
"Eh, gak gitu maksudnya, Rian." Wanita itu masih terus menatap wajah Rian. "Tapi, emangnya kamu beneran suka sama aku, ya?" tanya Alea seraya mengerutkan dahi.
Rian membuang napas berat, pria itu kemudian duduk di atas sofa yang ada di kamar kosan Alea. "Ya kamu kira apa, Alea? Selama ini aku perhatian sama kamu, bahkan tadi jam 1 tengah malam kamu sakit aku langsung meluncur ke sini. Kamu kira apa kalau semua itu aku lakukan karena aku sayang sama kamu," papar Rian panjang lebar seraya tersenyum kecut.
Bisa-bisanya Alea masih menanyakan rasa sayang Rian pada wanita itu. Padahal jika dipikir-pikir, Rian sampai jungkir balik berjuang sekuat tenaga demi bisa mendapatkan cinta Alea. Tapi ternyata, selama ini Alea justru tidak merasakan cinta yang diberi oleh Rian. Alea masih saja meragukan semua perhatian yang ditunjukkan Rian untuknya.
Pikiran Rian seketika berkecamuk. Suasana hatinya sudah memburuk padahal masih sepagi ini. Hanya karena pertanyaan polos Alea, Rian menjadi ingin uring-uringan sekarang.
"Aku ...." Alea memotong perkataannya seraya menunduk. "Aku sebenarnya tahu, Rian. Cuma sebagai cewek, aku gak mau kegeeran aja," kilah Alea.
"Ya udahlah, bahas ini gak akan ada ujungnya selagi hati kamu masih buat laki-laki lain." Rian berdiri seolah hendak bergegas pergi.
"Aku pulang dulu ya, nanti juga harus kerja. Kamu udah sehat kan? Istirahat dulu aja gak apa-apa. Jangan lupa makan, ya," imbuh Rian. Meskipyn dalam hatinya merasa kesal karena kata-kata yang keluar dari bibir Alea tadi, tapi tetap saja ia masih perhatian pada wanita itu.
Sudah jelas itu menunjukkan bahwa cinta Rian untuk Alea benar-benar sudah mendalam. Bahkan dalam keadaan kesal pada wanita itu pun, Rian masih saja peduli dan memberikan perhatian.
"Eh, tunggu, Rian!" Sontak Alea meraih tangan Rian saat pria itu hendak melangkah pergi dari kosan itu. "Aku mau ikut kerja. Kan aku tadi udah bilang kaya gitu. Kenapa malah mau ditinggal?" Kini giliran Alea yang kesal. Wanita itu mengerucutkan bibir.
"Kamu harus istirahat dong, Alea. Nanti biar aku yang ngomong deh sama bos," ucap Rian yang masih mengkhawatirkan kondisi Alea.
"Rian, aku mau ikut kerja," rengek Alea tanpa henti.
Setelah cukup lama Alea membujuk rayu Rian agar diizinkan untuk ikut berangkat bekerja, akhirnya Alea pun siap-siap. Rian terlebih dahulu menyiapkan air hangat untuk keperluan Alea mandi.
"Ya udah, kamu mandi dulu sana. Udah aku siapkan semua," ucap Rian setelah keluar dari kamar mandi dan kembali mendekat pada Alea.
"Oh ya, kamu kan mandinya lama nih. Jadi biar aku mandi di rumahku aja, ya. Sekalian ganti baju. Kan aku gak ada baju di sini," imbuh Rian dengan nada yang bijak dan dewasa seperti biasanya.
Lagi-lagi Alea kembali mengerucutkan bibir. Ia merasa kesepian jika harus berada di kosan sendirian. "Tapi aku jangan ditinggal, ya, Rian," pesan Alea. Selalu seperti itu.
Ia memang sangat takut jika lagi-lagi harus ditinggalkan. Meksipun saat ini Rian tidak ada di dalam hati Alea, akan tetapi tetap saja Alea akan merasa sangat kesepian jika ditinggalkan oleh pria yang sudah menjadi temannya sejak beberapa tahun yang lalu.
"Enggak. Aku mandi paling lima menit, abis itu langsung ke sini lagi. Nanti aku beli makan sekalian buat kita sarapan."
Alea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Wanita itu terlihat sangat imut dan cantik saat seperti itu. Membuat Rian menjadi gemas melihatnya.
Rian pun menyubit pelan pipi Alea, kemudian mendaratkan bibirnya pada kening wanita itu. "I love you," bisiknya dengan volume suara yang hampir tak bisa didengar.
***
Sore harinya, saat Alea hendak pulang dari bekerja, tiba-tiba badannya kembali menggigil kedinginan. Rian dengan sigap memapah wanita itu hingga ke dalam mobil.
Memang, Alea sebenarnya sudah merasa pusing sejak makan siang bersama Rian. Hanya saja, wanita itu tidak berkata apa-apa pada Rian. Ia pikir, hanya pusing biasa. Nanti akan hilang dengan sendirinya. Tapi, ternyata tidak sesuai dengan perkiraannya.
"Rian, kenapa aku begini terus, ya? Padahal tadi pagi benar-benar sudah sembuh," keluh Alea saat sudah berada di dalam mobil Rian.
Sementara itu, wajah Rian nampak sangat panik melihat Alea kembali sakit. Ia seolah tidak tega melihat wanita pujaannya kembali merasakan sakit. Andai rasa sakit itu bisa dipindah ke tubuhnya, sudah pasti akan ia lakukan.
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Biar nanti dicek sama dokter. Biar kita tahu diagnosanya." Rian pun mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat ia bekerja.
Alea tak menjawab apa-apa. Wanita itu hanya meringkuk karena merasakan dingin yang menjalar hingga menusuk tulang. Tak lama setelahnya, saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, Alea menjadi demam kembali.
"Aduh, Rian. Aku gak tahan," racau Alea dengan kedua mata yang terpejam. Saat berada di situasi seperti ini, Rian pusing dan bingung bukan kepalang.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai, kok," ucap Rian. Sesekali menggenggam tangan Alea agar mendapatkan kehangatan dari tangan Rian. Pun sesekali pria itu membelai puncak kepala Alea untuk sekedar membuat Alea sedikit lebih nyaman.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit perjalanan, akhirnya Alea dan Rian pun tiba di rumah sakit yang tak jauh dari tempat mereka bekerja.
Alea langsung mendapatkan penanganan dan ditempatkan di kamar inap. Dengan tidak sabar, Rian pun langsung menanyakan kondisi Alea pada dokter yang telah memeriksa wanita itu.
"Pasien menderita Tifus, Pak. Jadi, harus dirawat inap agar mendapatkan perawatan intensif. Pasien juga butuh cairan infus," jelas dokter laki-laki itu, membuat Rian sedikit bernapas lega.
Setidaknya bayi dalam kandungan Alea masih baik-baik saja. Pria itu tadinya khawatir jika rada sakit Alea kali ini ada kaitannya dengan janin dalam perutnya. Tapi, ternyata tidak. Rian tak berhenti mengucap syukur meskipun sekarang Alea juga masih terbaring lemas.
"Baik, Dok. Terima kasih," balas Rian seadanya. Dokter itu pun kemudian bergegas pergi dari ruang inap itu.
"Kamu tifus, Sayang. Pasti kecapekan, ya. Nanti setelah dapat infus pasti langsung sembuh, kok," ucap Rian menenangkan hati Alea. Lagipula, dalam pikiran Rian, penyakit tifus bukanlah penyakit yang begitu berbahaya.
"Aku gak suka di sini, Rian. Bau obat, tadi juga disuntik sakit banget," tutur Alea. Memang, saat disuntik tadi, Alea tak bisa menahan rasa takutnya hingga menjerit-jerit. Sakitnya memang tidak seberapa, hanya saja, entah kenapa ia sangat takit dengan benda runcing itu.
"Sabar. Kan ada aku. Pasti gak lama di sini kok. Mungkin besok bisa pulang." Seperti biasa, Rian selalu mencoba menenangkan hati wanita itu.
Ia juga menyuapi Alea dengan makanan yang sudah disediakan dari rumah sakit. Meskipun nafsu makan Alea seolah hilang, tapi ia masih bisa menelan beberapa kali suapan. Setelah itu, ia lantas meminum obat setelah berhasil dibujuk rayu oleh Rian.