
Tidak lama kemudian, Rian datang menghampiri Alea dengan membawa dua cup es krim. Setelah mengantre cukup lama, akhirnya ia sudah bisa mendapatkan es krim yang diminta Alea.
"Maaf ya, kamu nunggu lama banget, ya?" tanya Rian seraya mengulurkan satu cup es krim untuk Alea. Ia merasa bersalah pada Alea karena harus menunggu lama.
"Gak apa-apa, Kok. Tadi ada orang di sini, dia ngajak aku ngobrol jadi gak bosan," tutur Alea dengan jujur. Ia mulai mengarahkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya.
"Oh iya? Dia cowok?" tanya Rian penuh penasaran. Karena kalau memang yang mengajak obrol Alea sedari tadi adalah laki-laki, sudah pasti pria itu akan cemburu buta.
"Cewek, kok. Dia punya cerita kayak kita," lirih Alea. Sejenak, ia mengarahkan pandangannya menuju hamparan laut yang luas.
Rian bernapas lega karena ternyata orang yang dimaksud Alea adalah sesama perempuan. "Maksudnya? Cerita apa?" tanya Rian penasaran.
"Gak deh, gak jadi, gak apa-apa." Alea kembali memasukkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya.
"Apa sih? Ada cerita apa emangnya?" Rian terus menghujani Alea dengan pertanyaan itu karena memang terlampau penasaran.
"Enggak, gak apa-apa. Gak jadi," ucap Alea enteng. Ia begitu menikmati es krim rasa stroberi itu. Sementara Rian memilih es krim dengan varian rasa cokelat.
"Cerita apa coba? Jangan bikin aku jadi penasaran dong," bujuk Rian terus-terusan karena ia sangat ingin mengetahui apa yang diobrolkan Alea dan perempuan tadi.
"Enggak. Udah lupakan aja," jawab Alea enteng seraya terus memakan es krimnya.
Rian menghela napas panjang, akhirnya ia pun mengalah seperti biasa. "Ya udah deh, habiskan es krimnya," balas Rian seadanya.
Selama di pantai, Rian dan Alea menghabiskan waktu mereka dengan duduk-duduk di bibir pantai. Alea hanya ingin menikmati suara deburan ombak yang begitu menenangkan hati dan pikirannya.
Sesekali mereka berjalan menyusuri bibir pantai. Tidak lupa, Rian juga memotret diri Alea. Namun, saat berjalan ke arah belakang karena sembari memotret Alea, tiba-tiba kaki Rian terperosok ke dalam lubang pasir. Lubang itu kemungkinan dibuat oleh anak-anak yang tadinya bermain pasir di sana.
"Aduh," pekik Rian saat kakinya terasa sakit.
"Rian? Are you okay?" tanya Alea dengan nada cemas. Ia langsung menarik tangan Rian agar pria itu tidak semakin terjatuh.
"I am okay, tapi kakiku kayak keseleo, sakit banget," jawab Rian sesuai apa yang dirasakan.
"Ayo duduk ke situ dulu," ajak Alea seraya memapah Rian ke tempat duduk yang ada di sana.
"Aduh, padahal jatuh gitu doang. Tapi kenapa sakit banget, ya," keluh pria itu seraya mendesis kesakitan.
"Yah, terus gimana dong, Rian? Aku coba tanya orang dulu ya, tempat pijit di mana, biar nanti kamu bisa langsung dipijit." Alea berdiri hendak pergi bertanya mengenai letak tukang pijit.
Wanita itu tidak bisa menyetir mobil, bagaimana jika nanti Rian tidak bisa mengendarai mobil, lalu bagaimana cara mereka pulang?
Tangan Alea ditarik oleh Rian. "Aduh, sakit banget." Wajah Rian memang nampak begitu kesakitan.
"Aduh, gimana dong Rian, aku bingung banget." Alea menunjukkan wajah yang begitu khawatir dan cemas.
"Coba kamu cium pipiku, nanti pasti langsung sembuh, hehe," bisik Rian tepat pada telinga Alea. Membuat Alea mengerucutkan bibir.
"Ish, Rian. Kamu pura-pura sakit, ya?" tanya Alea dengan nada kesal. Wanita itu pun menepuk tangan Rian karena kesal. "Ish, nyebelin banget."
Saat Alea nampak begitu kesal, Rian langsung mendaratkan bibirnya pada pipi ranum Alea. Membuat wanita itu menjadi tersenyum malu dan salah tingkah.
Ia terus berlari, sedangkan Alea terus berusaha mengejar pria itu. "Rian payah, Rian payah," cibirnya seperti anak kecil.
"Ehh, udah udah stop." Rian akhirnya berhenti. "Jangan lari-larian, nanti kandungan kamu kenapa-kenapa."
"Kamu nyebelin banget." Alea terus menggerutu.
"Iya-iya, maaf," ucap Rian. Ia lalu mengajak Alea untuk sarapan sekaligus makan siang, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mereka pun makan di sebuah warung kecil.
Mereka di pantai hingga siang. Saat di mobil, Rian tiba-tiba ditelepon oleh sang adik, Raisa.
"Halo, Sa? Ada apa?" tanya Rian seraya menyetir mobil. Alea yang ada di sampingnya, sesekali melirik pada laki-laki itu.
"Abang, aku mau minta tolong boleh, gak?" tanya Raisa dari ujung telepon.
"Tentu saja boleh dong, kamu ini kayak sama siapa aja," ucap Rian memberi tahu agar sang adik tidak sungkan untuk meminta tolong padanya.
"Mau gak, jaga Rara di rumah? Aku lagi repot masak buat arisan, Rafi juga gak ada di rumah. Lagi ngurus kerjaan katanya," ujar Raisa dengan nada yang melas. Ia sangat butuh bantuan dari kakak satu-satunya itu.
"Sekarang?" tanya Rian yang masih dalam perjalanan itu.
"Iya, sekarang, Bang. Aku lagi repot masak ini." Raisa terdengar sangat riweh dengan kegiatan memasaknya.
"Oke deh, aku ke sana sekarang." Rian mengaminkan permintaan sang adik, tanpa memberi tahu Alea terlebih dahulu.
Setelah menutup sambungan telepon itu, Alea baru bertanya mengenai apa yang tengah diobrolkan antara Rian dan Raisa.
"Raisa kenapa?" tanya Alea seraya mengarahkan pandangannya pada wajah Rian.
"Dia minta tolong aku buat jagain Rara, anaknya dia," jawab Rian. "Kamu mau ikut gak? Ikut ajak yuk, sekalian kamu bisa belajar momong anak, kan?" tanya Rian pada Alea yang sebenarnya lebih cenderung memaksa.
"Iyain aja deh," sahut Alea. Ia hanya menurut pada laki-laki di sebelahnya itu.
Rian yang masih menyetir, lekas menjalankan mobilnya menuju rumah Raisa. Kebetulan jarak dari tempat Rian menelepon Raisa, tidak jauh dari rumah wanita itu.
Setelah kurang lebih menempuh tiga puluh menit perjalanan, Rian dan Alea akhirnya tiba di rumah Raisa.
Tok-tok-tok.
Rian mengetuk pintu rumah sang adik. Sementara Alea, kakinya berada satu langkah di belakang Rian. Wanita itu sebenarnya sedikit deg-degan jika lagi-lagi harus bertemu Raisa.
Ia takut jika nanti tidak sanggup menahan rasa cemburunya pada Raisa, wanita yang saat ini begitu dicintai oleh Rafi. Tapi, tidak ada salahnya mencoba. Semoga saja dirinya tidak lagi cemburu saat melihat Raisa. Meskipun katanya, tidak ada Rafi di sana.
Tidak lama kemudian, ada pembantu Raisa yang datang untuk membukakan pintu pada mereka.
"Abang?" sambut Raisa pada sang kakak, yang kemudian menoleh pada Alea. "Wah, ada Alea juga." Sontak Raisa memeluk Alea, sementara Alea hanya bisa mematunh menyaksikan semua ini. Setelahnya, Alea dan Rian dipersilakan masuk ke dalam rumahnya.
"Aduh, maaf ya berantakan," ucap Raisa saat melihat suasana rumahnya yang berantakan. Padahal sebenarnya biasa saja.