
"Mau nongkrong aja, udah lama kan aku sama Rafi gak nongkrong," ucap Rian pada Raisa agar sang adik itu khawatir dan curiga.
"Oke deh, aku ambil dompet dulu," ujar Rafi seraha berdiri menuju kamarnya untuk mengambil dompet. Ia bahkan tidak membawa ponsel saat bepergian sekarang.
Apalagi ia hanya pergi dengan Rian. Raisa bisa menghubungi dirinya melalui Rian kalau memang ada hal-hal yang mendesak.
"Ya udah deh, hati-hati, ya. Jangan jauh-jauh udah malam ini," pesan Raisa. Wanita itu menggandeng bayi Rara untuk mengantar Rafi dan Rian hingga teras rumah.
"Kamu juga hati-hati, jangan lupa kunci pintu," pesan Rian dengan begitu perhatian.
Jika dibandingkan dengan beberapa waktu lalu, sikap Rafi pada Raisa kini sudah berbanding terbalik.
"Iya, Sayang."
Rian dan Rafi menuju sebuah coffee shop menggunakan mobil. Coffee shop itu adalah tempat biasa mereka nongkrong sejak bertahun-tahun yang lalu.
Selama perjalanan, Rafi tak henti bertanya ada apa kepada Rian karena tak seperti biasanya sang sahabat itu mengajak dirinya untuk pergi berdua.
"Ada apa sih, Bro sebenarnya?" tanya Rafi lagi-lagi penasaran. Pandangannya terus mengarah pada sang sahabat itu. Ia mencoba menelaah mimik wajah Rian beserta isi kepala pria itu.
"Mau cerita-cerita aja. Udah lama kita gak cerita-cerita, kan?" sahut Rian seadanya. Ia akan menceritakan semuanya di tempat yang telah ia tentukan sebelumnya, yaitu di sebuah coffee shop.
Jika ia mengatakan semuanya di dalam mobil, khawatir itu akan terjadi apa-apa karena posisinya ia sedang mengendarai mobil. Ia harus fokus pada jalan dan tujuan.
"Kan bisa di rumah, Bro. Tapi, kenapa kita harus sampai ke kafe? Ada apa sih, Bro?" Pria itu terus bertanya-tanya, membuat Rian jadi menyusun kata-kata untuk menjawabnya.
"Pokoknya ini berkaitan sama kamu. Penting banget." Rian mencoba memaparkan inti dari ajakannya pada Rafi.
Sontak Rafi pun terdiam. Ia mencoba menerka-nerka apa yang dimaksud sang sahabat. Ini penting ? Apakah ada yang lebih penting dari Raisa?
Sepertinya tidak. Sedangkan Raisa sekarang sedang baik-baik saja. Apa yang lebih penting dari istrinya itu? Apa yang dimaksud penting oleh Rian?
Pria itu jadi membuat rentetan pertanyaan di dalam kepalanya. Tidak lama kemudian, Rafi dan Rian tiba di sebuah coffee shop yang tak jauh dari rumah Rafi dan Raisa.
Mereka memesan dua buah minuman terlebih dahulu sebelum memulai topik pembicaraan mereka.
"Jadi, ada apa Bro?" tanya Rafi sekali lagi. Rasa penasarannya benar-benar sudah memuncak. Pandangan pria itu terus tertuju pada wajah Rian seolah benar-benar sedang menantikan sebuah jawaban.
"Jadi, gini, Bro." Rian meremas jari-jemarinya. Ia cukup khawatir jika kabar ini akan menganggu pikiran Rafi.
Ia juga khawatir jika nanti sang adik yang lagi-lagi terkena dampaknya. Sekarang, Rian benar-benar harus menyusun kata-kata yang tepat. Jangan sampai Raisa tahu, dan jangan sampai Raisa terkena dampak dari semua ini.
Rafi terus menunggu. Ia memperhatikan betul bibir Rian, tidak sabar menunggu berita yang dimaksud Rian.
"Jadi, gini Bro." Rian memotong ucapannya, membuat Rafi semakin dirundung rasa penasaran. "Alea hamil," ungkap Rian dengan berat hati.
Pandangan pria itu terus menunduk, masih dengan meremas jari-jemarinya.
Sementara itu, bibir Rafi membulat karena tak percaya. Pria itu sudah menduga bahwa jika Alea hamil, itu sudah pasti karena ulahnya. Pun sudah pasti bapak dari anak dalam kandungan Alea itu tak lain dan tak bukan adalah dirinya.
"Ha-hamil?" Rafi masih membelalakkan mata. Ia menjadi bingung seketika. Pria itu benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Saat ini, ia sudah sangat cukup bahagia dengan Raisa dan sang buah hati. Tapi, kenapa justru ia kembali diberi masalah seberat ini?
Rafi kemudian membasuh mukanya dengan kasar. "Berapa bulan, Bro?" tanya Rafi lagi. Bagaimana pun juga, ia adalah dalang dari semua ini.
Ia juga merasa kasihan dengan Alea. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak tahu harus bagaimana karena sama-sama sudah memiliki istri dan anak.
Seketika ia merasa menyesal sekali. Penyesalannya kembali muncul saat ini. Andai saja saat itu ia tidak berbuat nekat dengan Alea, pasti semua ini tidak akan terjadi.
"Baru dua bulan," lirih Rian. "Kamu tenang aja. Aku yang akan tanggung jawab. Masalahnya adalah ..." Dengan sengaja, Rian memotong ucapannya karena merasa sedih jika mengingat hal itu.
"Masalahnya apa, Rian? Apa?" Rafi yang masih terkejut dengan semua ini pun terus-menerus menghujani Rian dengan beragam pertanyaan.
"Masalahnya Alea belum mau menerima aku, Fi. Sedih banget rasanya. Aku gak tau harus bagaimana lagi biar Alea menerima aku. Setidaknya menerima aku dulu, kan? Cinta bisa tumbuh karena terbiasa, kan?"
Rafi memaparkan dengan panjang lebar. Ia juga mencurahkan semua isi hatinya pada sang sahabat itu. Berharap sahabatnya itu bisa memberi solusi dari semua masalah ini. Atau paling tidak, setidaknya Rafi bisa menenangkan Rian.
"Tadinya aku mau langsung ngajak dia nikah. Maksudnya ya aku emang mau memanfaatkan kesempatan ini sih. Tapi ternyata, tetap saja Alea masih sama. Dia masih sayang kamu, dan masih belum bisa menerika keberadaanku."
Rafi yang mendengar semua itu masih tidak habis pikir. Ternyata Alea benar-benar maish mencintai dirinya. Ia jadi kasihan dengan Alea maupun Rian karena keadaan ini.
"Jadi aku harus gimana, Bro? Aku juga pengin jagain Alea setiap waktu, sama kaya kamu bisa jagain Raisa setiap waktu." Rian yang selama ini bersikap lebih dewasa dari Rafi, akhirnya meminta saran dan solusi pada sang sahabat itu.
"Kasih perhatian terus, meskipun dia menolak. Jangan pernah menyerah ya, Rian. Kamu harus jagain Alea. Aku udah jagain Raisa. Giliran kamu yang jagain Alea."
Sesuai kesepakatan beberapa waktu lalu. Dua laki-laki itu memang sudah memutuskan untuk berjanji saling menjaga Alea dan Raisa. Jika awalnya Rian yang menjaga Raisa, kini Raisa sudah dijaga penuh oleh Rafi bahkan dengan setulus hati.
Nantinya, mereka juga berharap Rian bisa menjaga Alea sepenuhnya. Rian juga sangat berharap bahwa suatu saat Alea bisa menerima hatinya yang begitu tulus dan besar pada wanita itu.
"Aku sebenarnya gak yakin suatu saat Alea bisa buka hati buat aku atau enggak. Tapi, akan kupastikan aku gak berhenti peduli dan kasih perhatian sama dia. Hanya saja, kadang dia yang tertutup dan seolah-olah menolak bantuanku."
Rian terus mencurahkan isi hati dan pikirannya. Semua itu yang membuat kepalanya pusing akhir-akhir ini. Ia juga tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi jika bukan pada Rafi, sahabat sekaligus adik iparnya.
"Dia suka dimanja, Rian. Coba aja tunjukkan rasa sayangmu dengan penuh manja. Semoga itu bisa buat dia luluh."