Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 23


Pagi harinya, Alea bersiap-siap untuk bekerja ke kantor. Walaupun sakit di kakinya masih terasa, tapi tidak mengurungkan niat Alea untuk kembali bekerja. Terlebih, di tempat kerjanya itu kini ada seseorang yang istimewa. 


Ia akan membawa tongkat penopang kaki kanannya yang sedikit pincang karena masih sakit. Wanita itu sudah meminta Rafi untuk menjemput dirinya ke kosan, dan pria itu pun mengaminkan. Akan tetapi, hingga saat ini, pukul 07.00, Rafi belum kunjung tiba. 


Alea melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Lama banget, udah jam segini," keluh Alea seraya mengacak pinggang. Sesekali wanita itu memandang ke luar jendela, berharap pria yang sangat ia cintai, telah menampakkan batang hidungnya. 


"Ish, Honey," lirihnya dengan kesal. 


Tidak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil yang dapat ditangkap oleh Alea. Suara itu adalah suara klakson mobil Rafi. "Honey," celetuknya penuh antusias. 


Rafi memarkirkan mobilnya sejenak, kemudian manghampiri Alea untuk dipapah. Wanita itu belum terbiasa menggunakan tongkat penopang untuk kakinya. Walaupun sebenarnya, kakinya sudah tidak apa-apa jika Alea mampu berlatih untuk berjalan. 


Hanya saja, selain karena tidak tahan dengan rasa sakit, Alea juga ingin dimanja oleh kekasih gelapnya itu. 


"Hati-hati, Honey," ujar Alea dengan nada yang sedikit manja. 


"Iya, Sayang." Rafi memapah dengan telaten, hingga akhirnya masuk ke dalam mobil. Rafi pun menjalankan mobilnya menuju kantor yang sama dengan Alea. 


Di tempat lain, Rian baru saja memarkirkan mobilnya. Pria itu tak langsung turun dari kendaraan roda empat itu, melainkan seolah sedang menunggu seseorang. 


Seseorang yang ia nanti-nanti sedari kemarin. Seseorang yang ingin ia ketahui kabarnya, apalagi semenjak mendengar kabar bahwa seseorang itu kakinya terluka. 


Seseorang yang walaupun sudah mematahkan hatinya hingga hancur berantakan, pun seseorang yang telah meruntuhkan langit kebahagiaan sang adik. 


Seseorang yang dimaksud adalah Alea. Walaupun ia mengumpat berkali-kali, mengucap kata benci pada Alea. Tapi, hati Rian tidak bisa berbohong. Dalam hati kecilnya, pria itu masih sangat mencintai dan mendambakan Alea. 


Tidak lama kemudian, mata Rian tertuju pada sebuah mobil yang ia kenal. Kini lirikannya lebih tajam dari biasanya. Semakin tajam, dan kian tajam. Kemudian, ia justru memukul setir mobilnya. 


Pria itu sudah menyadari bahwa kedatangan Alea tak lain dan tak bukan adalah bersama Rafi. Lagi-lagi keping-keping hati Rian hancur kembali. Ia mendengus penuh kekesalan. 


"Sial mereka," umpat pria itu. Kedua alisnya kini sudah menyatu. Lirikannya pun semakin tajam. 


Saat Rafi dan Alea turu dari mobil, Rian seolah langsung mendekati mereka, tapi dengan pandangan sinis. Rafi sempat canggung, tapi Alea sama sekali tidak peduli. 


***


Senja sudah hendak menampakkan wajahnya. Waktu pulang pun telah tiba. Rian keluar dari kantor untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu tak langsung menjalankan mobilnya, melainkan sedang menunggu Rafi dan Alea, terlebih Rafi. 


Pria itu ingin Rafi pulang di waktu yang tepat, karena ada Raisa yang sudah pasti menunggu dirinya meski sikapnya tak sehangat dulu. 


Tapi, hingga menit ke tiga puluh Rian menunggu, mereka tidak kunjung keluar. Padahal mobil Rafi masih ada di parkiran. Membuat Rian menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan apa lagi yang dilakukan oleh Rafi dan Alea. 


"Pasti ada yang gak beres," tebak Rian seraya keluar dengan membanting pintu mobil. Ia pun kembali ke dalam kantor untuk memeriksa di mana Rafi dan Alea. 


Saat tiba di pintu ruangan Rafi, Rian mencoba mengetuk pintu sebanyak tiga kali, dengan suara ketukan yang cukup pelan. Tapi, tidak ada jawaban. Pria itu pun menunggu sejenak untuk memastikan. 


Rian sontak mengepalkan kedua tangan. Rasanya sangat ingin memukul pria bernama Rafi itu. Kini suara-suara mesra itu semakin jelas terdengar. Rian sudah bisa menyimpulkan apa yang sedang Rafi dan Alea lakukan. 


Pria itu pun bergegas melangkahkan kaki dari tempat itu. Langkah kakinya begitu cepat dengan pandangan matanya lurus yang begitu tajam. 


Perasaan Rian kini sudah tidak karuan. Di dalam pikirannya langsung terlintas Raisa. Ia jadi khawatir sang adik sedang tidak baik-baik saja. 


Dalam perjalanan ke rumah Raisa, Rian menjalankan mobilnya dengan sangat ugal-ugalan. Pikirannya berkecamuk. Perasannya bercampur aduk. 


Saat tiba di rumah Raisa, pria itu mendapati sang adik meringis kesakitan dengan tak henti memegang perut. Wanita itu tersungkur di lantai dengan berlumuran darah yang begitu banyak. Rian yang melihat pemandangan itu, sontak turut merasakan sakit yang sang adik rasakan. 


"Sa, kamu kenapa, Sa?" tanya Rian dengan terbata-bata karena terlalu panik dan gugup melihat darah yang begitu banyak. 


"B-ang, sak-sakit, Bang." Raisa sudah sangat lemah hingga untuk berkata-kata pun ia tidak sanggup. 


Di rumah itu tidak ada siapa-siapa karena sang pembantu satu-satunya sedang pergi belanja bulanan. Awalnya, Raisa yang akan berbelanja sendiri tapi dicegah oleh pembantunya itu karena khawatir. 


Baru ditinggal sang pembantu beberapa menit, Raisa sudah berlumuran darah sepanjang paha hingga kaki. 


Tanpa menunggu lama, Rian pun segera membawa sang adik ke rumah sakit menggunakan mobil. 


"Sabar ya, Sa," ucap Rian mencoba menenangkan sang adik. 


Raisa hanya bisa mnangis dan merintih kesakitan. "Duh, Abang. Aku gak kuat. Ini sakit banget."


Keluhan demi keluhan yang keluar dari mulut Raisa membuat Rian menyetir mobilnya dengan begitu kencang. Tak peduli apa yang ada di depannya, ia menekan klakson sana dan sini agar semuanya minggir untuk memberinya jalan. 


Sekitar sepuluh menit perjalanan, akhirnya mobil Rian tiba di rumah sakit terdekat. 


"Sus, tolong adik saya, Sus! Cepat, Sus!" pekik Rian memerintah perawat yang sedang berjaga di sana karena terlalu panik dan khawatir. 


Berbagai pikrian buruk ada dalam benaknya. Bagaimana jika nyawa anak Raisa tidak dapat diselamatkan? Atau bahkan sang adiklah yang tak bisa dipertahankan lagi? 


Air mata Rian sontak menitik seketika saat memikirkan semuanya. Apalagi, saat pria itu teringat suara Rafi dan Alea yang sedang begitu mesra. Sedangkan istri sah Rafi di sini merintih kesakitan, dan Rafi sama sekali tidak peduli. 


"Baik, Pak." Dua perawat yang berjaga langsung mengambil kasur pasien. Tubuh Raisa direbahkan di sana. Darahnya masih saja tumpah ke mana-mana. 


Rian mengekori dua perawat yang membawa Raisa menuju ruang UGD. Tidak lama kemudian, ada satu dokter perempuan yang turut masuk ruang UGD itu. Rian dicegah untuk masuk. Ia diminta untuk menunggu di depan pintu. 


Di tempat lain, di parkiran kantor, Rafi dan Alea sudah ada di dalam mobil. Satu kali lagi, dan yang terakhir untuk kali ini, Rafi mendaratkan bibirnya pada bibir Alea. 


Wanita itu tersenyum penuh bahagia karena sekarang sudah bisa bersama-sama selalu dengan pujaan hatinya.