
Jauh dilubuk hatinya Tuan Martadinata sebenarnya tidak ingin hal seperti ini terjadi didalam keluarganya,tapi sebagai kepala keluarga dia harus bersikap tegas dan bijak dalam mengambil keputusan.
Tak perduli betapa beratnya keputusan itu,dia harus memberi pelajaran yang setimpal dengan apa yang sudah Kenzo lakukan selama ini.
Tuan Martadinata juga meminta maaf kepada menantunya dr.Tsabit,karena dialah yang meminta dr.Tsabit untuk menikah dengan Danest.Terlebih lagi dia sampai berulang kali memohon agar dr.Tsabit bersedia menikahi putrinya itu.
Walaupun pada akhirnya Dokter Tsabit dan keluarganya sendiri menyetujui dan ingin menjalin hubungan antara kedua keluarga,tetap saja rasa tidak enak hati kepada menantu dan juga besannya ini membuatnya merasa harus meminta maaf.
"Papi bicara apa Pi,Papi ga salah apa-apa.Saya menikahi Danest karena memang atas keinginan saya sendiri,tidak ada yang memaksa saya.Papi ga perlu meminta maaf."Tsabit ingin membesarkan hati mertuanya itu.
Tsabit tahu,pasti permasalahan yang terjadi ini tentunya membuat pukulan telak didada ayah mertuanya itu.Bukan hal yang mudah pastinya melihat keluarga sendiri masuk kedalam penjara.Apalagi ini konflik intern didalam rumah tangganya,antara adik dan menantunya.Dia harus menentukan pilihan dijalan yang benar,ya...kebenaran memang harus ditegakkan.
Tsabit tak ingin mertuanya itu larut dalam kesedihan,dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan topik mengenai jantung.
Sebisa mungkin Tsabit membuat ayah mertuanya itu tersenyum,dan bahkan tertawa.Dia memperlihatkan metode-metode senam jantung yang baru diunduhnya dari mbah youtube.
Danest yang sedari tadi memperhatikan tingkah konyol suaminya itu tersenyum sumringah,walaupun dia juga kasihan dengan Om Kenzo,tapi dia bisa apa.
Semua bukti dan saksi sudah ada dan Kenzo harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan.
Danest juga ga tahu harus bagaimana kalau tadi Tsabit sampai tertembak,mungkin dia ga akan sanggup melihat orang yang sangat ia cintai terluka atau bahkan sampai kehilangan nyawanya.
Tsabit berhasil membuat mertuanya itu melupakan sedikit permasalahan yang baru saja terjadi,setelah membantu Papi minum obat,dan Papi mertuanya itu kini sudah tertidur,dia mengajak Danest kembali kekamar mereka.
Keduanya pun membersihkan diri dan sholat isya' berjamaah seperti biasanya.
"Apa kamu sedih sayang,melihat paman Kenzo dibawa polisi?."tanya Tsabit setelah Danest menyalamin tangannya sehabis sholat dan berdo'a.
"Tentu saja aku sedih,biar bagaimana pun dia kan pamanku."Jawab Danest sambil tertunduk.
"Besok kamu bisa mengunjunginya."Kata Tsabit .
"Tapi apakah aman jika aku kesana?."tanya Danest lagi.
"Kamu menyamar saja,gimana kalo kamu memakai hijab kesananya.Dengan begitu awak media pasti terkecoh.Dan sebaiknya kamu naik taxi saja,agar terlihat seperti orang lain."saran Tsabit.
"Pasti lucu deh,aku ga biasa.Meskipun selama ini aku selalu mengerjakan sholat,tapi aku belum kepikiran buat berhijab."Danest jadi kurang percaya diri.
"Aku ga memaksa kok,dicoba aja dulu.Mungkin awalnya hanya untuk menjenguk paman Kenzo,bisa saja kan kamu jadi merasa nyaman dan ingin terus mengenakannya."Tsabit memberi pencerahan kepada istrinya itu.
"Baiklah,aku akan mencobanya."Kata Danest dengan mantap.
"Kalau begitu sebaiknya kita tidur saja,ini sudah larut."ajak Tsabit.
"Oke."Danest pun membereskan mukenah dan sajadah yang mereka gunakan dan kembali menuju tempat tidur.
Keduanya memang memejamkan mata,tapi masing-masing sedang memikirkan hal yang berbeda.
Dalam fikiran Tsabit:
"Nest,apa kamu tahu.Aku sangat menginginkan kita untuk segera memiliki anak.Mungkin dengan adanya buah hati diantara kita hubungan kita akan lebih hangat lagi dan tak terpisahkan.Dengan adanya anak kita,tak akan ada lagi orang-orang yang menginginkan kita berpisah."
Sedangkan fikiran Danest:
"Bit,apa kamu tahu.Aku ga enak hati dengan Om Ken,bagaimana kalau nanti dia jadi makin dendam dengan kamu sayang.Aku ga akan sanggup kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama kamu dikemudian hari.Aku takut Om Kenzo jadi lebih gila lagi kalau dia sampai bebas.Aku sangat mengenal sifat aslinya sekarang.Dia sangat ambisius."
"Eh...em,aku belum bisa tidur."jawab Danest.
"Apa kamu masih memikirkan Om Kenzo?."Tanya Tsabit agak cemberut.
"Kok kamu tahu?."
"Ya tahu lah,kamu kan selalu kefikiran kalau ada masalah apapun.Gimana kalau kita melakukan kegiatan yang bisa membuat kita melupakan masalah yang membuat setres itu?." ajak Tsabit penuh tanda tanya.
"?????"Danest ga ngerti.π€π
"Mau tau ga caranya?."Tsabit kembali tersenyum kearah Danest,senyuman menggoda.
"Apa- an sih,aku ga ngerti deh."Danest pun jadi ikut senyum-senyum.
"Sayang,gimana...kalau...kita...."Tsabit memberi kode ke Danest dengan mengetuk-ngetukkan kedua jari telunjuknya.
"Maksudnya????."Danest pura-pura bego.
"Masa kamu ga paham juga sih,gimana kalau langsung kupraktekin aja."Tsabit mulai gombal.Entah naluri dari mana yang mengajarinya,tiba-tiba dia bisa mengatakan hal seperti itu.
"Tapi....."Danest masih belum yakin akan meng iyakan ajakan Tsabit kali ini.
"Apa kamu masih belum yakin padaku?."tanya Tsabit.π€¨
"Bukan begitu,sebenarnya aku ingin kamu jujur soal perasaan kamu sama Sonya.Kelihatannya kalian kembali dekat,kamu bahkan membiarkan dia memelukmu tadi pagi dirumah sakit."Kata Danest,akhirnya dia berani menyampaikan unek-unek dihatinya.
"Ooo,itu.Sayang,kamu tahu kan aku ini seorang Dokter.Aku ga ada apa-apa sama Sonya,bahkan suka juga tidak.Aku sebenarnya malah merasa sangat terganggu kalau dia ada didekatku."jawab Tsabit dengan yakin seyakin yakinnya.
"Benarkah,apa kamu bisa memegang kata-katamu sayang?."Danest memajukan kelingkingnya minta persetujuan dari suaminya itu.
"Tentu sayang,kamu bisa pegang omonganku."jawab Tsabit ,kali ini disertai ciuman di kening dan kedua pipi Danest.Ketika ciuman itu akan mendarat dibibir Danest,Tsabit berhenti sejenak dan menatap mata istrinya itu seraya minta persetujuan dari yang punya.
Melihat Danest yang hanya terdiam dan membisu,Tsabit pun langsung memagutkan kedua bibir mereka.
Tidak ada penolakan dari Danest,keduanya terhanyut dalam ciuman yang begitu dalam.Sehingga malam yang dingin menjadi malam yang hangat bagi keduanya.
"Apa aku boleh..?."Tsabit kembali bertanya kepada Danest,meminta izin untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Danest seolah disihir oleh cinta suaminya itu,dia tak kuasa berkata apa-apa.Lama Tsabit menunggu persetujuan dari Danest namun Danest hanya menatapnya dengan tatapan mendamba.
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi sayang,maafkan aku."kata Tsabit lirih.
Tsabit pun mulai menikmati inci demi inci tubuh istrinya itu.Tanpa Sadar Danest pun mendesah mereguk kenikmatan malam pertamanya,begitu juga dengan Tsabit.Keduanya sama-sama baru pertama kali dalam hal ini,nalurilah yang membimbing mereka sampai kepuncak surga dunia.
Sampai keduanya tertidur karena kelelahan dibawah satu selimut dengan tanpa sehelai benang.πππ€©.
Bayangin aja dah sendiri yaππentar kalau thor tulis secara detail ga dilolosin lagi sama admin.πππ€£
ππππππππ
Berasambung ya beb...π