Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku

Menikahi Kekasih Gelap Sahabatku
Bab 60


Mobil yang dikendarai Rian tidak bisa terelak dari tabrakan dengan mobil yang melintas dari arah kanan. Mobil itu berhasil kabur agar tidak terseret dalam masalah ini. Mobil Rian yang tudak bisa dikendalikan pun akhirnya menabrak pohon besar. 


"Ayanggggg!!!" pekik Alea sekencang-kencangnya saat melihat sang suami terkena pecahan kaca. Kakinya pun nampak terjepit badan mobil yang ringsek. 


Rian meringis kesakitan. Darah sudah mengalir dari kepalanya yang terkena pecahan kaca. Pun kakinya yang terjepit, entah bagaimana nasib kakinya itu, ia merasa kaki bagian kananya terasa sakit sekali. 


Sementara itu, Rafi hanya terkena pecahan kaca dari arah kaca. Pecahan-pecahan kaca itu melukai wajah dan tangannya sehingga berdarah namun tak banyak. 


Untungnya, Alea duduk di sebelah kiri sehingga ia aman dan tidak kenapa-kenapa. Sesaat setelah melihat Alea dalam keadaan baik-baik saja, Rian masih mampu berbicara. "Sayang, kamu gak apa-apa, kan?"


"Aku gak apa-apa, Ayang. Yang kenapa-kenapa itu kamu. Sampai berdarah-darah gitu." Air mata Alea mulai menetes banyak sekali. 


"Rafii, ayo dong cepat tolong Rian. Kamu malah diam saja, gimana sih," omel Alea pada Rafi. Setelah sekian lama ia tidak berbicara pada laki-laki itu, akhirnya kini berbicara juga karena hal mendesak. 


"Sebentar, Alea. Aku juga kena pecahan kaca, biar aku singkirkan dulu sebentar. Aku juga sakit," tutur Rafi membela diri. Meskipun lukanya tidak seberapa, tapi jika dibiarkan lama juga akan sakit. 


Setelah itu, banyak orang yang datang untuk mengevakuasi mereka. Alea dikeluarkan terlebih dahulu dari mobl itu, apalagi wanita itu dalma keadaan hamil. 


Rafi keluar dengan sendirinya, ia juga turut membantu Rian. Ada cukup banyak orang yang berusaha menyelamatkan Rian. Kaki pria itu benar-benar terjepit badan mobil. 


Hingga saat Rian sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya,  ia pun tak sadarkan diri. Sesaat setelahnya, Alea langsung berteriak karena tidak sanggup jika melihat Rian kenapa-kenapa. 


"Ayangggg!!!" pekik Alea sekencang-kencangnya. Ibu-ibu yang ada di sana, mencoba menenangkan Alea. 


Setelah cukup lama dievakuasi, akhirnya Rian bisa keluar dari jepitan badan mobilnya. Nasih baik berpihak pada Rian, ada satu orang baik yang membawanya lekas ke rumah sakit terdekat. Alea dan Rafi juga ikut dibawa ke rumah sakit. 


***


Selang infus nampak tersambung pada tangan Rian. Kepalanya yang terkena pecahan kaca nampak sudah dijahit dan diperban. Kemudian kakinya, juga diperban. 


Alea tak henti menangis sejak kejadian sore tadi. Meski kini sudah larut malam, ia sama sekali tidak bisa tertidur. Rian sudah sadar beberapa menit yang lalu. Alea langsung mendekap sang suami itu. 


Sementara itu, Rafi  tengah duduk di luar ruangan. Ia berusaha menghubungi Raisa namun tidak diangkat. Ia paham bahwa sang istri kini sangat marah pada dirinya. Namun, ia juga harus mengetahui bahwa Rian sekarang ada di rumah sakit. 


Setelah berkali-kali menelepon Raisa namun tidak diangkat, akhirnya Rafi pun mengirim pesan pada sang istri sebelum nomornya diblokir. 


[Sayang, Rian kecelakaan. Dia dirawat di rumah sakit sekarang]


Raisa yang tengah menidurkan bayi Rara, setengah tak percaya membaca pesan dari Rafi. Dan saat melihat Raisa sudah membaca pesan darinya, Rafi pun langsung menelepon nomor sang istri itu. 


"Halo?" sapa Raisa sudah dengan nada yang begitu panik dan cemas. "Abang gimana, Rafi? Abang Rian gimana? Di rumah sakit?" 


Raisa tidak ada masalah dengan sang kakak. Meskipun kakaknya itu telah berbohong dan mengetahui semuanya, hingga membiarkan Raisa tidak tahu apa-apa, namun ia paham bahwa Rian dan dirinya adalah korban. 


"Iya. Di rumah sakit. Dia gak apa-apa. Cuma kakinya sakit. Kamu hati-hati ke sininya," ujar Rafi memberi tahu Raisa bahwa keadaan Rian baik-baik saja agar wanita itu bisa tetap fokus dalam menyetir mobil. 


Karena Raisa belum mengetahui ada di rumah sakit mana dan ruangan mana mereka berada, Rafi pun berinisiatif mengirimkan pesan pada Raisa untuk memberi tahu alamat dan nama rumah sakit itu. 


"Bi Eni, saya nitip baby Rara dulu ya. Saya harus ke rumah sakit sekarang," ucap Raisa dengan panik. Bayi Rara sudah tertidur pulas di dalam kasur kecilnya. 


"Siapa yang sakit, Non?" tanya bi Eni penasaran. 


"Bang Rian. Kecelakaan." Raisa menjawab singkat, kemudian ia meraih tas dan kunci mobil, lalu bergegas pergi. 


"Hati-hati, Non. Tetap fokus di jalan," pesan Bi Eni saat Raisa sudah keluar dari kamar tidur. 


Tiba di rumah sakit, Raisa langsung mendekat pada Rian. Air matanya sudah tumpah ke mana-mana. 


"Abang?" panggil Raisa seraya menghapus air matanya yang terus mengalir. Rafi dan Alea belum berani berbicara dengan Raisa karena paham bahwa mereka salah. 


"Abang aku, gimana keadaan kamu, Abang? Sakit banget? Kakinya diapakan tadi, Abang?" Raisa terus menghujani sang kakak dengan banyak pertanyaan. Ia sangat ingin tahu tentang keadaan sang kakak yang terbaring lemas itu. 


"Aku baik-baik aja, Raisa. Kaki aku gak kenapa-kenapa, kok," tutur Rian dengan suaranya yang serak. 


"Kakinya patah, Raisa," ujar Alea dengan bercucuran air mata. Meskipun ia tahu bahwa dirinya dibenci oleh wanita itu, namun ia berusaha mengajak Raisa berbicara. 


Hanya saja, Raisa masih tidak ingin mau berbicara dengan Rafi ataupun Alea. Ia tidak menyahuti perkataan Alea sama sekali. 


"Abanggg," rintih Raisa. Ia menangis sejadi-jadinya. 


"Kaki aku patah sedikit, Raisa. Bisa disambung kok. Aku gak kenapa-kenapa." Rian terus menenangkan hati sang adik. Ia membelai rambut kepala sang adik. 


"Udah, kamu jangan nangis," ucap Rian lagi. Ia juga menghapus air mata yang mengalir deras pada kedua pipi sang adik. 


"Abang jangan kenapa-kenapa, ya. Semua orang jahat, Abang. Cuma Abang yang selama ini benar-benar peduli dan baik sama aku," ucap Raiasa masih terus berderaian air mata. 


"Raisa, aku minta maaf, ya," ucap Alea dengan begitu ketakutan. 


Hubungan antara dirinya dan Raisa kemarin hingga siang tadi masih baik-baik saja. Hanya karena ia ceroboh membongkar rahasianya sendiri, membuat semuanya jadi berantakan seperti ini. 


Namun, lagi-lagi, Raisa tidak menggubris perkataan Alea sama sekali. 


"Raisa, aku minta maaf, ya," ucap Alea lagi. Ia memegang tangan Raisa saat ini. 


Namun, Rian yang mengetahui karakter sang adik pun memberi kode pada Alea agar sang istri itu diam terlebih dahulu. 


Alea pun paham dengan kode yang diberikan oleh Rian. Ia pun memilih menjauh dari ranjang pasien di mana Rian berbaring. 


Wanita itu masih terus menangis karena melihat sang suami yang terbaring lemah seperti itu. Ia seolah tidak bisa berbuat apa-apa.