
"Ah, enggak. Ini rapi kok," celetuk Alea yang memang menilai bahwa rumah Raisa nampak bersih dan rapi.
Alea terus mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah Alea yang nampak begitu bersih dan terawat.
"Bentar, aku bawa Rara ke sini aja, ya," ucap Raisa. Tanpa mendapatkan jawaban dari Rafi dan Alea, ia lekas mengarahkan langkah kakinya ke dalam kamar di mana bayi Rara berada.
Tidak lama kemudian, Raisa sudah kembali dengan menggendong bayi Rara. "Ini, Abang. Bisa gendong kan?" tanya Raisa pada Rian.
"Bisa dong." Lantas Rian pun merebut bayi Rara dari gendongan Raisa. "Waduu, cantik banget ponakan aku. Imut banget," ujar Rian seraya memainkan pipi chubby bayi Rara.
"Iya ya, imut banget hehe," sahut Alea dengan nada dan sikap yang masih begitu canggung.
"Aku tinggal masak dulu, ya," ujar Raisa. Setelah diiyakan oleh Rian dan Alea, wanita itu pun segera melangkahkan kaki menuju dapur.
Rian menggendong bayi Rara di pangkuannya. Ia duduk di ruang tamu, sementara Alea hanya ikut-ikutan duduk di sebelah Rian.
"Cantik banget, ya," puji Alea pada bayi Rara yang memang nampak begitu cantik dan menggemaskan.
"Iya, apalagi anak kamu nanti, cantik banget pasti kaya kamu hehe," goda Rian pada wanita yang ada di sebelahnya itu.
"Heleh," ucap Alea. Ia jadi kembali sadar bahwa dirinya tengah mengandung. Pikirannya kembali tertuju pada nasib dirinya dan sang buah hati nanti.
Sepanjang Alea dan Rian mengemong bayi Rara, bayi kecil itu tidur pulas. Hanya sesekali menangis, lalu saat Rian memberinya air susu ibu dalam botol, bayi itu langsung kembali tidur.
"Kamu mau coba gendong baby Rara, gak?" Rian memberikan penawaran pada Alea yang sebentar lagi juga menjadi seorang ibu.
"Takut," keluh Alea seraya memonyongkan bibir, sementara di sisi lain wanita itu seperti ingin sekali mencoba menggendong bayi karena sepanjang umurnya hingga saat ini, ia belum pernah menggendong bayi.
"Coba aja dulu," ucap Rian seraya menyerahkan bayi Rara pada dekapan Alea.
Dengan sangat hati-hati, Alea pun menerima bayi itu dalam dekapannya.
"Ihh, lucu banget ya," ucap Alea seraya tak henti mencium pipi chubby baby Rara.
"Iya, emang lucu banget," timpal Rian yang kini mulai meraih biskuit dalam toples yang sudah disediakan di atas meja. "Kamu haus gak? Mau minum?" tawar Rian seraya mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Nanti aja deh, masih mau gendong baby Rara," ucap Alea seraya terus mengarahkan pandangannya pada bayi menggemaskan itu.
"Ya udah deh," timpal Rian.
Namun, tidak berselang lama kemudian, Raisa datang dengan membawa satu nampan berisi jus stroberi dan beberapa camilan buatannya.
"Ini, silakan diminum dulu, Abang, Alea," ucapnya seraya meletakkan masing-masing gelas tepat di depan Rian dan Alea.
"Aku bisa buat sendiri padahal. Kamu kan lagi repot, Sa," tutur kakak Raisa itu. Bukankah sang adik mengatakan bahwa dirinya sangat sibuk memasak? Hingga Rian dan Alea datan untuk membantu meringankan tugasnya.
"Tapi kan bagaimana pun juga kalian adalah tamu. Tamu ya harus dijamu." Sejenak Raisa duduk bergabung dengan Rian dan Alea. Namun, hanya sebentar karena ia lagi-lagi harus menyelesaikan banyak makanan hari ini.
Sebenarnya sudah cukup lama wanita itu ingin sekali belajar memasak. Hanya saja, ia tidak punya teman yang bisa mengajarinya, pun tidak ada waktu yang lebih untuk sekedar belajar memasak karena harus bekerja.
Berbeda dengan Raisa yang memang waktunya dua puluh empat jam penuh ada di rumah. Bisa dengan leluasa membuat masakan apa saja.
"Aku tadi buat lontong, terus sate padang, ada sop juga. Kalau untuk camilannya ada lumpia, dadar gulung, kerupuk, bakwan, gitu gitu lah pokoknya, Alea." Sepanjang Alea dan Raisa berkomunikasi, keempat mata mereka saling memandang.
Itu membuat Rian bernapas lega karena lambat laun sepertinya Alea sudah mau menerima keberadaan Raisa sebagai adik Rian. Terlepas dari adanya permasalahan antara Rafi, Raisa, dan Alea yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya.
"Eh, aku boleh ikut bantu, gak? Sekarang lagi buat apa?" tanya Alea penasaran. Sejenak ia membiarkan gemasnya bayi Rara yang ada di pangkuannya.
"Boleh dong, Alea. Ini sih lagi ngukus bolu pisang. Habis ini mau buat sarang semut," ujar Raisa menjelaskan. Wanita itu nampak memperhatikan sang buah hati yang tengah tertidur pulas.
"Baby Rara nyaman banget tuh ada di dekapan kamu hehe," ucap Raisa dengan nada penuh canda.
"Hehe iya." Alea hanya menimpali seadanya.
"Ya udah sana masak-masakan. Biar aku sendiri yang jaga baby Rara," ujar Rian seraya merebut bayi Rara dari dekapan Alea.
"Kamu bisa gak?" goda Alea pada Rian. Jelas-jelas dibanding dirinya, Rian tidak secanggung Alea saat menggendong bayi Rara.
"Yeh, kita mah udah pro," sahut Rian dengan menunjukkan betapa luwes tangannya dalam mengendong bayi Rara.
"Ya deh percaya." Alea terkekeh kemudian mengalah.
"Ya udah yuk ke dapur," ajak Raisa yang sudha mulai berdiri hendak menuju dapur.
Alea pun mengekori wanita itu menuju dapurnya. Di dapur, sudah ada satu pembantu yang sedang sibuk menggunakan alat mixer. Wanita paruh baya itu mencampur telur dan gula untuk bahan membuat sarang semut nantinya.
"Udah, Bi. Udah bagus ini," ucap Raisa memberikan arahan pada sang pembantu.
Sang pembantu memang bisa memasak, hanya saja untuk urusan baking, wanita paruh baya itu seolah tidak begitu handal karena belum begitu berpengalaman.
Berbeda dengan Raisa yang memang sudah mencoba memasak banyak sekali jenis kue. Saat masih berstatus sebagai anak gadis, wanita itu sering menjelajah resep. Ia sudah seperti ikut master chef kala itu, hanya saja tidak ada jurinya.
"Bibi langsung bersih-bersih rumah aja. Biar saya yang melanjutkan masak ini," imbuh Raisa kembali memberikan arahan.
Pembantu bernama Bi Eni itu pun mengikuti arahan dari sang majikan. Ia langsung menghentikan mesin mixer. Kemudian sudah siap bertempur untuk membersihkan rumah. Tidak lupa, ia membawa sehelai kain lap yang diletakkan di atas pundaknya.
"Kalau gitu saya bersih-bersih dulu ya, Non," pamit wanita paruh baya itu. Sementara itu, sedari tadi Alea hanya menyimak percakapan antara Bi Eni dan Raisa. Ia tidak berani memotong percakapan mereka.
"Iya, Bi." Raisa mulai meraih adonan yang telah dicampir menggunakan mesin mixer. Lalu Ia memindahkan adonan itu ke dalam mangkok berukuran cukup besar.
"Setelah ini apa, Raisa?" tanya Alea penasaran.
"Setelah ini kita larutkan gula dengan air, Alea," ujar Raisa memberi penjelasan sembari ia menyiapkan bahan-bahan. Sementara itu, Alea hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.