
"Oh, iya. Tapi jarang banget, Dok," jawab Alea. Ia bahkan baru menyadari kalau perutnya memang sudah ada yang gerak gerak, hanya saja masih jarang sekali.
"Bayinya mulai diajak bicara, ya. Meski masih ada di dalam perut, tapi tetap harus sering-sering diajak ngobrol." Dokter perempuan itu memberikan pemahaman pada Alea.
Wanita itu memang sebenarnya belum siap untuk hamil dan menikah. Ia belum memiliki pengetahuan dan pemahaman seputar dunia kehamilan, anak, dan pernikahan.
Namun, karena semuanya sudah terlanjur seperti ini, ia harus menyiapkan semuanya mulai dari sekarang. Mungkin, nanti ia akan belajar semua itu dari Raisa.
"Sekarang usia kandungannya sudah hampir enam bulan, jadi semuanya harus dijaga dengan baik, ya." Dokter perempuan itu mengarahkan. Sementara Alea dan Rian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah diperiksa selama beberapa menit, Alea pun keluar dari ruangan itu.
"Huh, akhirnya." Alea menghela napas panjang setelah berhasil keluar dari ruangan itu dan hasil pemeriksaan pada kandungannya baik-baik saja.
"Akhirnya apa?" tanya Rian penasaran. Mereka sedang melewati koridor rumah sakit untuk menuju tempat parkir mobil.
"Akhirnya keluar dari ruangan itu. Serem banget tau. Aku tiap mau periksa tuh deg degan. Takutnya ada yang gak beres gitu loh, Rian."
"Rian terkekeh sejenak. " Oh, gitu." Ia baru ingat jika perempuan di sebelahnya itu sangat takut dengan rumah sakit.
"Harusnya bilang dari tadi, biar aku bisa nenangin kamu," ucap Rian sedikit menyesal karena baru tahu jika sedari tadi Alea cemas dan tidak tenang.
"Sini mana tangannya, biar aku pegang." Rian lantas memegang tangan Alea seraya terus berjalan ke arah parkiran.
"Kenapa gak dari tadi kaya gini?" tanya Alea kesal karena Rian terlambat menenangkan kecemasan wanita itu.
"Ya kan kamu gak bilang, Sayang." Rian menuturkan yang sejujurnya. Itu bukan berarti ia tidak peduli dengan Alea, hanya saja karena pikirannya sedang tertuju pada pekerjaannya.
"Emang harus bilang? Harusnya kamu ngerti sendiri dong," rengek Alea dengan begitu manjanya. Kini ia sudah mulai posesif pada pria itu. Pertanda bahwa Alea sudah benar-benar bisa mencintai Rian seutuhnya.
Rian mengajak Alea duduk sejenak. "Ututut, Maaf ya, Sayang. Janji gak akan aku ulangi lagi. Lain kali aku bakal lebih peka," ucapnya seraya menyenderkan kepala Alea di pundaknya.
Hanya dengan diperlakukan seperti itu, Alea sudah langsung luluh. "Iya deh iya." Ia merasa nyaman sekali menyandarkan kepalanya pada pundak Rian.
"Cari makan yuk, aku lapar," ajak Alea. Perutnya memang sudah keroncongan sedari tadi. Apalagi setelah merasa cemas berlebih sejak sebelum masuk ruangan hingga keluar dari ruangan dokter.
"Ayok." Rian pun mengabulkan ajakan Alea. Mereka masuk ke dalam mobil untuk mencari makanan sesuai dengan apa yang diinginkan Alea.
***
Hari ini Rian akan mengantarkan Alea untuk berkunjung ke rumah Raisa, tentunya pada saat Rafi tidak ada di rumah. Karena bagaimana pun juga, Rian dan Raisa merasa khawatir jika perasaan Rafi dan Alea kembali tumbuh kalau mereka berdua diberi kesempatan untuk bertemu.
"Ayang, kamu udah sampai mana?" tanya Alea pada Rian meelalui sambungan telepon. Kini, ia sudah memiliki nama panggilan yang tepat untuk Rian, yaitu Ayang.
"Masih terjebak macet ini, Sayang. Tapi, udah dekat dari kosan kamu," tutur Rian. Padahal, nantinya ia juga harus bekerja.
Ia rela terlambat bekerja hanya untuk mengantat Alea ke rumah Raisa. Selain untuk belajar mengenai hal-hal baru pada Raisa, Alea juga butuh sosok teman seperti Raisa. Ia butuh tempat untuk bertukar pikiran dan membagi cerita sebagai sesama wanita.
"Enggak kok, gak panjang. Sabar ya, Sayang. Aku pasti datang. Kamu siap-siap dulu aja, okay?" ucap Rian seraya terus menenangkan Alea.
Sebagai seorang wanita, sudah pasti wanita itu mudah bingung dan panik. Saat itulah, tugas Rian untuk menenangkan wanita itu.
"Ya udah. Take care, ya. Aku udah siap-siap ini," timpal Alea yang duduk di depan meja rias.
"Iya, Sayang," sahut Rian seraya memegangi setir mobil.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Rian pun datang untuk menjemput Alea. Pukul delapan kurang seperempat, mereka pun menuju ke rumah Raisa.
"Kamu langsung berangkat ke kantor gak apa-apa, Ayang. Aku udah berani ke sini sendiri. Lagian Rafi pasti udah berangkat kerja, kan?" Setelah beberapa kali ke rumah Raisa dengan diantar oleh Rian, kini saatnya Alea masuk bertandang ke rumah Raisa sendiri.
Apalagi sudah jam segini, Rian harus mengejar waktu untuk bisa sampai di kantor sebelum jam delapan pagi tepat.
"Iya, dia udah kerja pasti. Ya udah, aku tinggal gak apa-apa, ya?" Mereka berdua masih di dalam mobil. Tidak lamaa lagi, mereka akan sampai di rumah Raisa.
"Jangan bilang gitu dong." Meskipun Alea paham dengan apa yang dimaksud Rian, namun wanita itu tidak mau mendengar kata-kata itu lagi.
"Kenapa si, Sayang? Jangan bilang apa?" tanya Rian pada wanita itu karena memang ia tidak mengetahui letak kesalahannya di mana.
"Jangan bilang tinggalin aku. Jangan pernah bilang kaya gitu. Aku sedih banget dengernya. Ucapan adalah doa. Aku gak tau terjadi apa-apa sama kamu, sama kita," ucap Alea seraya mengerucutkan bibir. Kaca-kaca di matanya, sekuat tenaga ia bendung.
"Ohh itu, iya Sayang. Aku gak akan bilang kaya gitu lagi. Maaf ya, aku gak notice. Maaf pokoknya," ucap Rian dengan wajah yang cukup tegang karena harus mengejar waktu, ditanbah Alea yang mudah tersinggung seperti ini.
"Janji?" tanya Alea seraya mengeluarkan jari kelingkingnya.
"Janji," jawab rian dengan menautkan jari kelingking nya pada jari kelingking Alea. Itu sudah cukup menenangkan wanita itu.
Kemudian, mereka pun terpisah tepat di depan halaman rumah Raisa. Alea turun dari mobil, sementara Rian melanjutkan perjalanan menuju kantor tempat ia bekerja.
Tok tok tok.
Alea mengetuk pintu rumah Alea. Tidak lama kemudian, ada seseorang yang datang untuk membukakan pintu. Seseorang itu adalah laki-laki yang sudah berpenampilan rapi seperti hendak berangkat ke kantor.
"Alea?" sapa laki-laki itu pada Alea.
Sementara itu, Alea lebih memilih menundukkan pandangannya. Ia takut jika perasaannya kembali tumbuh walau hanya dengan memandang wajah Rafi.
Mengingat bahwa Alea sudah mencintai Rafi sejak lama. Maka untuk melupakannya, tidak mungkin benar-benar secepat ini. Ia waspada dan hati-hati pada hatinya sendiri.
"Alea ada?" tanya Alea langsung pada poinnya. Ia masih terus menundukkan kepala.
"Eh, Alea. Sini masuk," ucap Raisa yang kemudian menghampiri Alea yang terlihat menunduk sedari tadi. Wanita itu tengah menggendong bayi Rara.