
Mereka pun tiba di pantai setelah menghabiskan dua jam perjalanan menggunakan mobil Rian. Tepat pukul 08.00, mereka sudah sampai di sana. Sudah ada banyak orang yang ada di pantai itu karena memang meskipun masih pagi, tapi ini adalah akhir pekan, waktunya kebanyakan orang liburan.
"Mau es krim," pinta Alea saat melihat ada penjual es krim keliling yang lewat di dekatnya.
"Boleh. Tunggu sebentar ya, biar aku belikan ke sana," sahut Rian. Pria itu langsung berdiri dan mengarahkan langkahnya mendekat pada penjual es krim.
"Rasa stroberi, jangan lupa," pesan Alea seraya sedikit berteriak, khawatir Rian yang sudah berjarak beberapa meter darinya itu tidak mendengar ucapannya.
Rian menengok sejenak ke arah Alea. "Udah tau," jawabnya singkat. Pria itu sudha bertahun-tahun mengagumi Alea, bagaiamana mungkin laki-laki itu tidak tahu mengenai varian rasa kesukaan Alea? Tentu saja ia sudah mengetahui semuanya tentang Alea.
Wanita itu mengukir senyum dengan selebar-lebarnya. Ternyata Rian memang benar-benar mencintai dirinya, bahkan hal-hal kecil mengenai Alea saja Rian tahu.
Alea duduk di bawah payung besar yang disediakan. Namun, karena bosan, ia pun berjalan tepat di bibir pantai. Ia melangkahkan kaki menyusuri bibir pantai itu.
Setelah beberapa meter berjalan, ia menemukan sebuah pohon yang rindang. Ia duduk di bawah pohon itu, yang sebelumnya sudah ada seorang wanita duduk di sana terlebih dahulu.
Dari kejauhan, Alea nampak melihat Rian yang tengah mengedarkan pandangan. Alea tahu, sudah pasti pria itu mencari dirinya.
Ia pun melambaikak tangan ke arah Rian agar pria itu mengetahui bahwa Alea ada di bawah pohon yang rindang itu. Rian masih mengantre membeli es krim karena penjual es krim itu memang dikerubungi banyak pembeli.
Pria itu turut melambaikan tangan ke arah Alea, ia juga mengangguk paham jika wanita pujaannya kini berpindah tempat ke arah di bawah pohon.
Alea mengukir senyum sejenak, kemudian pandangannya ia arahkan pada hamparan laut yang begitu luas.
"Suaminya, Mbak?" tanya seorang wanita yang ada di sebelah Alea secara tiba-tiba.
Dengan spontan, Alea mengatakan iya. Padahal dirinya dan Rian belum memiliki status yang jelas. Suami, bukan. Pacar, juga bukan.
"Eh, bukan, hehe. Teman, Kak," ucap Alea membenarkan.
Jika perempuan di sebelahnya memanggil Alea dengan sebutan Mbak, Alea memilih memanggil wanita itu dengan sebutan Kak karena terlihat lebih muda darinya. Ia juga sebenarnya bingung mau memanggil apa. Alea tidak biasa berbicara dengan orang secara random di tempat umum.
Perempuan di sebelah Alea mengukir senyum seraya sedikit terkekeh. "Tapi cocok banget kalian kelihatannya. Mukanya juga mirip banget," tutur perempuan di sebelah Alea.
Mendengar perkataan perempuan itu, membuat Alea tersenyum-senyum sendiri. Apalagi sesuai yang ia tahu, kalau ada wanita dan laki-laki yang memiliki wajah mirip, mereka dianggap bisa berjodoh.
"Masa sih?" tanya Alea seolah tak percaya. "Kami cuma teman kok, tapi dia ngejar-ngejar saya terus udah dari lama." Tanpa Alea sadari, ia mulai membeberkan kisahnya pada orang tak dikenal.
"Mbak-nya belum suka dia, ya?" tanya perempuan itu. Bukan penasaran, melainkan hanya sekedar menimpali perkataan Alea yang mulai membagikan kisahnya itu.
Alea menundukkan pandangan. "Iya, masih proses sebenarnya. Dia udah suka aku dari lima tahun lalu, tapi aku mengabaikan dia terus selama ini. Baru akhir-akhir ini aja sih aku mulai nyaman sama dia," ujar Alea panjang lebar melanjutkan cerita tentang kisahnya.
"Terus?" tanya Alea seryaa mengernyitkan dahi. Ia juga penasaran dengan cerita wanita itu.
"Terus, entah kenapa, aku tiba-tiba jadi nyaman sama dia. Gak tau juga sih kenapa tiba-tiba bisa kaya gitu," jelas wanita itu, pandangannya tertuju pada hamparan laut yang luas. "Semoga kalian juga bisa kaya gitu deh," ucap wanita itu seraya mengarahkan pandangannya pada wajah Alea.
Alea mengukir senyum. "Yah, semoga saja. Karena aku benar-benar butuh dia sekarang." Alea memang sedikit terbuka pada wanita di sampingnya karena bagaimana pun juga selama ini ia membutuhkan sosok untuk diajak bercerita tapi ia tidak punya.
Maka sekarang, saat ada orang apalagi sesama wanita yang mau mendengar curahan hatinya, ia pun langsung terbuka dan merasa nyaman.
"Sebentar lagi juga kamu bakal bisa sayang sama dia kok," ucap wanita di sebelah Alea itu dengan penuh keyakinan.
"Semoga saja. Aku pengin dinikahi dia, karena aku sedang mengandung ini, Kak," lirih Alea seraya menunjukkan perutnya yang mulai buncit pada perempuan itu.
"Oh ya?" tanya perempuan itu yang sedikit tersentak mendengar pengakuan Alea.
Alea membalas dengan anggukan. "Iya. Tapi bukan dia bapak dari anak yang ada di perutku ini. Ada satu laki-laki yang dulu aku kejar-kejar banget. Dia udah beristri. Tapi saat sama aku, dia bilang mau menikahi aku. Ternyata saat anaknya lahir, dia langsung lupain aku. Bahkan semua akses juga diblok." Alea nampak sedih sekali saat mengingat masa-masa itu. Masa-masa saat ia ditipu oleh laki-laki yang sangat ia sayangi itu.
"Waduh, terus teman kamu yang beli es krim itu masih sayang sama kamu walau udah tahu kalau kamu mengandung anak dari orang lain?" tanya perempuan di samping Alea yang mulai antusias dengan kisah Alea.
Alea menganggukkan kepalanya. "Iya, dia baik banget. Dia masih sayang aku. Mau nerima aku dengan kondisiku seperti ini," lirih Alea seraya mengelus-elus perutnya.
"Berarti dia udah benar-benar cinta sama kamu. Jangan disia-siakan laki-laki kaya gitu," saran perempuan itu.
"Usia kandungan kamu udah berapa bulan?" tanya perempuan itu pada Alea.
"Udah empat bulan ini. Dia bilang mau nikahin aku pas bulan-bulan kemarin. Tapi aku belum siap, aku ngerasa belum sayang sama dia. Tapi kalau sekarang, aku udah nyaman banget sama dia sih," tutur Alea secara jujur dari lubuk hati paling dalam.
"Nah, kalau udah nyaman, langsung aja. Kasian anak kamu nanti lahir tanpa bapak," ucap perempuan itu secara gamblang.
"Aku juga mikir gitu. Cuma ya gimana, nanti aku mau coba nunggu sampai usia kandunganku lima bulan deh," sahut Alea. "Aku gak tau gimana jadinya kalau gak ada dia, kalau tiba-tiba dia menghilang. Aku gak tau nanti aku jadi apa."
"Itu berarti kamu sebenarnya udah sayang sama dia, Mbak. Tapi kamu belum sadar karena belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalu kamu. Sabar ya, semangat. Semoga secepatnya bisa menikah sama dia, dan dilancarkan semuanya sampai anak kamu lahir," ucap perempuan itu dengan panjang lebar.
Ia lalu berdiri. "Aku duluan ya, itu suami sama anakku udah selesai main air," pamit wanita itu.
Alea mengangguk. "Iya, makasih ya, Kak. Udah mau dengerin cerita aku."
"Sama-sama. Ingat pesanku," tutur wanita itu satu kali lagi sebelum akhirnya benar-benar pergi.