya Alea secara spontan. 


"Iya. Dia di rumah, soalnya pasti rewel kalau dibawa ke tempat seperti ini," sahut Raisa seraya terus menyuapi Alea. 


Alea terus mengukir senyumnya, kali ini senyumnya nampak kosong. "Enak ya punya anak?"


Raisa terkekeh sejenak. "Ada suka ada dukanya juga. Tapi, banyak sukanya kok." Raisa menjawab pertanyaan Raisa dengan ramah dan senang hati. 


Sementara dalam hati Alea, rasanya getir dan teriris. Rian yang mendengar percakapan kedua wanita itu pun menelan salivanya. Ia paham dengan arah pikiran Alea. Meskipun usia kandungan Alea masih dua bulan, tapi pikiran wanita itu sudah jauh ke arah sana. 


"Sayang, kamu kok gak mendekat sama Alea sini." Raisa memanggil sang suami untuk mendekat pada Alea. 


Rafi yang sedari tadi hanya bermain ponsel pun menjadi canggung. "Mmm... Ini lagi ngurus kerjaan," kilahnya. Padahal pria itu hanya sedang berselancar di sosial media. 


"Oalah, ya sudah deh." Raisa pun percaya begitu saja dengan alasan Rafi. Wanita itu juga memaklumi. 


Sementara itu, Rian hanya mengawasi tingkah laku Rafi. "Syukur deh, dia sudah paham rupanya," ucap Rain dalam hati. 


Memang, tadi ia  juga memberikan kabar ini kepada Rafi, hanya saja pria itu mewanti-wanti pada sang sahabat agar tidak berbuat seenak jidat. Ia harus pandai menjaga perasaan Raisa di manapun ia berada.