Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 39


Selama menonton film, Rian tak jarang melirik wanita yang teramat ia sayang itu. Suatu kebahagiaan bagi pria itu karena bisa menonton fil bergenre romance bersama Alea. Tentu saja hatinya begitu berbunga-bunga. 


Rasa syukur tidak berhenti ia ucapkan di dalam hatinya. Momen malam bersama Alea ini, tak akan bisa lepas dari ingatannya. 


Satu setengah jam berlalu, akhirnya film itu selesai dengan happy ending. Sontak Rian pun memeluk erat tubuh Alea karena terlalu bahagia. 


"Alea, thanks ya. Udah mau temenin aku nonton film," ucap Rian yang masih memeluk wanita berbadan dua itu. 


Sementara itu, Alea mematung selama beberapa saat karena terkejut. Kemudian, ia membalas pelukan dari Rian. "Sama-sama," sahut wanita itu seadanya. Ia menunggu hingga Rian melepas pelukan itu. 


Kemudian, mereka pun keluar dari dalam bioskop. Rian dan Alea berjalan tanpa tujuan. Hanya saja, kedua mata Alea sedari tadi tak henti mengarah pada toko pakaian yang ada di dalam mall. 


Hal itu membuat Rian peka untuk segera mengajak wanita pujaannya langsung ke sana. "Mau beli pakaian, ayok," ajak Rian seraya menggandeng tangan wanita itu. 


Sekarang, Rian memang sudah tidak lagi segan untuk melakukan physical touch pada Alea. Terlebih, jika tidak salah, informasi dari Rian adalah Alea memiliki love language physical touch. 


Barangkali dengan sering melakukan physical touch, Alea bisa dengan mudah luluh padanya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang mana Rian cenderung malu-malu dan merasa tidak enak jika harus menyentuh wanita itu. 


"Kita lihat-lihat dulu aja deh." Alea pun mengiyakan ajak Rian. Hanya saja, wanita itu tidak bilang jika dirinya ingin dibelikan pakaian oleh Rian. 


Terlebih, wanita itu juga memiliki tabungan sendiri. Ia mampu membeli sendiri kalau hanya satu atau dua pasang baju. 


"Pilih aja, kamu suka yang mana nanti biar aku yang bayar." Rian dengan senang hati bersedia membelikan Alea barang apa saja, asal wanita itu bisa bahagia bersama dirinya. 


"Lihat-lihat dulu aja, Rian. Aku juga punya uang sendiri kok. Uangku cukup kalau hanya buat beli baju," ucap Alea seraya terus berjalan dan melihat-lihat banyak pakaian di sekitarnya. 


"Iya. Aku tahu. Tapi, aku pengin belikan kamu baju." Rian terus mengeyel ingin membelikan baju untuk Alea. 


Kini, Alea nampak sedang mengambil blouse warna pink, ia tempelkan pada tubuhnya untuk meyakinkan apakah blouse itu cocok atau tidak jika dipakai oleh dirinya. 


"Cocok gak ya?" tanya Alea pada Rian untuk sekedar memastikan. 


"Cocok, Sayang. Kamu mau pakai apa aja juga cocok." Rian berusaha meyakinkan Alea bahwa wanita itu serba pantas mengenakan model baju apa saja, pun warna apa saja. 


Hanya saja, Alea seolah tidak percaya. Ia justru mengembalikan blouse warna pink itu. Kemudian, ia kembali melihat-lihat baju lain. 


"Kenapa dibalikin? Kan aku bilang cocok," tanya Rian penuh keheranan. Untuk apa Alea meminta pendapat pada Rian, jika akhirnya pendapat itu tidak digunakan? 


"Kayak aneh di badan aku. Keliatan gendut banget tau gak," sahut Alea dengan enteng. Ia masih terus mencari dan mencari. 


Saat tengah sibuk melihat-lihat dan mencari-cari, pandangan Alea tiba-tiba tertuju pada seorang sosok laki-laki. Ia seolah mengenali perawakan dan penampilan laki-laki itu. Langkahnya pun terhenti. 


"Rafi?" lirihnya dengan volume suara yang hampir tak terdengar. 


"Kenapa?" Rian pun bertanya karena melihat wajah dan gestur Alea yang tak berkutik sedikitpun. 


"Eh, gak apa-apa. Kita ke sana aja yuk." Alea melangkahkan kakinya menuju tempat yang lebih dekat pada sosok laki-laki yang ia yakini itu adalah Rafi. 


Hingga saat sosok laki-laki yang diyakini Rafi itu nampak begitu romantis memilihkan baju untuk wanita di sebelahnya, Alea dapat melihat jelas bahwa sosok itu benar-benar Rafi. Dan sosok perempuan di sebelah Rafi tak lain dan tak bukan memang lah Raisa. 


Langkah Alea terhenti, ia kembali mematung selama beberapa saat hingga membuat Rian akhirnya menyadarinya. 


"Ada apa, Alea?" tanya Rian yang belum melihat ada Rafi dan Raisa di sana. 


"Sayang?" panggil Rian pada Alea satu kali lagi. 


"Itu Rafi, ya?" Alea akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Rian. Ia ingin benar-benar memastikan bahwa itu sungguhan Rafi dan Raisa atau bukan. 


"Hah, mana?" tanya Rian dengan terkejut, kemudian pandangannya ia edarkan.


Hingga akhirnya, ia juga menemukan sosok Rafi dan Raisa yang tengah memilih-milih baju. Jarak mereka tidak terlalu jauh dari tempat Rian dan Alea berdiri saat ini. 


Rian dan Alea sama-sama menatap pemandangan di depannya cukup lama. Di sana, Rafi nampak begitu romantis dengan Raisa. Sesekali pria itu mencubit gemas dan mendekap Raisa seraya bersendau gurau. 


Lantas pemandangan itu membuat hati Alea teriris menjadi berkeping-keping. 


"Iya, itu Rafi dan Raisa." Dengan sedikit tidak enak hati, Rian mengatakan yang sebenarnya. Meskipun ia tahu bahwa Alea sakit hati jika mengetahui hal itu. 


"Mau coba menghampiri mereka gak?" tanya Rian memastikan. Karena kalau boleh jujur, ia ingin sekali menghampiri sang adik itu. Terlebih ada bayi Rara yang ikut di sana. 


"Itu bayi yang didorong itu anak mereka, ya?" tanya Alea dengan suara yang nyaris tak terdengar. Matanya tak henti tertuju pada Raisa, Rafi, dan bayi Rara. 


"Iya, itu anaknya. Namanya Rara. Imut banget tau. Kamu mau lihat?" Rian tidak tahan lagi ingin mencubit dan mencium bayi Rara. 


"Ke sana, yuk." Tanpa menunggu jawaban dari Alea, Rian langsung menarik tangan Alea kemudian mendekat pada Rafi dan Raisa. 


"Hei?" sapa Rian pada Raisa saat ia sudah ada tepat di sebelah sang adik itu. 


"Abang?" sahut Raisa dengan antusias karena bertemu sang kakak secara tiba-tiba. "Abang kok di sini, sama siapa?" tanya wanita itu yang belum melihat Alea. Pandangannya sedari tadi hanya tertuju pada sang kakak saja. 


"Ini," jawab Rian menunjuk pada Alea. Sementara itu, Alea hanya bisa diam dan canggung di sana. Begitu pun Rafi, canggung dan kaku juga. 


"Alea?" sapa Raisa dengan wajah yang berusaha ramah meskipun dalam hatinya muncul beribu-ribu pertanyaan. Ia mengajak Alea untuk berjabat tangan. 


"Iya, Raisa," balas Alea sewajarnya. Ia tidak tahan lagi ingin pergi dari sana. Terlebih, saat melihat bayi Rara sejenak. Wajahnya mirip sekali dengan Rafi dan Raisa. Sungguh, membuat hatinya teriris kesakitan. 


"Rian, pulang yuk. Perut aku sakit, nih," rengek Alea tiba-tiba seraya memegangi perutnya. Rian yang panik pun lantas mengaminkan permintaan Alea. 


Namun, saat mereka sudah masuk ke dalam mobil, Alea baru mengatakan yang sesungguhnya. "Rian, sorry. Aku belum sanggup lihat Rafi dan Raisa bersama."


"It's okay. Maaf juga, ya jadi terkesan memaksa kamu tadi."


"I am okay, kok. Hanya butuh pembiasan saja mungkin."