
Sungguh sangat menegangkan sekali,terjadi baku tembak yang sengit.Tsabit segera mendobrak pintu dihadapannya setelah anak buahnya sudah melumpuhkan semua berandal yang tersisa didepan mereka.
Pintu terbuka, dilihatnya Danest yang terikat dikursi.Tapi kondisinya tidak begitu baik,wajahnya lebam seperti habis dipukul.
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengarππ
"Wah,,, wah,,, wah, bagus sekali. ternyata anda bukan hanya seorang dokter yang handal,tetapi anda juga seorang petarung ulung."ujar Micko yang baru saja keluar dari persembunyiannya.
"Kau! "Tsabit terkejut melihat pria itu.
Pria yang pernah berniat tidak baik pada calon istrinya yang waktu itu belum ia kenal.
Micko menarik rambut dibagikan belakang kepala Danest dan menodongkan pistol kearah gadis itu.
"Kalau kau berani maju,maka aku akan menembakkan peluru ini ke kepala kekasihmu ini.Bukankah aku sudah bilang padamu aku akan membalasmu!! "jelas Micko lagi dengan nada ancaman.
"Ooo ya,sebaiknya kau menyerah saja,karena anak buahmu semuanya sudah kami lumpuhkan."jawab Tsabit.
"Mana mungkin kau bisa mengalahkan tiga puluh orang sekaligus,πππ",Micko tertawa terbahak-bahak.
Tsabit menjentikkan jarinya,beberapa anak buahnya memasuki ruangan itu dipimpin Vito.
Seketika mata Micko terbelalak π².
"Tidak mungkin,"Micko panik,dengan cepat dia menodongkan pistolnya kekepala Danest.
"Berani maju, kau akan kehilangan kekasihmu ini".ancam Micko.
Dengan sigap Tsabit berbaring dan meluncur menendang kaki Micko,Sehingga pistol ditangan Micko terlempar.
Micko tersentak dan tak dapat mengelak dari serangan Tsabit yang bertubi-tubi.Danest yang lemah dan terikat hanya bisa memanggil-manggil nama Tsabit.
"Tsabit... Tsabit,,, hati-hati".teriak Danest lirih.
Tsabit dan Micko terlibat pertarungan,tentu saja Tsabit yang akan menang karena dia memang menguasai bela diri taekwondo dan juga karate.Seperti perkelahian mereka yang terakhir, Micko berakhir dengan babak belur tersungkur tak berdaya.
"Danest, kau tidak apa-apa?? ".
Tsabit membuka kan ikatan tali yang melingkar ditubuh Danest.Dengan berderai air mata Danest memeluk Tsabit untuk pertama kalinya.
Tsabit pun membalas pelukan itu dengan sepenuh hati.
Perlahan mereka berdua tersadar dan melepaskan pelukan itu.
"Eee,Maaf aku kelepasan".kata Danest.
"Tidak masalah,apa kau terluka? "Tsabit memeriksa tangan dan tubuh Danest.
"Tidak,si Micko itu hanya menamparku."jawab Danest sambil memegang pipi kirinya yang memar.
"Ayo, kita segera keluar dari sini.Polisi akan segera datang."Tsabit membawa Danest keluar dari gudang itu diikuti Vito dan para anak buahnya.
"Vito,pastikan kau menyerahkan seluruh bajingan ini kepada polisi,amankan tempat ini, jangan sampai ada yang membebaskan mereka. "perintah Tsabit ke orang kepercayaan keluarganya itu.
"Siap Tuan muda".jawab Vito seraya menunduk.
Tsabit menuntun Danest kemobilnya dan membawanya pergi.
Danest hanya mengangguk.
"Maafkan aku ya,aku tidak bisa menjagamu dengan baik.Gara-gara aku kamu dalam masalah".Tsabit merasa bersalah.
"Semua ini bukan salahmu,ini ulah si Micko biadab itu".jawab Danest sambil tersenyum.
Mobil mereka pun tiba dirumah sakit.Tsabit segera menggendong Danest keruangannya. Dia mengobati wajah tunangannya itu.
Para staf dirumah sakit bengong melihat dr. Sabit yang menggendong tunangannya dengan muka keduanya yang lebam-lebam.
"Kau juga terluka,sini biar aku yang akan mengobati lukamu."Danest mengambil kapas dan alkohol.Dibersihkannya luka dipelipis dan pinggir bibir Tsabit.dan dioleskannya obat merah.
"Maafkan aku ya,sekali lagi maafkan aku".kata Tsabit seraya mengelus pipi Danest yang menyemburkan warna merah merona.
"Sudahlah,justru aku yang harusnya berterimakasih padamu.Untuk kesekian kalinya kamu sudah menyelamatkan aku. "jawab Danest.
"Itu sudah kewajibanku Nest,Apa kau lupa kalau aku ini calon suamimu.Lagipula aku juga tidak mau kamu kenapa-napa."jawab Tsabit.
Mata mereka saling bertemu,dan senyum saling terlempar dari kedua bibir mereka.
"Tunggulah setengah jam lagi,baru aku akan mengantarmu pulang.Karena kita harus menunggu lebamnya berkurang dulu.Agar Papi tidak khawatir."pinta Tsabit .
"Baiklah, mana baiknya aja".Danest hanya menurut saja.
Sementara itu, Micko dan semua orang bayarannya sudah dibawa kekantor polisi.Dan sebagian kerumah sakit dengan pengawasan ketat dari pihak kepolisian.
"***drrrrrrtttttt".ponsel Tsabit bergetar.
"Ya Assalamualaikum ".Tsabit menjawab panggilan itu.
"Tuan muda, semua sudah beres.Mereka sudah ditangani oleh polisi. "jawab Micko.
"Ya sudah, terimakasih.Kau bisa kembali."jawab Tsabit tenang***.
"Ada apa? "Danest penasaran.
"ooo itu,tadi itu Vito orang kepercayaanku.Dia hanya melaporkan tentang Si Micko dan anak buahnya yang sudah dipenjarakan dikantor polisi."Jelas Tsabit.
"Baguslah kalau begitu, tadi aku sangat takut.
"Danest yang teringat lagi peristiwa tadi meneteskan air mata.
Melihat itu Tsabit membawa kepala Danest kebahunya untuk menenangkannya.
"Jangan khawatir, aku akan selalu menjagamu. "Tsabit mencoba menenangkan
Danest.
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku."ujar Danest.
" Sama-sama, itu sudah kewajibanku."Tsabit kembali mengelus pundak Danest.
Ini kali kedua mereka begitu dekat setelah bertunangan.