Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 63


Alea mencoba menuruti perintah sang suami. "Huh, sama aja, Ayang. Bukan itu masalahnya."


"Masalahnya akan terselesaikan kalau kamu tenang, Sayang." Rian meletakkan kepala Alea pada pundaknya. "Aku tau cara membujuk Raisa. Yang penting kamu minta maaf pakai hati, nanti hati dia akan luluh sama kamu."


Rian nampak membisiki sang istri tepat pada telinganya. Alea membalas dengan mengukir senyuman.


Sementara itu, Raisa memilih menghentikan mobilnya di sebuah coffee shop. Wanita itu ingin menikmati me time selama beberapa saat.


"Mas," panggil Raisa pada pelayan di sana seraya melambaikan tangan. Pelayan pria itu langsung beranjak menghampiri Raisa.


 "Mau pesan coffee latte satu, sama stick kentang, terus sama waffle, ya," sebut Raisa memesan semua yang ia inginkan.


"Baik, Kak. Apa mau tambah lagi?" tanya pelayan itu untuk sekedar menawarkan.


"Enggak, itu aja," tolak Raisa, tidak lupa dengan melempar senyuman manis.


"Baik, Kak. Mohon ditunggu pesanannya, ya." Pelayan itu pun pergi.


Sembari menunggu semua pesanannya datang, Raisa membuka ponselnya. Dengan iseng, wanita itu membuka aplikasi berlogo burung.


Detik demi detik berlalu, ia terus berselancar di dunia maya. Hingga secara tak sengaja menemukan sebuah thread tentang baby blues.


Wanita itu membaca dan memahami semua isi thread tadi hingga akhir. Ciri-ciri yang disebut dalam thread itu, mirip dengan ciri-ciri yang dialami dirinya saat ini.


"Mudah tersinggung, mudah marah, mudah menangis, cemas, kewalahan, kelelahan," ucap Raisa menyebut semua ciri-ciri yang disebut dalam thread itu.


"Apa aku mengalami baby blues?" tanya Raisa pada dirinya sendiri. Wanita itu menyatukan kedua alis.


Setelahnya, ia langsung memakan stick kentang seraya terus mencari tahu informasi lebih dalam mengenai baby blues. Ia terus mencerna dan berpikir.


"Apa aku harus ke psikolog?" tanya Raisa pada diri sendiri, sebelum akhirnya ia memutuskan iya.


Ia pun langsung menghabiskan semua yang ia pesan. Setelahnya, wanita itu langsung menancap gas menuju rumah sakit.


Pada ruang yang melayani masalah psikologis, Raisa pun masuk. Ia disambut hangat oleh psikolog wanita yang berseragam putih di ruangan itu.


"Dengan siapa?" tanya psikolog itu dengan mengajak berjabat tangan, tidak lupa dengan penuh ramah tamah.


"Saya Raisa, Dok." Wanita itupun kemudian membalas jabatan tangan dari psikolog.


"Baik, Raisa. Kamu terlihat masih sangat muda. Jadi, apa keluhanmu, Raisa?" tanya psikolog itu seraya melakukan kontak mata dengan Raisa.


Raisa sedikit tidak nyaman dan gugup, meskipun ini bukan pertama kalinya wanita itu datang ke psikolog. "Sepertinya saya terkena baby blues, Dok. Saya sering merasa capek, mudah marah, mudah tersinggung. Padahal sebelum melahirkan, saya hampir tidak pernah seperti itu."


Raisa mengatakan yang sejujurnya, karena apa yang ia alami saat ini, jauh berbeda dari saat-saat sebelumnya.


"Ya, Baik. Raisa merasakan semua itu saat apa biasanya?"


"Semua berawal saat ...." Raisa memotong perkataannya sejenak, isi kepalanya tertuju pada saat ia pertama kali mengetahui bahwa Alea ternyata mengandung anak dari Rafi.


Wanita itu pun langsung memaparkan semua yang ada di dalam hati dan pikirannya. Tentang perselingkuhan Rafi dan Alea jauh sebelum Raisa melahirkan sang buah hati. Tentang ia yang sempat sudah memaafkan semua kesalahan Alea dan Rafi.


Tapi, kenapa, akhir-akhir ini, sejak mengetahui kabar kehamilan Alea, amarahnya seolah terus memuncak, suasana hatinya pun memburuk?