
Rian memakaikan cardigan rajut pada tubuh Alea untuk sekedar memberikan kehangatan. Tak hanya itu, ia juga memakaikan kaos kaki walaupun wanita itu menggunakan sandal.
Awalnya, Rian hanya memapah Alea saat hendak menuju mobil. Tapi, karena Alea nampak sangat lemah dan tak berdaya, pria itu pun akhirnya mengangkat tubuh Alea hingga ke dalam mobil.
"Kamu gak keberatan, Rian?" tanya Alea setelah Rian berhasil membawa tubuh Alea hingga mobil.
"Enggak berat, kok. Kamu jangan khawatir, ya. Kita ke rumah sakit sekarang," sahut Rian seraya mengenakan seat belt.
Alea hanya bisa membalas ucapan Rian dengan dua kali anggukan. Selama perjalanan, Alea sesekali memejamkan matanya seolah terasa begitu berat untuk sekedar membuka kedua mata.
Saat tiba di rumah sakit, pria itu kembali mengangkat tubuh Alea hingga menuju kasur pasien yang tersedia di bagian depan rumah sakit.
"Aduh, Rian, aku takut," keluh Alea saat satu perawat membawa dirinya ke dalam sebuah ruangan.
"Everything is gonna be okay, Sayang." Rian terus berusaha menenangkan Alea karena tidak akan terjadi apa-apa.
Ini hanyalah sakit biasa. Seharusnya Alea tidak perlu merasa secemas ini sekarang.
Rian dan Alea kemudian terpisah di daun pintu ruangan itu karena dokter melarang Rian untuk ikut masuk agar proses pemeriksaan berjalan sesuai prosedur.
Namun, setelah beberapa lama Alea diperiksa, tiba-tiba satu perawat datang menghampiri Rian untuk memberitahu bahwa Rian sudah diperbolehkan masuk sekarang.
"Jadi, bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Rian mencoba bersikap tenang agar Alea juga ikut tenang. Meskipun dalam hatinya, ia tetaplah khawatir kalau saja terjadi apa-apa pada wanita itu.
"Anda suaminya, bukan?" tanya dokter laki-laki yang usai memeriksa Alea.
Sejenak Rian menelan salivanya. "Ya, Dok. Benar. Saya suaminya." Meksipun apa yang dikatakan Rian adalah tidak benar, namun itu tetap Rian lakukan.
Pria itu harus mengatakan sebuah kebohongan karena demi bisa bertanggung jawab seutuhnya pada Alea.
Alea sontak membelalakkan mata mendengar Rian yang mengakui dirinya sebagai suami Alea. Tapi, wanita itu tidak berani berkata apa-apa.
"Selamat, Pak. Istri anda hamil. Baru berjalan dua minggu, jadi tolong dijaga kandungannya, ya." Dokter laki-laki itu menyampaikan kabar yang begitu mengejutkan bagi Rian maupun Alea sendiri.
Alea menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bagaimana ia bisa hamil? Ia langsung teringat saat masih bersama-sama dengan Rafi beberapa waktu lalu.
Ia dan Rafi memang sudah terlalu sering melakukan hubungan suami istri. Seketika ia menyalahkan diri sendiri karena terlalu b*d*h untuk percaya pada Rafi. Kalau sudah seperti ini, ia harus bagaimana?
Tanpa terasa, air mata Alea sudah menitik di ujung netranya. Ia masih tidak percaya karena tiba-tiba hamil. Apalagi tanpa memiliki suami. Bahkan laki-laki yang menghamili dirinya kini sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Sementara itu, Rian juga tak kalah terkejutnya dari Alea. Pria itu memang sudah tahu jika Rafi dan Alea sudah sering melakukan itu berdua.
"Baik, Pak. Terima kasih," balas Rian pada dokter itu. Dengan sekuat tenaga, ia berpura-pura bersikap tegar. Padahal di dalam batinnya, ia seolah merasa ingin memukul Rafi sekeras-kerasnya.
Setelah mengurus administrasi dan mengambil obat sesuai resep dokter, Rian dan Alea pun kembali ke kosan Alea.
Saat di dalam mobil, tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Rian dan Alea sama-sama membiarkan keheningan merajai suasana dalam mobil itu.
Rian masih berusaha untuk menerima ini semua. Ia juga akan bertanggung jawab tentunya. Hanya saja, ia masih tidak habis pikir. Rasanya benar-benar sakit melihat wanita yang teramat ia sayangi, dihamili oleh adik iparnya sendiri.
Sementara itu, Alea tak henti memukul kepalanya sendiri. Ia merutuki dirinya sendiri dengan berbagai kata-kata umpatan di dalam hatinya.
Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Wanita itu benar-benar kebingungan. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menggugurkan kandungan itu. Tapi, bagaimana mungkin itu dilakukan?
Untuk menggugurkan sebuah kandungan, tentu saja dibutuhkan keberanian yang begitu besar. Dan yang menjadi taruhannya adalah nyawa. Sementara Alea adalah tipe orang yang penakut. Tentu saja ia takut untuk melakukan hal seberani itu.
Namun, di sisi lain, ia juga bingung dengan janin dalam kandungannya. Ia tidak yakin akan ada orang yang mau menerima dirinya yang sudah mengandung seperti ini. Ia juga bukan tipe wanita mandiri yang bisa mengurus dan membiayai sang buah hati nantinya.
"Rian, aku ini b*d*h banget, ya," umpat Alea pada dirinya sendiri, diriingi dengan tetes-tetes air mata yang mulai bercucuran.
Pria itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia kemudian melipirkan mobilnya di bibir jalan untuk berbicara dari hati ke hati pada Alea.
"Tenang dulu, Sayang. Kamu gak boleh stress," ucap Rian seraya membelai tangan kanan Alea. Ia nampak sedang berbicara dengan isi kepalanya sendiri.
"Bisa-bisanya aku percaya sama semua ucapan Rafi saat itu. Kamu tolong kasih tahu kabar ini pada Rafi ya, Rian. Aku mau dia tanggung jawab." Alea terus merengek-rengek. Ia dilema dan bingung. Pikirannya seolah buntu sekarang.
"Aku yang akan tanggung jawab, Sayang," lirih Rian. Meski dengan berat hati, Rian akan tetap menerima Alea apa adanya.
Ia tetap sama tulusnya mencintai Alea seperti sebelumnya. Hanya saja, pria itu merasa sangat kecewa sekarang. Rasanya begitu sakit, seperti tengah melihat wanita pujaanya dinikmati oleh pria lain, yang bahkan dirinya sendiri saja selama ini tidak berani menyentuh Alea.
Mendengar keputusan Rian itu membuat Alea menghentikan tangisannya karena terlalu terkejut. "Jangan, Rian. Aku gak pantas buat kamu. Kamu terlalu baik buat aku. Kamu pantas mendapatkan perempuan yang lebih layak." Alea seolah terus menyadarkan Rian.
Wanita itu takut jika Rian mengucapkan perkataan itu hanya karena kasian pada dirinya. Terlebih, ia juga takut jika nantinya sudah berharap pada Rian, tapi laki-laki itu justru pergi seperti yang dilakukan Rafi pada saat itu. Alea seolah trauma dengan laki-laki.
"Kamu sudah yang paling layak," ucap Rian dengan penuh penekanan seolah terus-menerus meyakinkan Alea bahwa dirinya akan bertanggung jawab.
"Aku akan tetap memberi tahu Rafi, tapi tidak untuk meminta dia bertanggung jawab. Dia sendiri udah punya anak dan istri, aku gak mau rumah tangga mereka jadi bermasalah lagi." Dengan mengucap seperti itu, Rian berharap penuh agar dapat mengerti dengan apa yang ia maksud.
Alea harus sadar bahwa mengharapkan tanggung jawab Rafi adalah hal yang sia-sia. "Kita menikah, ya. Kamu mau kan?" Wajah Rian mengarah tepat kepada dua mata Alea.
Alea hanya menunduk. Tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya, ia tidak bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya. Tapi di sisi lain, ia juga membutuhkan sosok suami sekaligus ayah untuk sang buah hati nantinya.