
"Besok antar aku belanja ke mall, ya," pinta Raisa seraya menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Aku kan kerja," sahut Rafi, malas sekali jika harus mengantar sang istri berbelanja yang harus membuatnya menunggu sangat lama.
"Sore kok, Sayang. Bisa, kan?" tanya Raisa memastikan, dengan sedikit memaksa.
"Kalau nggak ada lembur, ya," timpal Rafi dengan santainya. Ia meneguk air putih yang telah dituangkan langsung oleh Raisa.
"Iya, Sayang."
***
Raja siang telah membakar apa-apa yang ada di bawahnya. Tidak seperti biasa, Alea kali ini memesan makanan dari luar. Nanti ada ojek yang mengirimkan makanan langsung ke ruang kerjanya.
"Kamu tumben gak ke ayam geprek," sapa Rian. Pria itu memang begitu memperhatikan Alea. "Ayo sama aku ke sana," ajaknya. Ia baru selesai dengan pekerjaannya. Kini hendak mencari makanan untuk disantap sebagai makan siang.
Wajah Alea nampak cemberut. Tidak cerah seperti biasanya. "Enggak ah. Aku udah pesan makanan," ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepala, dengan pandangan yang kosong.
Rian yang peka dengan suasana hati Alea pun mendekat. Ia duduk di depan meja temannya itu. "Hei, kamu kenapa?" tanya Rian dengan begitu tulusnya.
Alea menggelengkan kepalanya, seolah tidak mau bercerita tentang apa yang dirasakannya.
Tapi, Rian terus bertanya, memaksa Alea untuk bercerita. "Ceritalah, kamu kenapa? Kusut banget wajahnya. Biasanya gak begini," goda Rian untuk sekedar menghibur.
"Aku pengin sama Rafi terus," celetuknya tanpa memikirkan perasaan Rian sebagai kakak dari Raisa.
Rian lantas menelan ludah. Ia bingung harus bagaimana. "Sama Rafi terus gimana, Alea? Ya gak bisa. Dia udah punya istri." Pria itu mencoba menyadarkan Alea bahwa perbuatannya dengan Rafi itu sama sekali tidak ada benarnya.
"Kira-kira mungkin gak ya?" tanya Alea dengan pandangan yang masih seperti semula. "Rafi cerai sama Raisa."
"Hus! Justru kamu yang harusnya menjauh dari Rafi, Alea!" tegas Rian. Ia sudah muak.
Pandangan Alea berganti menuju Rian. "Aku udah terlanjur cinta sama Rafi, Rian," ucap Alea dengan nada menegaskan.
"Kayak gak ada laki-laki lain aja, sampai segitunya cinta sama laki orang," cibir Rian, pandangannya kini ke luar jendela.
"Kamu kan tau, aku udah suka sama Rafi jauh sebelum pernikahannya dengan Raisa." Alea membela dirinya. Sikapnya menunjukkan bahwa wanita itu benar-benar sudah dibutakan oleh cinta.
Sementata itu, Rian tidak bisa berkata apa-apa. Tidak lama setelahnya, pesanan makanan Alea sudah tiba. Wanita itu memesan mie ayam yang diberi toping bakso dan pangsit.
"Biar aku aja yang ambil," kata Rian saat Alea hendak berdiri mengambil pesanannya di depan pintu ruangan.
"Kamu mau minta punyaku, ya?" Alea curiga. Rian baik kepadanya pasti karena ada maunya.
"Enggak, aku mau minta hatimu aja," celetuk Rian seraya mengambilkan mie ayam Alea.
"Thank you, Big bro," ucap Alea saat menerima makanannya. "Kamu gak makan di luar?" tanya Alea seraya membuka bungkus mie ayam itu untuk dituangkan ke dalam mangkuk.
***
Waktu pulang telah tiba, seperti biasa Rian menawari Alea untuk pulang bersama. Tapi, lagi-lagi teman wanitanya itu menolak begitu saja.
Alea sedang menunggu seseorang, ia juga nampak sedang menghubungi seseorang. "Rafi?" sapanya dari telepon. "Kamu jadi jemput aku, kan?" tanya Alea meminta kepastian.
Wajah Alea nampak sumringah saat Rafi mengiyakan permintaannya. "Yes, asyiknyaa." Wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Dari kejauhan, Rian memastikan Alea sampai benar-benar dijemput oleh Rafi. Beberapa lama kemudian, Rafi datang menghampiri Alea. Mereka nampak sama-sama senang.
Setelah melihat pemandangan menyakitkan itu, Rian bergegas pulang. Tapi, sebelum itu, ia berencana untuk berkunjung ke rumah adiknya terlebih dahulu.
Ia tahu suami adiknya itu akan telat pulang. Sebagai seorang kakak, ia harus menghibur adiknya agar tidak sedih ataupun berpikir terlalu keras. Apalagi Raisa tengah mengandung.
Di mobil, Alea langsung menarik lengan Rafi untuk dipeluknya. "Honey, plis bawa aku ke mana dulu gitu, jangan langsung pulang." Alea merengek dengan begitu manja.
"Mau ke mana? Hotel lagi?" goda Rafi. Pria itu bersikap seolah belum mempunyai istri.
Alea menyilangkan kedua tangan. "Ish, Honey. Kamu maunya ke hotel terus," cibirnya. "Aku butuh hiburan. Ke mall, yuk," ajak Alea.
"Tapi, setelah itu ke hotel?" Rafi terus membujuk kekasih gelapnya agar mau menuruti kemauannya.
Alea nampak diam sejenak. "Ya udah deh, tapi ke mall dulu." Mereka pun bergegas menuju mall terdekat.
Sementara itu, Rian sudah tiba di rumah Raisa. Rumah itu cukup besar, namun tampak begitu sepi karena minim penghuni. Hanya ada Raisa dan satu pembantunya yang stand by di sana.
Rian pun mengetuk pintu. Tak lama kemudian, segera dibuka oleh pembantu di rumah itu. "Silakan masuk, Mas. Saya panggilkan Mbak Raisa dulu," ucap pembantu itu.
Setelah duduk cukup lama di ruang tamu, Raisa pun datang. "Abang, udah dari tadi?" sapanya. Wanita itu nampak sudah rapi, seperti ingin pergi.
"Udah lima jam yang lalu," balas Rian dengan nada candaan. "Oh ya, kamu kok udah rapi begini, mau ke mana?" tanya Rian penasaran dengan adiknya.
"Mau belanja. Tapi, nunggu Rafi dulu, sih." Raisa duduk di sebelah kakaknya.
"Kenapa udah dandan sekarang?" tanya Rian.
"Ya kan biar nanti kalau Rafi udah pulang bisa langsung berangkat lagi," jawab Raisa yang sudah penuh dengan persiapan.
"Ayo sama aku aja. Rafi pasti pulang telat," jelas Rian. Ia tahu kalau Rafi dan Alea sudah bertemu, pasti akan susah untuk berpisah. Waktu pertemuan mereka pasti lama.
"Abang kok tau?" tanya Raisa seraya menyipitkan matanya.
"Hadeh, Abang kan sahabat Rafi. Kamu gimana sih?" Rian mengingatkan bahwa dirinya dengan suami Raisa itu memang sahabat dekat. Mereka sudah paham betul satu sama lain seperti keluarga sendiri.
"Ya udah deh." Raisa pun mengiyakan ajakan sang kakak. Ia lantas meraih tas yang masih ada di dalam kamar.
Setelah siap, mereka pun menuju ke mall yang tak jauh dari rumah Raisa.
Tiba di mall, Raisa mengambil troli untuk mulai berbelanja. Wanita itu fokus dengan apa-apa yang akan dibelinya. Sedangkan sang kakak, nampak mengedarkan pandangan. Ia khawatir jika nanti ada Rafi dan Alea di sini. Ia harus menutupi semua itu dari Raisa. Ini demi kebaikan adiknya itu.
"Abang?" panggil Raisa, membuat Rian terkaget.
"Eh, iya? Apa?" sahut Rian.
"Mending yang ini atau yang ini?" tanya Raisa pada Rian saat memilih beras. Ia nampak menimbang nimbang sebelum akhirnya memutuskan.