Kesambet Cinta Sang Dokter

Kesambet Cinta Sang Dokter
Welcome to Korea


Danest dan dr.Tsabit kini sudah tiba di Bandara,pesawat mereka akan segera take off.Kedua pengantin baru juga sudah tiba,untung saja bisa tepat waktu.


Tsabit menggenggam tangan istrinya disepanjang perjalanan sambil melemparkan senyuman termanisnya kepada Danest.Kebahagiaan yang diimpikannya seakan ada didepan mata,Korea,ya dinegara ini digantungkannya harapan baru dalam babak baru pernikahan mereka.


Danest membalasnya dengan senyuman manis yang sulit diartikan,tentu saja senyuman itu terlihat malu-malu tapi mau.


Pesawat pun tiba di bandara Incheon Seoul setelah 7 jam penerbangan.Kedua pasangan bulan madu ini keluar dari kabin pesawat dengan bergandengan tangan menuruni tangga pesawat.


Ada perasaan lega karena perjalanan mereka aman dan selamat.Karena masa covid-19 mereka harus mematuhi protokol kesehatan yang ada.


Setelah semua urusan dibandara Incheon selesai,Mereka berempat berangkat menuju hotel masing-masing.Ternyata hotel yang mereka pilih tidaklah sama,memang hotel yang akan dituju Danest dan dokter Tsabit sudah penuh,sehingga Mita dan dokter Barry terpaksa harus memilih hotel yang lainnya.


Danest dan Mita berpelukan sebelum mereka berpisah hotel,dan naik kedalam taksi masing-masing.Besok mereka sudah janjian akan mengunjungi destinasi wisata yang sama.


Kini Danest dan suaminya sudah tiba di hotel yang akan mereka tinggali selama di Seoul.Hotel ini lumayan mewah,dengan fasilitas hotel bintang lima,masih ada sentuhan tradisional Koreanya sedikit.


Tsabit yang merasa letih karena perjalanan panjang dan juga capek karena habis dari acara langsung berpergian sudah ada diatas tempat tidur,sambil main game di handphonenya.


Sedangkan Danest baru saja keluar dari kamar mandi,Sekarang sudah pagi menjelang siang.Hari pertama di Korea yang indah,tapi Tsabit malas buat keluar kamar.Dia baru akan tidur.



"Sayang,apa kamu mau tidur sepagi ini?."tanya Danest.


"Kamu??,kenapa udah rapi.Apa ga capek baru tiba udah langsung mau jalan-jalan.Sorean aja kita jalan-jalannya.Bilang sama Mita dan dr.Barry."ujar Tsabit membujuk sang istri dengan senyum termanisnya.


"Iya sih,aku juga masih ngantuk,semalam tidur dipesawat kurang nyenyak rasanya.Apa kita istirahat aja dulu ya.Kalau begitu aku telpon Mita dulu buat kabarin dia."jawab Danest.


Baru saja Danest mau mengambil ponselnya untuk menghubungi Mita,eh Si Mita ternyata sudah menghubunginya duluan.


"Panjang umur nih anak."ujar Danest lirih.


"Iya hallo Mit,assalammu'alaikum."sahut Danest menjawab telepon dari Mita.


"Wa'alaikum salam Nest,Nest kita sorean aja ya baru jalan-jalan.Suami gue masih ngantuk nih.Jadi kita mau istirahat dulu."Jawab Mita diseberang telepon.


"Gue juga baru mau bilang itu sama elo,fix nanti sore aja kita baru jalan-jalan bareng ya."Kata Danest lagi.


"Oke deh,bagus kalau gitu."Sahut Mita.


telepon itu pun diakhiri.


Danest menaruh Ponselnya kembali kedalam tasnya.Sekilas dia melirik kearah suaminya yang sedang asyik main game.


"Hukh!apa jauh-jauh kesini hanya untuk main game online??."gerutu Danest dalam hatinya.


Mukanya cemberut sambil membenarkan kopernya dan menaruh sebagian baju dihanger dan menggantungnya dilemari yang tersedia.


Sementara Tsabit ternyata diam-diam juga melirik kearah Danest dan melihat sekilas kalau istrinya itu sedang sibuk dengan pakaiannya dilemari.


"Apa ini,kok malah sibuk ngurusin baju-bajunya sih?."bathin Tsabit.


Tak lama kemudian acara susun baju dilemari selesai,Danest mendekat kearah ranjang.dan duduk ditepi ranjang sebelah suaminya.


Tsabit menghentikan main gamenya,dia menoleh kearah istrinya itu.


"Sayang,sinian dikit."katanya sembari menarik lembut tangan Danest.


"Kenapa?."tanya Danest.


Tiba-tiba Tsabit menjatuhkan kepalanya dipangkuan Danest,membuat Danest sedikit tersentak karena terkejut dengan apa yang baru saja suaminya itu lakukan.


"bisakah kamu pijitkan kepalaku sayang?."pinta Tsabit.


"Oohh,tentu saja.Dengan senang hati."jawab Danest,perlahan dipijatkannya kepala suaminya itu dengan lembut.


Padahal itu hanyalah alasan dokter Tsabit saja,sebenarnya dia sedang mencari celah agar bisa semakin dekat dengan sang istri yang sulit sekali didekati.Dia bertekad akan mewujudkan impian papi dan juga mama papanya.


"Sayang.."Tsabit mulai bicara.


"Iya,ada apa?."tanya Danest.


"Apa boleh,kalau kita berdua memulai...program buat punya baby?."Tsabit dengan sedikit takut memberanikan diri bertanya kepada Danest.


"Eeeee,maksudnya???."Danest pura-pura bego.


"Kita kan sudah pergi sejauh ini,apa kamu ga mau membuat kenangan indah dikota Seoul ini?."tanya Tsabit lagi,sulit sekali membuat Danest langsung setuju.


"Apa ini saatnya?."tanya Danest dalam hati.


"Bagaimana sayang,apa kamu masih meragukan aku?."tanya Tsabit lagi.


"Enggak sama sekali,aku bahkan sangat yakin dan percaya sama kamu seratus persen."jawab Danest.


"Lalu kenapa kamu masih ragu?."tanya Tsabit ,membuat Danest semakin terdesak.


"Aku ga ragu sayang,aku juga ingin hubungan kita mengalami perkembangan.Aku juga ingin punya kehidupan baru sama kamu,punya baby yang lucu-lucu,dan hidup bahagia bersama."tanpa sadar,Tsabit menghentikan ocehan Danest dengan bibirnya.


Kini Danest sudah tak bisa mengelak lagi,ciuman yang panas sudah mendarat dibibirnya,membungkamnya dengan penuh cinta.


Apa yang diharapkan kedua pihak keluarga kini hampir tertunaikan,cinta menuntun keduanya kedalam surga dunia yang hanya mereka saja yang punya.Oh tidak,pasangan yang satunya juga sedang memadu kasih disalah satu sudut kota Seoul.


Perlahan tapi pasti,Danest merasakan sesuatu yang menghangatkan tubuhnya,benih-benih cinta dari suaminya itu kini sudah berada didalm rahimnya.


"Semoga saja kita langsung berhasil ya sayang."Bisik Tsabit ditelinga istrinya.


Danest hanya tersenyum,dan mengangguk perlahan.


"Terimakasih sayang,terimakasih sudah mencintaiku dan mempercayaiku."ujar tsabit lagi sambil mengecup kening istrinya itu lembut.


"Sama -sama sayang,terimakasih juga untukmu.Karena kamu sudah sangat sabar dengan sikapku selama ini.Maafkan aku membuat kamu menunggu selama ini."jawab Danest sambil malu-malu.


Selesai menunaikan kewajiban suami istri itu,keduanya tertidur lelah dibawah selimut.


Sampai terdengar suara bel pintu,beberapa kali.Danest yang lebih dulu terbangun,kaget melihat tubuh bugilnya yang satu selimut dengan tubuh suaminya untuk pertama kalinya.Tsabit pun ikut terbangun,keduanya pun saling menatap.Senyuman malu-malu Danest membuat Tsabit jadi bersemangat ingin memeluk istrinya kembali.


"Bangun yuk,udah siang nih.Kan kita mau jalan-jalan sama Mitha dan juga dokter Barry."ujar Danest.


"Males sayang,,kita tiduran aja yuk."ajak Tsabit males.


"Tapi kan,,."tiba-tiba bep berbunyi lagi.


"Tu kan,belnya berbunyi lagi.Siapa ya kira-kira???."tanya Danest.


"Nest,,,ini aku."ternyata Mitha.Suara Mitha terdengar dari balik pintu.


"Itu suara Mitha sayang,aduh kita harus segera mandi."Danest jadi kalang kabut,tanoa sadar dia lari kekamar mandi dalam keadaan bugil.Tsabit yang melihat pemandangan unik itu jadi tertawa terpingkal -pingkal.


"Santai aja sayang,kan pintunya dikunci."Ujar Tsabit sambil terus tertawa.Sudah kayak kena gerebek aja.


Tsabit mengirim pesan ke dokter Barry bahwa mereka tunggu di Loby aja,karena dirinya dan Danest mau bersiap-siap dulu.


"Wah sayang,lihat pesan ini,mereka ternyata belum siap-siap.Jangan-jangan mereka main beronde-ronde kali ya."Ujar dokter Barry sambil menunjukkan pesan diponselnya kepada Mitha.


"🤣🤣🤣Mungkin saja,jangan-jangan kita ganggu nih."ujar Mita.


"Ya udah,kalau gitu kita turun aja yuk.Kita tunggu di Loby aja."ajak dokter Barry ke istrinya itu.


"Oke sayang,yuks."Dengan cepat Mitha menarik lengan suaminya kearah lift.


👶👶👶👶👶👶👶


Bersambung😁😁😁