Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 55


"Iya, Raisa. Makasih ya," ucap Alea seraya melewati Rafi yang masih mematung di depan pintu. 


"Silakan duduk, Alea." Raisa yang masih menggendong bayi Rara itu mempersilahkan Alea untuk duduk di ruang tamu. Ada beberapa camilan di atas meja tamu itu, namun belum ada minuman yang disuguhkan untuk Alea. 


"Iya, Sa. Mau gendong baby Rara dong," ucap Alea seraya mengarahkan kedua matanya pada sosok bayi Rara. Betapa menggemaskannya bayi itu. 


Alea jadi kepikiran nanti wajah sang anak lebih mirip siapa, apakah lebih mirip dirinya atau justru mirip Rafi. Apapun itu, yang jelas ia sangat berharap wajahnya mirip dirinya saja. Karena tidak ada gunanya mirip sang ayah yang sudah tidak bersama Alea lagi. 


"Boleh," ucap Raisa dengan nada yang antusias. Entah kenapa ibu beranak satu itu begitu bahagia jika ada orang yang gemas dan suka dengan sang anak. 


Tidak seperti ibu-ibu kebanyakan, yang justru terlalu khawatir jika anak mereka disentuh oleh orang lain, sekalipun orang itu adalah orang terdekatnya sendiri. 


"Tapi, tetap hati-hati ya, Alea. Jangan panik, okay," pesan Raisa pada Alea yang masih kaku membawa bayi.


Meskipun usia Alea dua tahun lebih tua dari Raisa, namun hampir dalam semua hal, Raisa lah yang jadi juara. Sementara Alea belum bisa apa-apa. 


"Sayang?" panggil Rafi pada Raisa. Wanita itu langsung menoleh ke arah sang suami lalu mendekat pada pria yang masih berdiri di depan pintu itu. 


"Iya, Sayang?" sahut Raisa seraya terus mendekat pada pria itu. Sementara itu, Alea sibuk dengan bayi Rara. Ia tidak menggubris sama sekali percakapan antara Raisa dan Rafi. 


"Minta tolong ambilkan tas kerja aku," perintah Rafi yang kemudian langsung diaminkan oleh Raisa. 


Wanita itu langsung mengambil tas kerja Rafi yang berisi barang-barang berkaitan dengan pekerjaannya. Kemudian, ia kembali pada Rafi setelah itu. 


Saat Raisa kembali ke ruang tamu, Alea masih sibuk mengurus bayi Rara. Sementara Rafi, nampak sudah ada di luar rumah. Raisa bernapas lega karena itu artinya, kedua orang yang pernah berselingkuh itu kini sudah tidak memiliki niat untuk mengulangi kesalahan yang sama. 


Setelah itu, Rafi langsung bergegas pergi menuju kantor yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Berbeda dengan Rian yang jarak kantornya lebih dekat, sehingga meskipun macet, pria itu sudha sampai kantot tepat waktu. 


Sekarang sudah tepat pukul 08.00, tapi Rafi baru berangkat ke kantor. Itu bisa ia lakukan seenak jidat karena pria itu sudah menduduki jabatan yang cukup tinggi di kantornya. Tidak seperti Rain yang masih berstatus sebagai karyawan biasa. 


"Mwah mwah mwah." Sedari tadi, Alea mengajak ngobrol bayi Rara dan terus menciumi bayi kecil itu. "Duh, anak kamu menggemaskan banget, Sa," ucap Alea yang gemas dengan tingkah bayi yang kini ada dalam pangkuannya. 


Raisa terkekeh sejenak. "Makanya kamu segera nikah sama Bang Rian, Lea. Biar punya anak gemoy kayak anak aku juga."


Mendengar penuturan Raisa, membuat Alea menelan ludah. Ia baru ingat jika Raisa belum mengetahui kabar kehamilan Alea. Hanya Rafi dan Rian saja yang tahu akan hal ini. 


Karena itu, Alea jadi sangat ingin cepat-cepat menikah dengan Rian agar Raisa tidak curiga bahwa Alea sudah lebih dulu hamil anak dari Rafi. Alea benar-benar tidak mau Raisa mengetahui semua itu. 


Hubungan antara dirinya dengan Raisa kini sudah sangat baik. Meskipun Alea pernah melakukan kesalahan yang sebesar itu, namun Raisa tetap menerima Alea dengan sebegitu baiknya. Terlebih kakak dari Raisa, super baik pada Alea. 


"Kenapa diam, Alea?" tanya Raisa yang menyesal telah berkata demikian. "Maaf ya, kalau aku salah bicara," imbuhnya dengan merasa bersalah. 


Ia khawatir jika Alea tersinggung dengan ucapannya. Ia takut Alea menjadi tidak nyaman karena ia terlalu memaksa wanita itu untuk segera menikahi sang kakak. 


Alea menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak. Gak apa-apa kok, Sa. Santai aja. Doakan aja yang terbaik buat aku dan Abangmu, ya," ucap Alea. Hanya kata-kata itu yang kini bisa ia katakan. 


"Oh ya, aku mau belajar masak," ujar Alea. Bukan hanya untuk mengalihkan topik pembicaraan agar Raisa tidak curiga. Tapi, ia juga memang ingin belajar memasak. Sebenarnya, tujuan wanita itu ke rumah Raisa adalah untuk belajar tentang banyak hal. 


"Boleh, sana sama Bi Eni aja, ya. Aku lagi repot mengurus baby Rara soalnya," ucap Raisa seraya mengambil bayi Rara dari pangkuan Alea karena Alea tadi mengulurkan bayi Rara pada Raisa terlebih dahulu. 


"Okei, makasih, ya," ucap Alea seraya langsung bergegas pergi menuju dapur rumah Raisa. 


"Sama-sama" ucap Raisa. 


Selama ini, wanita itu tidak pernah curiga pada Alea jika Alea tengah hamil. Itu karena Alea selalu mengenakan baju yang longgar saat main ke rumah Raisa. 


Sementara itu, tubuh Alea memang sedari dahulu seperti itu. Besar pada bagian-bagian tertentu. Jika memakai pakaian ketat, akan menampakkan lekuk tubuhnya yang indah. Namun, jika memakai pakaian longgar, ia akan terlihat seperti sekarang. 


Alea mulai belajar masak pada Bi Eni yang ada di dapur. Pagi ini, Bi Eni akan membuat bakwan. Sekarang, wanita paruh baya itu tengah mengiris sayuran untuk keperluan membuat bakwan. 


"Bi, aku mau bantu masak, dong. Aku pengin belajar, Bi," ujar Alea saat baru tiba di dapur itu. 


"Boleh, Non. Ini saya mau buat bakwan. Non mau coba mengiris sayur kol ini?" tawar Bi Eni. Wanita itu sangat keibuan sekali, sehingga saat ada Alea di sana, ia menyambutnya dengan begitu ramah karena menganggap Alea seperti anak sendiri. 


Alea mengangguk. "Okay, Bi. Ngirisnya kayak pas ngiris sawi kemarin, kan?" tanya Alea. Beberapa hari lalu, ia juga sudah belajar masak dengan Bi Eni. Namun, waktu itu ia mendapat tugas untuk mengiris sayur sawi. 


"Iya, tapi beda, Non. Kalau sawi kan besar-besar ngirisnya. Nah kalau kol ini tipis-tipis aja karena kan mau dibuat bakwan." Bi Eni dengan telaten dan sabar mengarahkan Alea. 


Alea mengikuti arahan dengan sangat baik dan hati-hati. Sembari menunggu Alea menguris sayur kol, Bi Eni membuat bumbu untuk bakwan. 


"Itu apa aja bumbu-bumbunya, Bi?" tanya Alea seraya sesekali memperhatikan gerak-gerik Bi Eni. Ia penasaran dengan bumbu-bumbu untuk membuat bakwan. 


"Ini namanya merica, yang ini garam, pasti tau kan?" Bi Eni menunjukkan masing-masing bumbu hingga lengkap. 


"Yang ini sama garam kok mirip, Bi?" tanya Alea yang masih sedikit kesulitan untuk membedakan antara garam dengan penyedap rasa. 


"Coba Non perhatikan baik-baik. Ini aslinya beda sekali. Teksturnya juga beda." Dengan sangat hati-hati dan pelan, Bi Eni terus memberi tahu Alea.